Share

"Wabah Tari" Eropa, yang Membuat Orang-Orang Menari hingga Mati

Tim Okezone, Okezone · Jum'at 01 Juli 2022 05:04 WIB
https: img.okezone.com content 2022 06 30 18 2621373 wabah-tari-eropa-yang-membuat-orang-orang-menari-hingga-mati-CuMFUXqe3K.JPG Ilustrasi/ Foto: Freepik

JAKARTA - Tari pernah menjadi "wabah" pada 1518. Wabah tari ini menimpa warga kota Strasbourg, Prancis. Pasalnya, warga kota ini dilaporkan menari tak terkendali selama berhari-hari hingga berujung fatal. Hal ini suatu peristiwa ganjil yang lantas memukau para seniman dan penulis, tulis Rosalind Jana.

Seperti kisah klasik, penyakit dan hal-hal buruh selalu ditandai dengan munculnya fenomena alam.

 BACA JUGA:Balenciaga Jual Celana Dalam Nenek Seharga Rp3 Juta, Tertarik Beli?

Sebuah bintang melesat melintasi langit. Sawah kebanjiran. Udara dingin ekstrem diikuti udara panas ekstrem, yang kemudian, secara tak terhindarkan, diikuti persoalan kelaparan akut.

Suatu hari, bulan Juli 1518, seorang perempuan bernama Frau Troffea melangkah ke alun-alun yang ada di Strasbourg dan mulai menari. Awalnya, orang-orang di sekitarnya hanya menonton.

Namun, rasa ingin tahu mulai terusik oleh tampilan publik yang tak biasa ini. Mereka menyaksikan seorang perempuan tidak mau dan tidak bisa berhenti menari.

Dia menari selama hampir sepekan, terkadang terjerembab lantaran kelelahan, namun tidak gentar oleh peringatan yang disodorkan oleh tubuh, seperti: sakit, lapar, malu.

Tidak ada musik yang mengiringinya, tubuhnya terus bergerak. Orang-orang yang semula menonton tanpa disadari ikut bergabung, menari bersamanya.

Seperti tersirap, mereka tak bisa menjelaskan apa yang terjadi pada diri mereka sendiri. Mereka menari seolah dipaksa, dengan kaki berlumuran darah, dan tungkai bergetar.

Orang-orang yang menari ini bahkan sampai dipaksa berhenti. Jika tidak, mereka akan terus menari hingga tubuhnya lelah, lalu ambruk, dan meninggal dunia.

Dilansir dari BBC, dalam 400 tahun atau lebih sejak peristiwa aneh ini terjadi, banyak teori yang sudah diajukan untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.

 BACA JUGA:Berkas Kasus Quotex Doni Salmanan Dinyatakan Lengkap

Tidak lama berselang, dua karya besar yang mengangkat tema seputar wabah tari sedang dirilis, yakni: album Dance Fever karya bintang pop Florence + The Machine, dan The Dance Tree karya penulis terlaris Kiran Millwood Hargrave.

Keduanya menggunakan ide choreomania (sebagaimana fenomena tersebut kemudian dijuluki) untuk menciptakan karya mendalam, merenungkan tentang kekangan dan kegairahan.

Walau menjadi contoh paling terkenal untuk saat ini, Strasbourg bukanlah satu-satunya "wabah tari" yang melanda Eropa selama abad pertengahan dan awal era modern.

Banyak contoh tarian lainnya dianggap tak terkendali atau mengancam yang tercatat di Jerman, Prancis, dan wilayah lain dari Kekaisaran Romawi.

Pada abad-abad sebelumnya, peristiwa seperti ini ditafsirkan sebagai hukuman ilahi atau sebuah peristiwa kerasukan iblis, yang kemudian diatasi dengan solusi keagamaan seperti prosesi, misa, atau intervensi langsung dari para pendeta.

 BACA JUGA:Berkas Kasus Quotex Doni Salmanan Dinyatakan Lengkap

Dua dekade sebelum musim panas 1518, seorang tokoh agama di Strasbourg bernama Sebastian Brant menulis dalam alegori satirnya The Ship of Fools "bahwa tarian dan dosa merupakan satu kesatuan," menyalahkan Setan atas semua "tarian memusingkan yang ditarikan dengan riang".

Beberapa tahun setelah insiden di Strasbourg, seorang tabib bernama Paracelsus memulai serangkaian risalah tentang choreomania, termasuk The Diseases That Deprive Man of His Reason, seperti Tarian St. Vitus, Falling Sickness, Melankolia, Ketidakwarasan, dan Cara Perawatan yang Benar.

Paracelsus, yang tersohor karena karya perintisnya di bidang kimia dalam kedokteran, berpendapat bahwa fenomena ini mungkin lebih bersifat duniawi ketimbang ilahi.

Ia menyarankan bahwa "laughing veins" seseorang dapat memicu "rasa geli" yang naik dari anggota badan ke kepala mereka, mengaburkan penilaian dan memicu gerakan ekstrem sampai dia tenang.

 BACA JUGA:Seruni Purnamasari Alami Depresi Ringan Akibat KDRT, Ronal Surapradja Ogah Komentar

Akhirnya, cerita ganjil di musim panas itu hanyalah cerita. Beberapa bentuk tarian massal didokumentasikan dalam setidaknya enam kronik kontemporer yang berbeda dan dilakukan selama berminggu-minggu.

Frau Troffea disebut-sebut sebagai penggagas beberapa di antaranya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini