Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Baju Adat yang Dikenakan Presiden Jokowi dari Tahun ke Tahun untuk Pidato Kenegaraan

Natalia Bulan , Jurnalis-Selasa, 16 Agustus 2022 |11:26 WIB
Baju Adat yang Dikenakan Presiden Jokowi dari Tahun ke Tahun untuk Pidato Kenegaraan
Baju adat yang dipakai Jokowi dari tahun ke tahun untuk hadiri Sidang Tahunan MPR/Instagram/Reuters
A
A
A

JAKARTA - Berikut ini adalah deretan baju adat yang pernah digunakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dari tahun ke tahun untuk  menghadiri Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPD-DPR RI serta Pidato Kenegaraan.

Melalui akun Instagram pribadinya, Presiden Jokowi mengungkapkan baju-baju adat yang ia digunakan setiap tahun tersebut.

 Dimulai dari tahun 2019 hingga kini tahun 2022, ia konsisten menggunakan baju adat dari berbagai daerah di Indonesia.

"Datang ke Gedung MPR hari ini, saya berbusana adat baju paksian dari Bangka Belitung," tulis sang Presiden pada keterangan videonya.

Dimulai dari tahun saat Sidang Tahunan MPR RI tahun 2019, ia menggunakan Baju Adat Sasak dari NTB.

 Saat itu materi yang paling penting adalah rencana pemindahan ibu kota negara ke Kalimantan.

Pemilihan pakaian adat Sasak tentu memunculkan ragam komentar di masyarakat, terutama di kalangan masyarakat

Sasak sendiri yang secara langsung memiliki ikatan emosional dengan pakaian adat tersebut. Umumnya, peristiwa ini memunculkan kebanggaan dari kalangan masyarakat Sasak karena pakaian adat mereka diperkenalkan pada acara resmi kenegaraan oleh Presiden Jokowi.

Pakaian yang dikenakan Presiden Joko Widodo pada acara tersebut disebut ragam busana “tegep”, yang berarti lengkap atau utuh.

Ragam ini merupakan busana resmi yang dikenakan pada upacara adat besar sehingga ragam busana ini bisa juga disebut sebagai pakaian kebesaran adat Sasak.

Selain ragam ini, masyarakat Sasak juga memiliki ragam busana untuk keperluan lain, yaitu ragam busana “Kiai” dan ragam busana “harian”, juga termasuk pakaian adat bagi kaum perempuan.

Adapun komponen-komponen pakaian “tegep” yang dikenakan presiden, mulai dari bagian paling atas (kepala) sampai yang terbawah, adalah sebagai berikut:

Pertama, “Sapuq”, ikat kepala atau destar. Terbuat dari kain songket. Agar tampak fashionable, antara motif “sapuq” dengan motif kain songket di bagian bawahnya, dipilih motif yang sama.

Sapuq adalah komponen pelindung kepala,menutupi bagian ubun-ubun layaknya fungsi peci.

Ada berbagai ragam ikatan pemasangansapuq. Pada yang dikenakan PresidenJokowi adalah bentuk ragam untuk upacara resmi.

Kedua, “Leang”, kain penutup bagian luar.Leang dipasangkan dengan menutupi kain “slewoq” di bagian dalamnya. Terbuat dari songket dengan motif yang disebut “Bulan Begantung” dan ada pula yang menyebutnya “Bulan Getap”.

Komponen ini dipasang sedemikian rupa, pada bagian depan dada dibentuk dengan pola yang khas, ujungnya menjulur ke bawah, simbol ketundukan, rendah hati kepada hadirin yang hadir. Secara estetika, tampak menjuntai indah.

Ketiga, “Selepan”, senjata tajam yang diselipkan di “leang”. Presiden Jokowi mengenakan “pemaje”, sebuah alat kerja bagi masyarakat Sasak yg biasanya digunakan dalam tahapan “finishing touch” dari suatu produk atau hasil kerja. Pesan simboliknya, sebelum mencapai tahap akhir dari suatu pekerjaan, ada proses “memperhalus sehingga tampak indah dan padu.

Selain “pemaje,” orang Sasak lazim menggunakan keris sebagai “pegangan,” sekaligus perlengkapan berbusana. Ada cara penempatan posisi keris, jika salah, bisa

sebagai isyarat menantang atau congkak.

Keempat, “Pegon”, pakaian serupa jas dengan desain khusus, yaitu hanya menutup sebagian punggung.

Pada bagian depan, dikancingkan penuh sampai atas sedangkan pada kancing terbawah, biasanya dibuka.

Kelima adalah “Slewoq” atau “kereng poto”,merupakan selembar kain yang diikat sedemikian rupa, pada bagian paling atas slewoq diikat di pinggang dan di gulung seperti sarung di perut bagian depan.

Ujungnya melancip dan dipasang terlipat bersusun seperti kipas. Sebagian besar kain ini tertutup “leang,” kecuali di bagian bawahnya. Motif ini ada yg menyebutnya

“Ragi Nganjeng, tapi ada yang berpendapat motif itu bernama “Sabuk Galuh” dan “Selulut”.

Berlanjut ke tahun 2020, diketahui Presiden Jokowi mengenakan Baju Adat Sabu dari NTT.

Pakaian itu terdiri dari topi, kain tenun menyilang di bagian dada dan digunakan untuk sarung yang dilengkapi dengan aksesoris berupa kaling dan sabuk yang juga berwarna emas.

Warna emas pada kain khas Pulau Sabu semakin tampak tegas lantaran dipadankan dengan kemeja hitam lengan panjang bagian dalam.

Suku Sabu memiliki pakaian adat yang berbeda untuk pria dan wanita. Pakaian adat untuk pria seperti yang dikenakan Jokowi biasanya dipakai oleh masyarakat dan ketua adat saat menghadiri acara adat, termasuk ritual pemakaman. Pada umumnya pakaian ini dipakai dengan dalaman kemeja putih lengan panjang. Kain tenun dan selendang diselempangkan menyilang pada bahu.

Pada bagian kepala, suku Sabu mengenakan ikat kepala berupa mahkota tiga tiang yang terbuat dari emas, dilengkapi dengan aksesoris berupa kalung multisalak, sabuk berkantong, perhiasan leher (habas) dan sepasang gelang emas.

Lalu di tahun 2021, terlihat Presiden Jokowi menggunakan Baju Adat Baduy dari Banten. Presiden mengenakan pakaian berupa atasan hitam atau baju kutung dan celana hitam, dengan lencana merah putih di dada sebelah kiri. Ia juga mengenakan telekung berwarna biru-hitam, sendal berwarna biru, serta tas rajut selempang berwarna cokelat.

Masyarakat suku Baduy biasa mengenakan telekung, yakni ikat kepala yang kadang disebut 'koncer' atau 'roma'. Ikat kepala tersebut merupakan hasil tenun masyarakat Baduy. Sedangkan Kutung adalah baju putih berlengan panjang tanpa kerah, yang juga disebut 'jamang sangsang'.

Sejarawan Asep Kambali mengatakan pakaian yang dipakai Jokowi di Sidang Tahunan MPR itu adalah baju adat suku Baduy Luar. Sebab, baju yang dipakai berwarna hitam dan dijahit rapi mengenakan kancing.

Ikat kepala atau 'Taluang' atau 'Lomar' yang dikenakan warga Baduy Luar terbuat dari bahan kain tenun yang berwarna biru.

 Warna biru itu diartikan sebagai warna awal atau permulaan, karena orang Baduy percaya bahwa warna biru adalah warna yang keluar dari daun yang ada di pohon-pohon di sekitar mereka.

Atasan hitam yang dikenakan Jokowi memiliki rasa yang berbeda dari baju lainnya. Sebab, baju berwarna hitam demikian memperlihatkan kesan yang lebih sederhana dan simpel sekaligus mewakili adat. Orang

Baduy memiliki 'jamang bodas' atau 'jamang sangsang' warna putih untuk keseimbangan.

Pakaian adat warga Baduy Luar dominan warna hitam dengan ikat kepala biru tua bermotif batik, baju komprang, dan celana selutut. Warna hitam sebagai ciri dari masyarakat Baduy Luar (Urang panamping).

Lalu yang pada tahun ini, Presiden Jokowi tampak menggunakan Baju Adat Bangka Belitung.

"Baju adat yang saya kenakan adalah, Baju Paksian dari Provinsi Bangka Belitung, dengan motif pucuk rebung yang melambangkan kerukunan dan warna hijau dipilih karena mengandung filosofi kesejukan, harapan, dan pertumbuhan," jelasnya dalam video Instagram-nya.

(Natalia Bulan)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement