Share

Rumah Trump Digerebek FBI, Diduga Cari Dokumen Rahasia

Susi Susanti, Okezone · Selasa 09 Agustus 2022 15:47 WIB
https: img.okezone.com content 2022 08 09 18 2644757 rumah-trump-digerebek-fbi-diduga-cari-dokumen-rahasia-GIQoDlb0io.jpg Ruman mantan Presiden AS Donald Trump digerebek FBI (Foto: AFP)

PALM BEACH - Mantan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan Senin (8/8/2022) bahwa kediamannya di Mar-A-Lago di Florida sedang "digerebek" oleh agen Biro Investigasi Federal (FBI) dalam apa yang disebutnya tindakan "pelanggaran penuntutan".

FBI menolak berkomentar tentang apakah pencarian itu terjadi atau untuk apa, Trump juga tidak memberikan indikasi mengapa agen federal ada di rumahnya - situasi yang menambah tekanan hukum pada mantan presiden itu.

Baca juga: Istri Pertama Donald Trump Meninggal, Pemakaman Digelar di New York City

Beberapa media AS mengutip sumber yang dekat dengan penyelidikan yang mengatakan bahwa agen sedang melakukan pencarian resmi terkait dengan potensi kesalahan penanganan dokumen rahasia yang telah dikirim ke Mar-a-Lago.

Rekaman udara Mar-a-Lago menunjukkan mobil polisi berada di luar properti. Pendukung mantan pemimpin AS itu juga berkumpul di luar, melambai-lambaikan spanduk dengan nama Trump atau bendera AS yang memajang foto wajahnya.

Baca juga: Trump Takut Sekaligus Kagumi Putin karena Kemampuannya Membunuh Siapapun

Dalam sebuah pernyataan yang diposting di jaringan Truth Social-nya, Trump mengatakan "rumahnya yang indah, Mar-A-Lago di Palm Beach, Florida, saat ini dikepung, digerebek, dan diduduki oleh sekelompok besar agen FBI."

"Ini adalah pelanggaran penuntutan, persenjataan Sistem Peradilan, dan serangan oleh Demokrat Kiri Radikal yang sangat tidak ingin saya mencalonkan diri sebagai Presiden pada 2024," terang Trump, yang tidak hadir dalam penggerebekan itu, dikutip The New York Times.

"Serangan seperti itu hanya bisa terjadi di negara-negara Dunia Ketiga yang rusak. Sayangnya, Amerika kini telah menjadi salah satu dari negara-negara itu," lanjutnya.

"Mereka bahkan membobol brankas saya!,” ujarnya.

Beberapa anggota senior Partai Republik juga ikut bersuara ke media sosial (medsos) untuk mengkritik serangan itu dan menuduh Departemen Kehakiman telah melampaui batas.

Seperti diketahui, Arsip Nasional mengatakan pada Februari lalu pihaknya telah menemukan 15 kotak dokumen dari perkebunan Florida Trump. Washington Post melaporkan dokumen itu termasuk teks-teks yang sangat rahasia, yang dibawa bersamanya ketika dia meninggalkan Washington setelah kekalahan pemilihannya kembali.

Dokumen dan kenang-kenangan - yang juga termasuk korespondensi dari mantan Presiden AS Barack Obama - seharusnya secara hukum telah diserahkan pada akhir masa kepresidenan Trump tetapi malah berakhir di resor Mar-a-Lago miliknya.

Ini menimbulkan pertanyaan tentang kepatuhan Trump terhadap undang-undang catatan kepresidenan yang diberlakukan setelah skandal Watergate pada 1970-an yang mengharuskan penghuni Kantor Oval untuk menyimpan catatan yang terkait dengan aktivitas administrasi.

Arsip Nasional kemudian meminta Departemen Kehakiman untuk menyelidiki praktik Trump.

Menurut sebuah buku yang ditulis reporter New York Times, Maggie Haberman, staf Gedung Putih juga secara teratur menemukan gumpalan kertas toilet yang menyumbat, membuat mereka percaya bahwa Trump sedang mencoba untuk menyingkirkan dokumen-dokumen tertentu.

Sejak mengambil penerbangan Air Force One terakhirnya dari Washington ke Florida pada 20 Januari tahun lalu, Trump tetap menjadi tokoh paling terpolarisasi di negara itu, melanjutkan kampanyenya yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk menabur kebohongan bahwa ia benar-benar memenangkan pemilihan 2020.

Selama berminggu-minggu, Washington telah terpusat oleh audiensi di Kongres tentang penyerbuan 6 Januari lalu di Capitol oleh gerombolan pendukung Trump dan upayanya untuk membatalkan pemilihan.

Departemen Kehakiman AS juga sedang menyelidiki serangan 6 Januari itu.

Sementara itu, Jaksa Agung Merrick Garland telah menolak untuk mengomentari spekulasi yang berkembang bahwa Trump dapat menghadapi tuntutan pidana.

Dia bersikeras bahwa "tidak ada orang yang kebal hukum" dan dia bermaksud untuk "meminta pertanggungjawaban setiap orang yang bertanggung jawab secara pidana karena mencoba untuk membatalkan pemilihan yang sah."

Trump juga sedang diselidiki atas upayanya untuk mengubah hasil pemungutan suara 2020 di negara bagian Georgia, sementara praktik bisnisnya sedang diselidiki di New York dalam kasus terpisah, satu perdata dan lainnya kriminal.

Mogul real estat itu belum secara resmi menyatakan pencalonannya untuk pemilihan presiden 2024, meskipun ia telah memberikan petunjuk kuat selama beberapa bulan terakhir.

Dengan peringkat persetujuan Presiden Joe Biden saat ini di bawah 40 persen dan Demokrat diperkirakan akan kehilangan kendali Kongres dalam pemilihan paruh waktu November, Trump tampaknya optimis bahwa ia dapat menunggangi gelombang Partai Republik sampai ke Gedung Putih pada 2024 mendatang.

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini