Pada 1947 hingga 1952 ia menjabat sebagai penasihat Komisi Energi Atom Amerika Serikat, posisi yang ia manfaatkan untuk mendorong perlunya kontrol internasional untuk mencegah proliferasi senjata nuklir dan juga mendesak penghentian perlombaan senjata antara AS dan Uni Soviet.
Sebelum bom atom memporak-porandakan Hiroshima dan Nagasaki, masing-masing pada 6 dan 9 Agustus 1945 yang menewaskan puluhan ribu orang, Oppenheimer pernah berujar, yang kemudian banyak diterjemahkan sebagai penyesalan.
BACA JUGA:KPU: Pemerintah Telah Setujui Kenaikan Honor Badan Ad Hoc untuk Pemilu dan Pilkada 2024
Pada 16 Juli 1945 tim Oppenheimer berhasil melakukan uji coba ledakan bom atomi Alamogordo, New Mexico.
Pagi itu, dari kejauhan, ia melihat efek ledakan berupa awan jamur yang membumbung tinggi ke angkasa.
Ia berujar, "Saya teringat dengan kalimat di kitab Hindu, Bhagavad-Gita ... 'Sekarang saya menjadi Kematian, sang penghancur dunia'."
Pada Oktober 1945, ia bertamu ke Presiden AS Harry S. Truman dan mengatakan karena bom nuklir di Jepang, tangannya sekarang berlumuran darah.
Sang presiden menampik kata-kata Oppenheimer. Truman mengatakan darah itu ada di tangannya dan biarlah dirinya yang bertanggung jawab.
2. Mikhail Kalashnikov, kreator senapan AK-47
Kalashnikov adalah perancang salah satu senapan yang paling dikenal di muka bumi, senapan semiotomatis AK-47.
Padahal awalnya, warga Rusia tersebut pada 1947 "sekadar" ingin membuat senapan yang sederhana, tahan banting dan dapat diandalkan.
Dalam perjalanannya, senapan yang diberi nama AK-47 itu menjadi senjata andalan tentara Soviet, Rusia, dan puluhan negara lain. Bahkan, senjata itu pun digunakan oleh pemberontak di berbagai belahan dunia.
Popularitas AK-47 tak lepas dari desainnya yang sederhana, mudah diproduksi, dan mudah dirawat.
BACA JUGA:Lakukan Sauna Tidak Lebih dari 20 Menit, Rasakan Manfaatnya!
Apa tanggapan Kalashnikov? Dalam hidupnya ia tak banyak mengeluarkan penyesalan secara terbuka. Bahkan, suatu ketika ia berujar, "Saya bisa tidur nyenyak."
Tapi menjelang kematiannya, ia mengakui merasakan "penderitaan spiritual yang sangat perih".
Dalam surat kepada Gereja Ortodoks Rusia, seperti dibocorkan oleh media di Rusia satu bulan setelah kematiannya, Kalashnikov mengatakan ia merasa bertanggung jawab atas kematian yang disebabkan senapan AK-47.
"Luka spiritual saya tak tertahankan. Saya terus bertanya ke diri saya sendiri. Jika senapan yang saya rancang membuat sengsara .... sebagai pemeluk Kristen Ortodoks apakah saya juga adalah penyebab kematian mereka," tulis Kalashnikov.