dr. Ferdinand Lumban Tobing
Pada masa kependudukan Jepang, Dokter Ferdinand Lumban Tobing ditunjuk sebagai dokter pengawas dalam kegiatan Romusha. Di situlah Ferdinand melihat kesengsaraan rakyat Indonesia dalam penjajahan Jepang.
Sebagai dokter pengawas, dia tidak hanya mengobati pasiennya tapi juga memberikan semangat patriotisme. Karena hal itulah, Ferdinand dianggap sebagai pengkhianat oleh Jepang dan dimasukkan ke dalam daftar orang yang akan dibunuh. Untungnya, sang dokter berhasil kabur dan menyelamatkan diri.
BACA JUGA:Moeldoko Ungkap Potensi Pendapatan Gim di Indonesia
Saat awal kemerdekaan, Ferdinand diangkat menjadi Residen Tapanuli dan berperan aktif dalam mempertahankan kedaulatan Indonesia pada masa Agresi Militer I dan II sebagai Gubernur Militer Tapanuli.
dr. Muwardi
Sama seperti dr Cipto Mangunkusumo, dr Muwardi pun merupakan lulusan STOVIA. Setelah lulus dari STOVIA, Muwardi melanjutkan pendidikannya di Nederlandsch Indische Arts School dan lulus sebagai dokter pada tahun 1931. Dia mengambil pendidikan terakhirnya di Geneeskundig Hoogeschool sebagai Spesialis Telinga, Hidung, dan Tenggorokan (THT).
Sebagai seorang pejuang, dia tergabung dalam Jong Java dan menjadi ketua Pandu Kebangsaan. Selain itu, Dokter Muwardi juga turut membantu dalam persiapan pelaksanaan proklamasi di kediaman Soekarno. Di akhir kisah hidupnya, Muwardi diculik oleh Front Demokrasi Rakyat (FDR) dan hilang secara misterius.
(Nanda Aria)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.