Share

Eksperimen Teraneh Sepanjang Masa, Meneliti Prilaku Manusia dengan Rakit Seks

Tim Okezone, Okezone · Selasa 04 Oktober 2022 05:01 WIB
https: img.okezone.com content 2022 10 03 18 2679900 eksperimen-teraneh-sepanjang-masa-meneliti-prilaku-manusia-dengan-rakit-seks-FQ6jDF95Oh.JPG Ilustrasi/ Foto: BBC

JAKARTA - Pembajakan pesawat yang dialaminya pada November 1972 menghantarkan Santiago Genoves pada eksperimen tak biasanya, dengan menggunakan rakit seks untuk meneliti perilaku manusia.

Genoves juga mengambil pengalaman seorang antropolog sekaligus petualang ternama asal Norwegia, Thor Heyerdahl, untuk diterapkan dalam penelitiannya.

 BACA JUGA:Tegas! Jokowi Kembali Minta Kapolri Berikan Sanksi yang Terlibat Tragedi Kanjuruhan

Keduanya pernah bekerja sama sebagai bagian dari sebuah kru yang berlayar menggunakan replika kapal Mesir kuno pada tahun 1969 dan 1970, dalam upaya untuk menunjukkan bahwa kemungkinan masyarakat Afrika lah yang tiba lebih dulu di Amerika berabad-abad sebelum Christopher Columbus.

Selama perjalanan itu, Genoves berpikiran bahwa sekelompok orang yang mengarungi laut bersama-sama bisa menjadi sebuah laboratorium yang luar biasa untuk meneliti perilaku manusia.

 BACA JUGA:Dinilai Miliki Peran Besar, Perindo Dukung Syaichona Cholil Jadi Pahlawan Nasional

Eksperimennya, meski demikian, dirancang khusus untuk memancing konflik.

"Sejumlah uji coba terhadap hewan menunjukkan bahwa amarah dapat muncul ketika kita menempatkan beberapa jenis tikus dalam ruangan terbatas. Saya ingin tahu bila hal yang sama juga berlaku bagi manusia," tulis akademisi tersebut dalam sebuah artikel majalah Universitas Nasional Meksiko yang dipublikasi pada tahun 1974.

Genove lantas membangun sebuah rakit. Ukurannya 12x7 meter dengan sebuah kabin kecil, berukuran 4x3,7 meter - "dengan ruang yang cukup untuk orang berbaring, bukan berdiri."

Fasilitas toilet dibangun di luar kabin tanpa sekat apa pun. Genoves menamai rakitnya The Acali, yang berarti "rumah di atas air" dalam bahasa masyarakat adat Nahuatl di Meksiko.

Sebanyak 10 orang menumpangi rakit The Acali dan menghabiskan 101 hari berlayar di lautan bersama Genoves dari Kepulauan Canaria ke Meksiko. Rakit itu tak bermesin, tak beraliran listrik ataupun berperahu cadangan.

Genoves mengiklankan eksperimen itu sebagai sebauh ekspedisi dalam sejumlah surat kabar di seluruh dunia untuk menarik minat subjek penelitian. Ratusan orang lantas menghubunginya. Empat pria dan enam wanita dari latar belakang negara, agama dan sosial yang berbeda terpilih.

Baca Juga: Lifebuoy x MNC Peduli Ajak Masyarakat Berbagi Kebaikan dengan Donasi Rambut, Catat Tanggalnya!

Hanya empat di antara mereka yang masih lajang. Mereka dipilih khusus untuk "menciptakan ketegangan di dalam kelompok tersebut", menurut Genoves.

Kapten yang ditunjuk bernama Maria Bjornstam, 30 tahun, seorang perempuan asal Swedia. Ia bukan satu-satunya perempuan yang menjalankan peran utama - keenam perempuan yang ikut serta dalam eksperimen itu memegang peran utama, sementara para pria dibiarkan mengerjakan tugas-tugas kasar.

"Saya bertanya pada diri saya sendiri, apakah memberi kuasa kepada perempuan akan memicu lebih banyak atau lebih sedikit tindak kekerasan," tulis Genove.

The Acali mulai berlayar pada tanggal 13 Mei 1973 menuju sebuah pulau di Meksiko, Cozumel.

Adegan seks yang dibayangkan

Demikian pula imajinasi masyarakat. Karena Acali tidak memiliki teknologi saat ini seperti yang digunakan untuk syuting acara realita TV, kala itu media dengan bebas berspekulasi tentang pelayaran yang dilakukan.

Kisah tentang "pesta pora di atas rakit cinta" dengan cepat menjadi tajuk utama pemberitaan, meski laporan itu diturunkan tanpa lebih dahulu menghubungi kru terkait. The Acali dengan cepat dikenal sebagai "rakit seks".

Kenyataan di atas rakit

Memelihara hubungan seksual memang menjadi bagian dari eksperimen yang dibuat Genoves.

"Penelitian ilmiah terhadap kera menunjukkan bahwa ada kaitan antara kekerasan dan seksualitas, di mana sebagian besar konflik antar-pejantan berhubungan dengan kesiapan para betina berovulasi," jelasnya dalam artikel majalah tersebut.

"Untuk membuktikan apakah hal yang sama terjadi di antara manusia, saya telah memilih subjek-subjek penelitian yang menarik secara seksual."

"Dan karena seks berhubungan dengan rasa bersalah, saya telah mengikutsertakan seorang pendeta katolik Roma dari Angola, Bernardo."

Dalam praktiknya, sejumlah anggota kru memang terlibat dalam aktivitas seksual, namun tidak sampai menyebabkan ketegangan dan rasa permusuhan yang kentara.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini