Share

Perjuangkan Kemerdekaan, Ini Delegasi Indonesia dalam Sidang Dewan Keamanan PBB 1947

Tim Litbang MPI, MNC Portal · Jum'at 02 September 2022 16:18 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 02 18 2659714 perjuangkan-kemerdekaan-ini-delegasi-indonesia-dalam-sidang-dewan-keamanan-pbb-1947-wnL9HGNu7D.jpg Sutan Sjahrir termasuk salah satu anggota delegasi pada Sidang Dewan Keamanan PBB 1947. (Foto: istimewa)

JAKARTA - Perseteruan antara Belanda dan Indonesia yang berkepanjangan membuat PBB harus turun tangan. Organisasi yang baru berdiri selama dua tahun tersebut harus menghadapi pertikaian antara dua negara yang terjadi akibat pelanggaran Perjanjian Linggarjati.

Sidang Dewan Keamananan PBB pun dilakukan dengan agenda pembahasan sengketa antara Indonesia dengan Belanda pada 14 Agustus 1947 di Lake Success, New York, Amerika Serikat.

Terdapat sejumlah orang yang diutus menjadi perwakilan Indonesia dalam menghadapi Belanda. Berikut para delegasi Indonesia dalam Sidang Dewan Keamanan PBB 1947.

BACA JUGA: Sejarah Perjanjian Linggarjati: Menyempitnya Wilayah Indonesia hingga Timbulkan Gejolak Politik

1. Sutan Sjahrir

Tokoh pertama yang menjadi perwakilan Indonesia dalam Sidang Dewan Keamanan PBB 1947 adalah Sutan Sjahrir. Sepak terjang Sjahrir dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia tidak perlu diragukan lagi. Pria kelahiran Padang Panjang, Sumatera Barat pada 5 Maret 1909 ini menjadi pembicara di depan Dewan Keamanan PBB. Di atas podium, Sjahrir menjelaskan tentang perkembangan terkini Indonesia hingga sejarah Nusantara, dari zaman Kerajaan Majapahit yang mempunyai hubungan dagang dengan Madagaskar di Afrika Timur.

BACA JUGA: 7 Negara Pertama yang Mengakui Kemerdekaan RI, Nomor 2 Masih Terjajah hingga Sekarang

Dalam pidatonya, Sjahrir menyampaikan fakta bahwa Belanda tidak membantah atas pelanggaran yang mereka lakukan dalam Perjanjian Linggarjati dan justru melayangkan tuduhan tak terbukti pada Indonesia. Pernyataan Sjahrir ini pun mampu mengesankan Dewan Keamanan PBB, bahkan mendapat pujian dari media Amerika Serikat, seperti New York Herald Tribune.

2. Haji Agus Salim

Dalam memperjuangkan kedaulatan Indonesia, Sjahrir juga ditemani oleh Haji Agus Salim. Pria kelahiran 8 Oktober 1884 ini mengabdikan dirinya dalam usaha diplomasi kemerdekaan Indonesia. Kemampuannya dalam menguasai 7 bahasa mengantarkan Agus Salim menjadi diplomat ulung Indonesia.

Baca Juga: BuddyKu Festival, Generasi Muda Wajib Hadir

Follow Berita Okezone di Google News

Pasca kemerdekaan, Agus Salim menjabat sebagai Menteri Luar Negeri Indonesia. Dia pun mengunjungi negara-negara Timur Tengah untuk mencari dukungan yang mengakui kemerdekaan Indonesia, salah satunya Mesir. Agus Salim berhasil mendapatkan pengakuan Mesir atas kemerdekaan Indonesia melalui perjanjian persahabatan yang ditandatangani Menteri Luar Negeri Haji Agus Salim dengan Perdana Menteri Nokrashi Pasha.

Setelah melakukan diplomasi dengan negara-negara Arab, Agus Salim diutus dalam Sidang Dewan Keamanan PBB 1947 dan berhasil membentuk jejaring dukungan dari para peserta PBB.

3. Soedjatmoko


Cendekiawan Indonesia Soedjatmoko turut menjadi bagian dalam delegasi Indonesia pada Sidang Dewan Keamanan PBB 1947. Dia menjadi anggota delegasi Indonesia termuda dalam sidang tersebut. Meskipun tidak memiliki gelar akademik formal, pria kelahiran Sawahlunto, 10 Januari 1922 ini pernah menjadi Rektor Universitas PBB di Tokyo, Jepang, dari 1980 hingga 1987.

Bahkan, dia juga mendapatkan banyak gelar doktor dari berbagai universitas di dunia. Sebagai seorang pemikir, Soedjatmoko selalu memadukan banyak pengetahuan untuk kehidupan manusia. Melalui forum-forum di dalam dan luar negeri, Soedjatmoko mengeluarkan pemikiran-pemikirannya mengenai permaslahan ekonomi, politik, hingga kebudayaan.

4.Soemitro Djojohadikusumo


Soemitro Djojohadikusumo merupakan tokoh besar ekonomi Indonesia. Soemitro mengenyam pendidikannya di negeri Belanda. Sekembalinya ke Indonesia pada awal 1947, Soemitro diangkat menjadi staf Perdana Menteri Sutan Sjahrir. Dalam Sidang Dewan Keamanan PBB 1947, Soemitro mengusulkan untuk membentuk komisi pengawas perdamaian antara Indonesia dan Belanda. Dia juga menuntut Dewan Keamanan PBB untuk menarik tentara Belanda dari Indonesia.

Selain upaya diplomasi, pria kelahiran 29 Mei 1917 ini meninggalkan banyak warisan berupa jejak pemikiran bagi bangsa Indonesia. Salah satu pemikirannya yang paling terkenal adalah Sistem Ekonomi Gerakan Benteng. Sistem ini membantu usaha-usaha kecil bermodal lemah dengan sistem kredit pinjaman modal. Tujuan dari sistem ini adalah untuk membangun pengusaha pribumi sehingga mereka dapat menjadi bagian dalam pengembangan ekonomi nasional.

LN Palar

Lambertus Nicodemus Palar atau yang biasa dikenal sebagai LN Palar merupakan seorang diplomat RI yang berusaha mendapatkan kemerdekaan Indonesia melalui jalur diplomasi. Tidak seperti tokoh-tokoh yang disebut sebelumnya, LN Palar merintis kariernya politiknya di luar negeri, tepatnya di negeri Belanda. Dia memilih kabur ke luar negeri karena haluan politik komunisnya yang tidak diterima Indonesia.

Di tahun 1930, LN Palar aktif sebagai anggota Social Democratische Arbeider Partij (SDAP). Melalui SDAP-lah Palar memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Palar secara aktif memperjuangkan kemerdekaan Indoensia dari luar. Usai berakhirnya Agresi Militer I, Palar kembali ke Tanah Air dan ditugaskan menjadi delegasi Indonesia dalam Sidang Dewan Keamanan PBB 1947. Setelah itu, palar kemudian menjadi wakil RI pertama di PBB meskipun Indonesia belum bergabung dalam organisasi tersebut.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini