Share

Peran Tenaga Kesehatan Diperlukan untuk Turunkan Angka Gizi Buruk di Tomohon

Andika Shaputra, Okezone · Senin 08 Agustus 2022 14:03 WIB
https: img.okezone.com content 2022 08 08 340 2643963 peran-tenaga-kesehatan-diperlukan-untuk-turunkan-angka-gizi-buruk-di-tomohon-5vQSNMiYdy.jpg Foto: Ilustrasi

TOMOHON- Wakil Presiden RI, Ma'ruf Amin menyebutkan ada 12 provinsi yang saat ini menjadi prioritas pemerintah untuk mengatasi masalah stunting atau gizi buruk untuk menciptakan Sumber Daya Manusia (SDM) berkualitas.

Adapun 7 provinsi dengan prevalensi Stunting tertinggi disebutkan Wapres yakni NTT, NTB, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Aceh.

Sedangkan 5 provinsi dengan balita stunting terbanyak adalah Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten, dan Sumatera Utara.

(Baca juga: Sebanyak 1.819 Balita Diperkirakan Alami Stunting di Gianyar)

Dengan ditetapkannya target nasional untuk menurunkan prevalensi stunting hingga 14% di tahun 2024, perlu adanya upaya lebih untuk mencapai target tersebut meskipun penurunan angka stunting.

Berdasarkan hasil Studi Status Gizi Indonesia tahun 2021 telah menunjukan perubahan ke arah yang lebih baik.

(Baca juga: 12 Provinsi Ini Jadi Prioritas Pemerintah untuk Tangani Masalah Stunting)

Hal ini perlu terus ditingkatkan melalui upaya – upaya dimana Pemerintah Kabupaten/Kota termasuk di dalamnya Dinas Kesehatan beserta tenaga kesehatan yang terlibat memiliki peran penting.

Data Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2021 menunjukkan prevalensi angka stunting di Sulawesi Utara berada di angka 21,6 persen, dan Kota Tomohon sendiri berada di angka 18,3 persen.

Secara nasional, pemerintah menentukan target prevalensi stunting turun ke angka 14 persen pada tahun 2024. Meski terbilang rendah, pemerintah daerah Kota Tomohon terus melakukan upaya terkait penurunan angka stunting terutama melalui Dinas Kesehatan beserta tenaga kesehatan.

Sekretaris Daerah Kota Tomohon, Edwin Roring, mengatakan, pemerintah hadir untuk memfasilitasi dengan skema-skema kegiatan bersama agar kekurangan gizi tidak terjadi lagi.

“Hal Ini jadi titik tolak ukur kedepan, bagaimana kiat-kiat pemerintah kota Tomohon untuk bisa mencegah terjadinya stunting dan berbagai kebijakan regulasi terus dilakukan secara maksimal oleh berbagai pihak, terutama Dinas Kesehatan,” ujarnya di Seminar Tatalaksana Cegah Stunting Tenaga Kesehatan dalam Percepatan Penurunan Stunting Melalui Sistem Rujukan Berjenjang, Senin (8/8/2022).

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Tomohon, John Denny Lumopa, menyampaikan bahwa Dinas Kesehatan Daerah memiliki peran dalam percepatan penurunan stunting di Kota Tomohon.

“Terdapat beberapa masalah yang menjadi pemicu terjadinya stunting, diantaranya ibu hamil dengan kekurangan energi kronis, berat badan lahir rendah, asupan gizi tidak Adekuat, dan sanitasi lingkungan yang buruk. sehingga upaya intervensi berdasarkan determinan masalah stunting di Kota Tomohon,” ungkap John.

Baca Juga: Salurkan BLT BBM kepada 20,65 Juta KPM, Ini Strategi Pos Indonesia

Selain itu, Dinas Kesehatan Kota Tomohon juga memiliki program gizi seperti perbaikan gizi remaja putri dan calon pengantin serta perbaikan gizi pada 1.000 HPK.

“Kami juga melakukan pelayanan upaya gizi masyarakat berupa pemantauan pertumbuhan balita yang dilaksanakan di Posyandu serta kunjungan rumah oleh tenaga kesehatan.” Jelasnya.

Satuan Tugas Perlindungan Anak PP. IDAI, Rachmat Sentika, menjelaskan bahwa sistem rujukan pada kasus stunting harus dapat dilaksanakan hingga ke rumah sakit yang akan menyediakan Sumber Daya Manusia (SDM) yang kompeten untuk penanganan masalah gizi yang diakibatkan oleh penyakit atau kondisi tertentu pada bayi secara komprehensif.

“Perlu sinergitas antara tenaga kesehatan Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama untuk menemukan resiko stunting,”ujar Rachmat.

Lebih lanjut ia menegaskan jika dukungan fasilitas layanan kesehatan primer dalam surveilans gizi, deteksi dan penemuan kasus di masyarakat sangat dibutuhkan.

“Setiap level harus mengambil peran aktif, melatih dokter umum dan dokter Puskesmas untuk Penanggulangan Stuning secara berjenjang dari posyandu, Puskesmas, hingga RSUD.” Jelasnya.

Pembicara lainnya yaitu, Medical Science Director Danone Indonesia, Ray W. Basrowi, menambahkan, bahwa komitmen pihaknya dalam rangka penurunan angka stunting akan terus dilakukan.

Seperti mendukung berbagai macam riset tentang nutrisi pada anak-anak, program edukasi tenaga kesehatan berkelanjutan, serta program pemberdayaan masyarakat dan komunitas.

“Tugas kami disini adalah mendekatkan sistem pelayanan dan akses dari semua jenis intervensi dan model-model yang telah sukses dilakukan di tempat lain,” tutup Ray.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini