Share

Peninggalan Peradaban Kuno di Arab Saudi, 6000 Tahun Sebelum Islam

Rahman Asmardika, Okezone · Kamis 28 Juli 2022 03:05 WIB
https: img.okezone.com content 2022 07 27 18 2637204 peninggalan-peradaban-kuno-di-arab-saudi-6000-tahun-sebelum-islam-d62UOYWpQt.jpg Situs Al Ula. (Foto: Komisi Kerajaan untuk Al Ula)

TERSEBAR di lanskap terpencil yang luas di barat laut Arab Saudi, ada peninggalan arkeologi berusia ribuan tahun yang dapat mengubah pemahaman kita tentang masa prasejarah. Wartawan BBC Demi Perera melaporkan kunjungannya ke situs tersebut.

Mobil itu meluncur mulus di sepanjang jalan raya yang terawat rapi di Al Ula, sebuah wilayah di barat laut Arab Saudi. Sopir saya tiba-tiba membelok dari jalan. "Belokannya kelewatan," katanya.

BACA JUGA: Arkeolog Temukan 400 Lebih Kuburan Muslim Kuno di Spanyol

Saya melihat keluar jendela dengan bingung karena saya tidak bisa melihat ada tikungan.

"Di sini," serunya, saat mobil tersentak ketika melintasi bebatuan basal ke arah jalan setapak yang nyaris tak terlihat, menuju padang pasir.

Kami melaju di lanskap yang luas dan datar. Langit biru cerah menyelimuti di semua sisi, dengan sedikit awan putih menggantung rendah. Setelah beberapa menit, kami berhenti di sekitar tumpukan batu.

Saya turun dari mobil, menunggu untuk bertemu Jane McMahon, bagian dari tim arkeolog dari University of Western Australia yang telah bekerja di Al Ula sejak 2018.

BACA JUGA: Arkeolog Temukan 4.500 Jenazah Berusia Lebih dari 1.000 Tahun

Di sekeliling saya ada dataran gersang dengan bebatuan abu-abu-hitam yang bertabur sedikit pasir merah muda. Rasanya seperti sebuah dunia lain: tidak ada satu pohon atau sehelai rumput pun, dan keheningan udara yang hanya sesekali disela oleh embusan angin pahit yang menusuk tulang.

Saya datang ke sini karena penemuan baru-baru ini di Al Ula menjelaskan periode sejarah yang menarik di Arab Saudi.

Negara ini baru dibuka untuk penelitian internasional beberapa tahun yang lalu dan untuk turis pada 2019. Banyak situs kunonya baru dipelajari untuk pertama kalinya. Sementara sejarawan akrab dengan reruntuhan kota Hegra dan Dadan berusia 2.000 tahun dan perannya pada Rute Dupa (makam dan monumen Hegra adalah Situs Warisan Dunia Unesco), tidak banyak yang diketahui tentang peradaban sebelumnya. Sampai adanya penemuan di Al Ula.

Peninggalan arkeologis berusia ribuan tahun yang dapat mengubah pemahaman kita tentang masa prasejarah ditemukan membentang di lanskap Al Ula yang luas dan terpencil. Penelitian McMahon dan rekan-rekannya membantu menguak kebenaran beberapa monumen batu paling awal dalam sejarah dunia, yang lebih tua dari Stonehenge dan piramida paling awal di Giza.

Ketika McMahon tiba, dia menjelaskan bahwa lingkaran batu di sebelah saya adalah sisa-sisa rumah yang ditempati pada periode Neolitik (dari 6000 hingga 4500 SM), dan bahwa daerah ini pernah dipenuhi dengan pemukiman yang berkembang pesat. Sampai saat ini, kepercayaan yang berlaku adalah bahwa hanya ada sedikit aktivitas manusia di wilayah ini sampai Zaman Perunggu setelah 4000 SM.

Tetapi McMahon dan rekan-rekannya menemukan cerita yang sangat berbeda: bahwa Arab Saudi pada masa neolitik adalah lanskap kompleks yang dinamis, padat penduduk, dan tersebar di wilayah yang luas.

Di sekitar saya ada lebih dari 30 tempat tinggal dan makam dan itu hanya sebagian kecil dari sisa-sisanya. Saya mencoba membayangkan tempat ini ribuan tahun yang lalu: hijau, subur, penuh dengan orang-orang yang beraktivitas riuh rendah, menggembalakan kambing dan bicara satu sama lain.

"Iklim dan bentang alam Arab Saudi yang lembab berarti sebagian besar peninggalan arkeologi dari 5.000 hingga 8.000 tahun yang lalu terpelihara dengan baik di permukaan. Jadi apa yang Anda lihat sekarang adalah sebagaimana dulunya," kata McMahon sebagaimana dilansir dari BBC Indonesia.

Dia menjelaskan bahwa memahami lebih banyak tentang kehidupan orang-orang awal ini bisa menjelaskan bagaimana pemukiman Hegra dan Dedan yang besar dan padat berkembang. Juga, menjelaskan perubahan budaya dan teknologi di wilayah tersebut, seperti pertanian irigasi, pengerjaan logam, dan teks tertulis, yang terjadi pada milenium berikutnya.

"Perubahan budaya yang terjadi setelah Neolitikum sangat besar, tetapi kita tidak tahu banyak bagaimana perubahan itu terjadi," katanya.

Namun, bahkan di tangan para arkeolog berpengalaman seperti itu, ada satu penemuan Al Ula yang masih tidak dapat dijelaskan.

Tersebar di area seluas 300.000 kilometer persegi dan dibangun dengan cukup konsisten, terdapat 1.600 struktur batu persegi panjang yang monumental dari periode Neolitik. Batu itu tersusun membentuk sebuah area kotak panjang. Awalnya penemuan ini dinamakan "gerbang" karena penampakannya dilihat dari udara. Namun struktur ini kemudian berganti nama menjadi "mustatil", yang diterjemahkan menjadi "persegi panjang" dalam bahasa Arab.

Situs arkeologi Al Ula. (Foto: Royal Comission of Al Ula)

"Rasanya bagai membuat pikiran berlomba mengetahui ada struktur sebesar lima hingga enam lapangan sepak bola, terbuat dari ribuan ton batu, yang tidak hanya mencakup wilayah geografis yang luas tetapi juga berusia 7.000 tahun," kata Hugh Thomas, co-direktur Arkeologi Udara di Proyek Kerajaan Arab Saudi (AAKSAU).

Dia telah bekerja bersama McMahon selama dua tahun terakhir melakukan survei arkeologi udara dan penggalian yang ditargetkan untuk memahami kenapa mustatil dibuat. Mustatil memang mengesankan, dan satu-satunya cara nyata untuk melihat betapa besar ukurannya adalah dari udara. Ketika saya terbang di atasnya dengan helikopter, saya bisa melihat batu-batu besar ditata dalam garis lurus melintasi pasir, kira-kira sepanjang empat lapangan sepak bola dan lebarnya setidaknya dua.

"Menurut pendapat saya, mustatil adalah salah satu struktur arkeologi paling unik di dunia," kata Thomas.

"Ketika kita melihat struktur Neolitik lain yang konstruksinya sama mengesankannya, saya kesulitan memikirkan struktur lain yang mencakup wilayah geografis yang begitu luas."

Sementara tim Thomas telah mencatat mustatil dengan berbagai ukuran dan kompleksitas, mereka juga mencatat karakteristik yang konsisten. Semua dibangun dengan cara yang sama, dengan menumpuk batu untuk membentuk dinding rendah yang diisi dengan kerikil.

Dinding ini terdiri atas kepala (bagian atas struktur), alas, dan dinding panjang yang menghubungkannya. Beberapa memiliki pintu masuk dan beberapa halaman interior sempit. Batu-batu yang digunakan untuk bangunan telah dipilih secara khusus agar sesuai untuk menopang struktur besar, menunjukkan pemahaman yang mendalam tentang bahan-bahan lokal. Monumen prasejarah ini pertama kali direkam pada 1960 oleh tim lokal yang melakukan survei lapangan, tetapi pada saat itu, tidak ada yang tahu apa itu.

Survei penginderaan jauh yang dilakukan oleh Profesor David Kennedy (juga dari University of Western Australia), pada 2017 semakin meningkatkan minat penelitian. Teori awal menduga mustatil digunakan sebagai penanda teritorial untuk tempat penggembalaan kuno. Namun, karena semakin banyak ditemukan, semuanya berasal dari periode yang sama, muncul pemahaman yang berbeda.

Thomas, McMahon dan tim mereka sejak itu telah menemukan bukti yang menunjukkan adanya praktik pemujaan. Mereka menemukan sejumlah besar tengkorak dan tanduk sapi, kambing, dan rusa liar di ruang kecil di kepala mustatil, tetapi tidak menemukan indikasi bahwa ini disimpan untuk keperluan rumah tangga. Karena tidak ada bagian tubuh hewan lain yang ditemukan, tim menyimpulkan bahwa ini adalah pengorbanan. Lebih tepatnya, diduga hewan-hewan dikorbankan di tempat lain.

Ini penting sebagai bukti adanya masyarakat kultus yang sangat terorganisir, jauh lebih awal dari yang diperkirakan sebelumnya, lebih tua 6.000 tahun dari kehadiran Islam di wilayah tersebut.

"Penggalian beberapa mustatil menemukan artefak yang menunjukkan praktik ritual yang terjadi di dalam struktur," kata Thomas.

"Orang-orang yang membangunnya memiliki budaya dan sistem kepercayaan yang sama dan ini bukan praktik yang terlokalisasi. Budaya ini tersebar di wilayah Arab yang luas, seukuran Polandia." Thomas menambahkan: "Arab Saudi nampak seperti lanskap yang gersang dan tidak ramah, dilihat secara terpisah dari bagian dunia lainnya selain beberapa situs terkenal, seperti Dedan dan Hegra. Namun, bukti arkeologis, seperti mustatil, menunjukkan bahwa wilayah tersebut memiliki sejarah yang kaya dan kompleks.

Struktur yang tersebar begitu luas di wilayah yang begitu luas menunjukkan sistem kepercayaan, bahasa, dan budaya bersama dalam skala yang secara pribadi tidak pernah saya bayangkan."

Munirah Almushawh, direktur proyek arkeologi di Khaybar (daerah lain di Al Ula), setuju dengan pendapat itu. Dia mencatat bahwa masyarakat ini tidak hanya berbagi sistem kepercayaan tunggal, tetapi mereka melakukan perjalanan jauh untuk berbagi pengetahuan sehingga mereka bisa membangun struktur. Beberapa mustatil memiliki berat hingga 12.000 ton, lebih berat dari Menara Eiffel. Konstruksinya membutuhkan pengetahuan, keterampilan, dan pengorganisasian dalam jangka waktu yang lama.

"Mustatil menunjukkan jaringan sosial yang besar, keterampilan arsitektur yang inovatif dan eksplorasi luas di Arab prasejarah," kata Almushawh.

Terlepas dari penemuan-penemuan yang menarik ini, pengetahuan tentang mustatil masih sangat awal, dari jumlah total 1.600, hanya lima yang sudah digali sejauh ini. Yang pasti, Al Ula masih menyimpan berbagai misteri. Ketika wilayah tersebut dibuka kembali untuk pariwisata pasca-pandemi, ada rencana membangun museum terbuka besar di mana pengunjung dapat menavigasi sendiri perjalanannya di sekitar berbagai situs arkeologi atau dibawa oleh pemandu.

Wisatawan akan dapat belajar tentang periode Neolitik, melihat reruntuhan kuno rumah dan mustatil dan membayangkan sendiri bagaimana masyarakat yang tampaknya sangat terorganisir ini hidup dan bergerak di sepanjang kawasan. McMahon dan Thomas sama bersemangatnya dengan masa depan Al Ula dan juga masa lalunya.

"Arti penting dari apa yang kami temukan adalah menulis ulang sejarah Neolitik di barat laut Arabia," kata McMahon.

"Pekerjaan kami sejauh ini hanya mengungkap apa yang selalu ada di sini: periode Neolitik yang beradab, di daerah yang sebelumnya dianggap tidak dapat dihuni atau hanya tidak penting saat ini."

1
6

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini