JAKARTA - Pahitnya ujian pernikahan tentu dirasakan oleh semua pasangan di dunia ini. Begitu juga dengan Habibie dan Ainun. Mereka harus bertahan di negeri orang dengan penghasilan yang terbilang pas-pasan.
Baginya, waktu sangat berharga dan harus diatur ketat. Dipagi hari Habibie harus pergi ke pabrik, kemudian dia harus pergi Universitas hingga malam. Pukul 10.00 atau pukul 11.00 malam baru sampai di rumah dan menulis disertasinya sebagai syarat kelulusan program S3.
Ke mana pun Habibie pergi, bus adalah andalan bagi dirinya. Namun, karena kekurangan uang untuk membeli kartu langganan bulanan, dua sampai tiga kali seminggu dia harus jalan kaki sejauh 15 kilometer.
“Soalnya, pengeluaran terus meningkat. Termasuk keperluan sehari-hari dan perlunya tabungan untuk masa depan,” kata Habibie seperti dikutip dalam buku Habibie & Ainun.
Oberforstbach merupakan tempat di mana rumah tangga Habibie dan Ainun dimulai. Pasalnya, bus wilayah yang menghubungkan Oberforstbach dengan Aachen jarang datang.
Ketika pagi, Habibie berangkat ke kantor dan meninggalkan Ainun seorang diri dengan dana yang sangat terbatas. Dikarenakan sudah larut malam, bahkan kadang-kadang dia harus berjalan kaki karena sudah tidak ada bus lagi yang berlalu lalang. Demi mempersingkat waktu, Habibie berjalan melewati kuburan.