NEW YORK - Inflasi di Amerika Serikat (AS) dilaporkan mencapai rekor tertinggi dalam 40 tahun terakhir dan menimbulkan kekhawatiran Wall Street akan terjadinya resesi. Namun tampaknya justru para pelaku Usaha Kecil Mikro Menengah (UMKM) dan konsumen -ah yang harus menanggung akibatnya.
Salah satu yang terkena dampak adalah para pedagang kaki lima (PKL) di New York, AS. “Jika Anda berkunjung ke Amerika, kami dikenal karena makanannya. Kami mencintai kuliner kami,” terang Benjamin Nansong, salah seorang warga kota New York, dikutip VOA.
Hanya sedikit tempat lain yang bisa menyamai keragaman kuliner kota New York dengan restoran dan berbagai jajanan kaki limanya di hampir setiap sudut.
Baca juga: Dolar AS Meroket Usai Pejabat The Fed Beri Sinyal Kenaikan Suku Bunga
Namun kini inflasi dunia telah memicu lonjakan harga pangan di salah satu kota termahal di dunia itu.
“Harga empanada naik dari yang sebelumnya cuma USD3 (Rp44.000) menjadi tiba-tiba USD4,5 (Rp67.000). Sungguh gila, ini tidak masuk akal," ujar Silbert Gray, penduduk New York lainnya.
Baca juga: Pencairan BLT UMKM Rp600.000, Cek NIK KTP di Sini
Menurut Indeks Harga Konsumen Departemen Pertanian AS, harga pangan naik 10 persen dalam setahun terakhir, dengan tingkat inflasi yang mencapai rekor tertinggi dalam 40 tahun terakhir. Para pedagang makanan di kota New York, seperti truk makanan (food truck) El Toro Rojo, sudah menaikkan harga menu mereka.
“Kami cukup khawatir, karena kami tidak ingin kehilangan pelanggan setia kami selama lima tahun terakhir, jadi kami harus berpikir tiga kali sebelum akhirnya menaikkan harga," kata Dennis Apreza, sang pemilik truk.