BAGHDAD – Ulama Syiah Irak berpengaruh, Moqtada al-Sadr mengumumkan mogok makan untuk menghentikan kekerasan dan penggunaan senjata usai bentrokan di Baghdad, menewaskan setidaknya 17 orang, demikian dilaporkan kantor berita INA pada Senin (29/8/2022) malam.
Sadr dikatakan akan melakukan mogok makan sampai kekerasan dan penggunaan senjata dihentikan.
BACA JUGA: Baghdad Mencekam, Pertempuran Antar Kelompok Syiah Irak Tewaskan Hampir 20 Orang
Sejauh ini tidak ada konfirmasi langsung dari kantor Sadr.
Diwartakan Reuters, setidaknya 17 warga Irak tewas pada Senin setelah Sadr mengatakan dia akan mundur dari politik, mendorong para pendukung setianya menyerbu kompleks pemerintahan, menyebabkan bentrokan berdarah dengan kelompok-kelompok Syiah yang berlawanan.
Tembakan senapan mesin dan ledakan terdengar, di Zona Hijau, yang menampung kantor pusat pemerintah dan kedutaan asing di Baghdad. Ini merupakan pertempuran terburuk yang pernah terjadi di ibukota Irak itu selama bertahun-tahun.
BACA JUGA: Ulama Syiah Irak Serukan Perangi Tentara AS Penumpas ISIS
Pejabat keamanan mengatakan beberapa bentrokan terjadi antara pejuang Brigade Perdamaian Sadr dan anggota pasukan keamanan Irak yang bertugas melindungi Zona Hijau, tetapi milisi yang bersekutu dengan Iran kemungkinan juga terlibat.
Militer Irak mengumumkan jam malam nasional tanpa batas dan mendesak para pengunjuk rasa untuk meninggalkan Zona Hijau.
Sadr, yang mendapat dukungan luas dengan menentang pengaruh Amerika Serikat (AS) dan Iran terhadap politik Irak, adalah pemenang terbesar dari pemilihan Oktober. Tetapi dia menarik semua anggota parlemennya dari parlemen pada Juni setelah gagal membentuk pemerintahan yang mengecualikan saingannya, sebagian besar dari partai-partai Syiah yang didukung Teheran.
Dia bersikeras untuk menggelar pemilihan awal dan membubarkan parlemen, mengatakan bahwa seharusnya tidak ada politisi yang telah berkuasa sejak invasi AS pada 2003 yang boleh memegang jabatan.
(Rahman Asmardika)