JAKARTA - Naqsyabandiyah atau Naqsyabandi atau Naqshabandi berasal dari Bahasa Persia, diambil dari nama pendirinya yaitu Baha-ud-Din Naqshbandi Bukhari. Sebagian Orang menerjemahkan kata tersebut sebagai “pembuat gambar”, “pembuat hiasan”, dan sebagian lagi menerjemahkannya sebagai “Jalan Rantai” atau “Rantai Emas”.
Tarekat Naqsyabandi pertama kali diperkenalkan oleh Muhammad bin Muhammad Baha’al-Din al-Uwaisi al-Bukhari Naqsyabandi, sekaligus sebagai pendiri tarekat Naqsabandiyah. Beliau lahir pada 1318 di desa Qasr-i-Hinduvan yang kemudian berganti nama menjadi Qasr-i Arifan di dekat Bukhara. Tempat ini juga menjadi tempat di mana ia wafat pada tahun 1389.
Pada perkembangannya, Tarekat Naqsabandiyah sudah menjangkau lapisan masyarakat muslim di berbagai wilayah. Tarekat ini pertama kali berdiri di Asia Tengah, kemudian meluas hingga Turki, Suriah, Afganistan, dan India.
Pengaruh terkuat dari Tarekat ini berada di Turki dan wilayah Kurdistan, sedangkan Pakistan menjadi yang paling lemah. Terlebih, pada masa pemerintahan Soviet, pengaruh Naqsyabandiyah sangat terasa dalam gerakan “Islam bawah tanah” di Kaukasus Asia Tengah.
Berikut silsilah Tarekat Naqsyabandiyah secara lengkap sebagai berikut:
1. Rasulullah SAW.
2. Abu Bakar al-Shiddiq RA
3. Salman al-Farisi
4. Qasim bin Muhammad
5. Imam Ja’far al-Sadiq
6. Abu Yazid al-Busthami
7. Abû Hasan Ali bin Ja’far al-Kharqani
8. Abû Ali al-Fadhal bin Muhammad al-Thusi al-Farmadi
9. Abu Ya’kub Yusuf al-Hamdanibin Ayyub bin Yusuf bin Husin
10. Abdul Khaliq al-Fajduwani bin Imam Abdul Jamil
11. Arif al-Riyukuri
12. Mahmud al-Anjiru al-Faghnawi
13. Ali al-Ramituniatau Syekh Azizan
14. Muhammad Baba As-Samasi
15. Amir Kulal bin Sayid Hamzah
16. Baha’uddin Naqsyabandi
Bahaudin Naqsabandi sebagai pendiri tarekat berjasa dalam meletakkan ciri khas tarekat ini yang terkenal dalam menjalin hubungan akrab dengan para penguasa saat itu sehingga ia mendapat dukungan yang luas pula jangkauannya. Tahun-tahun berikutnya, tarekat ini mulai menyebarkan gerakan di luar Islam.
Selanjutnya, Said al-Din Kashgari, ia secara geografis memiliki peran terbesar dalam penyebaran tarekat ini. Ia juga telah membai’at penyair dan ulama besar ‘Abd al-Rahman Jami’ia yang kemudian mempopulerkan tarekat ini di kalangan istana.