JAKARTA - Pemain Liverpool, Mohamed Salah, dinilai mampu melunturkan Islamofobia yang diidap oleh warga Inggris dan Eropa. Hal ini diungkapkan oleh dosen politik internasional dari Universitas Anglia Ruskin, Dr Solava Ibrahim.
Menurut dosen berdarah Mesir-Inggris itu, ada "persepsi dominan" mengenai Muslim yang berkaitan dengan "kekerasan, serangan teroris, atau penindasan terhadap perempuan".
BACA JUGA:Produksi Meningkat, Sri Mulyani Kenakan Tarif Cukai Rokok Kemenyan
Solava Ibrahim mengatakan ada "momen yang luar biasa" ketika para penggemar Liverpool mulai bersorak bahwa Salah adalah "hadiah dari Allah" dan saat itu yang ramai di media sosial adalah tagar "kalau dia mencetak beberapa gol lagi, maka saya juga akan menjadi Muslim".
"Itu tidak hanya menunjukkan penerimaan, tetapi juga posisi (Salah) sebagai panutan, tidak hanya bagi orang-orang Arab, Timur Tengah, dan Afrika, tetapi juga bagi anak-anak muda Inggris," katanya seperti dilansir dari BBC, Rabu (6/7/2022).
Pada musim pertamanya setelah pindah dari AS Roma pada 2017, Salah menjadi pencetak gol terbanyak di Liga Primer Inggris. Dia kemudian berkontribusi besar dalam keberhasilan Liverpool menjadi juara Liga Inggris dan juara Eropa.
Kepribadian dan perilakunya di luar lapangan telah mengubah persepsi terkait kesan elit pesepakbola sekaligus mendobrak batasan budaya.
Dia menyumbang untuk proyek pendidikan, perawatan kesehatan, dan hak-hak hewan, sehingga seorang mantan komentator sepak bola menyebut Salah "tidak pernah melupakan akarnya".
Kebiasaannya bersujud setelah mencetak gol telah menggema secara global, bahkan di antara orang-orang yang bukan penggemar sepak bola.
Pada 2015, dua penggemar Liverpool yang salat di Stadion Anfield dihujat "memalukan" bagi seorang pengguna Twitter, yang memicu kritik luas.
BACA JUGA:Wali Kota Irsan Efendi Siap Sukseskan Bonas Cup 2022
Menurut Najib Al-Hakimi, seorang koordinator di Liverpool Arabic Centre, dia senang mendengar nyanyian "hadiah dari Allah" untuk Salah, "karena selama ini orang-orang memandang Muslim seolah mereka dungu dan teroris".
"Tetapi dengan sikapnya, Salah mengubah itu semua," kata Al-Hakimi.
Sejak saat itu, dia menyaksikan lebih banyak orang-orang dari komunitas Arab di kota itu berkunjung ke Anfield selama beberapa tahun terakhir.
"Sebagian besar anak-anak muda itu menggunakan jersey Salah dan memuji betapa hebatnya dia."
Pelatih Liverpool, Jurgen Klopp sebelumnya juga telah menceritakan bagaimana timnya menyesuaikan waktu agar Salah bisa menjalankan ritual keagamaan sebagai bagian dari persiapannya menuju pertandingan.
Kapten Liverpool, Jordan Henderson bahkan mengatakan bahwa tim memilih sampanye non-alkohol saat perayaan trofi.
"Di dalam ruang ganti tidak ada (intoleransi), jadi mengapa hal serupa tidak bisa terjadi di luar sana?"
Salah juga disambut bak pahlawan ketika dia berada di luar lapangan di area Liverpool.
Seorang anak-anak laki-laki yang sangat menggemari Salah bahkan menabrak tiang lampu jalan ketika dia berupaya mengejar pesepakbola itu pada 2019 lalu.
Hidung anak laki-laki bernama Lous Fowler patah, tetapi dia mengaku rasa sakitnya hilang seketika ketika Salah berbalik untuk mengecek keadaannya.
Menurut Dr Ibrahim, insiden itu telah menunjukkan sisi kemanusiaan dan betapa membuminya Salah.
"Dia jauh lebih terkenal dibandingkan banyak pemenang hadiah Nobel, tetapi dia tidak dipandang sebagai seseorang yang berada di tataran elit atau di atas awan, saya rasa itu lah mengapa pesan-pesannya dapat menyentuh," kata dia.