MALANG - Gas air mata yang ditembakkan polisi dalam kerusuhan di Stadion Kanjuruhan diduga menjadi pemicu banyaknya korban jiwa suporter Aremania, yang panik hingga berdesakan menyelamatkan diri keluar stadion. Dampak tembakan gas air mata sepekan lalu itu, masih dirasakan suporter yang terkena paparan tembakan gas tersebut.
Di antara dari mereka adalah kakak beradik Yustita dan Raffi Atha yang tampak dalam kondisi sehat, namun harus menjalani perawatan paska tragedi kemanusiaan tanggal 1 Oktober 2022.
Mereka adalah suporter Aremania yang berhasil selamat, dalam kerusuhan yang menewaskan 131 suporter, dua di antaranya anggota polisi.
Hingga sepekan paska kerusuhan dalam pertandingan Arema melawan Persebaya, kedua mata Raffi masih terlihat merah. Menurut dokter Rumah Sakit Saiful Anwar Malang, penyebabnya adalah paparan gas air mata yang ditembakkan oleh polisi.
Saat ini, Raffi masih menjalani rawat jalan dan menurut dokter diperkirakan kedua mata raffi baru sembuh dalam 30 hari setelah kejadian.
Saat gas air mata ditembakkan polisi ke arah penonton di tribun 11, Raffi mengalami sesak nafas, mata perih hingga pingsan karena terpapar gas tersebut.
"Saya sesak nafas, sempat dibawa ke rumah sakit dan memutuskan pulang ke rumah," kata Raffi, beberapa waktu lalu.
Selain Raffi, kakak kandungnya Yustita Nur Aini juga menjadi korban yang lolos dari maut meski sempat terhimpit dan terinjak injak penonton lain di pintu 13.