JAKARTA – Peninggalan Kerajaan Kediri akan dibahas dalam artikel ini secara lengkap. Kerajaan Kediri merupakan kerajaan yang berlokasi di Kediri, Jawa Timur. Kerajaan ini berkuasa selama 177 tahun dan mencapai puncak kejayaan pada saat diperintah oleh Raja Jayabaya (1135-1159 M).
(Baca juga: Ribuan Pegawai Kerajaan Kediri Dikerahkan Urus Gudang Penyimpanan Makanan untuk Rakyat)
Pada abad ke-12 Kerajaan Kediri menjadi sebuah Kerajaan besar. Dikenal dengan nama Panjalu yang berlokasi di Jawa Timur dengan corak Hindu. Kerajaan ini runtuh akibat perseteruan antara Kertajaya dan kaum Brahmana, runtuh pada tahun 1222.
Menjadi Kerajaan besar membuat Kerajaan Kediri memiliki beberapa peninggalan Kerajaan yang terdiri dari Prasasti, Candi dan Kitab yang dikutip Okezone dari berbagai sumber, Kamis (20/10/2022).
Prasasti peninggalan Kerajaan Kediri
1. Prasasti Ngantang
Prasasti Hantang ditemukan di Desa/Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang. Prasasti ini berbentuk batu besar yang ujung atasnya agak bulat. Prasasti terbuat dari batu andesit dan di bagian bawahnya agak rusak. Sedangkan aksara yang digunakan Jawa kuno dan berbahasa Jawa Kuno. Di bagian depan sampai sisi kanan terdiri dari 26 baris dan di bagian belakang sampai sisi kiri terdiri dari 29 baris.
Di bagian alasnya terdapat lanjutan kalimat yang beberapa kalimatnya sudah sulit terbaca. Batu prasasti ini di bagian tengah tingginya 159 cm dan tinggi tepiannya 145 cm. Lebar prasasti bagian atas 89 cm dan bagian bawah 68 cm. Ketebalan bagian atas 30 cm dan bagian bawah 29 cm, sedangkan alasnya memiliki tinggi 14 cm, panjang 87 cm, dan lebar 58 cm. Di bagian depan terletak di kedua sisi segel tanda enam surat tanda berpola (sang jahna wiyali)
2. Prasasti Jaring
Prasasti Jaring diterbitkan pada masa kerajaan Kediri oleh Raja Sri Gandra untuk mengukuhkan pemberian anugerah sima kepada penduduk Jaring yang telah dijanjikan oleh raja sebelumnya Sri Aryeswara. Anugrah simaperdikan dijanjikan karena penduduk Jaring banyak membantu Sri Aryeswara dalam merebut kembali kekuasaan dari Sri Sarweswara yang merebut kekuasaan dari Sri Jayabhaya.
Prasasti ini dibuat dari batu andesit dengan tinggi 170 cm, lebar 72-91 cm dan tebal 43 cm, saat ini masih di tempatnya yaitu di Dukuh Jaring, Kelurahan Kembang Arum, Kecamatan Sutojayan, Kabupaten Blitar, Jawa Timur.
3. Prasasti Kamulan
Prasasti Kamulan adalah tempat bersejarah berdirinya Kabupaten Trenggalek. Lokasi Prasasti Kamulan terletak di desa kamulan kec Durenan kab Trenggalek. Desa Kamulan saat ini merupakan salah satu sentra industri genteng yang sangat besar. Hasil produksi genteng tersebut dikirim ke berbagai wilayah di sekitar Jawa Timur, Jawa Tengah, bahkan ada yang sampai di kirim ke pulau Bali dan Kalimantan.
Prasasti Kamulan dikeluarkan oleh Raja Sarmeswara Trikramawataranindita Srngga Lancana Dikwijayotunggadewa atau yang lebih dikenal dengan nama Raja Kertajaya pada tahun 1196 Saka atau 1194 Masehi. Dalam prasasti kamulan ini memuat nama Kediri, yang diserang oleh raja di kerajaan sebelah timur.
Candi Peninggalan Kerajaan Kediri
1. Candi Panantaran
Candi Panataran yang memiliki nama asli Candi Palah ini terletak di lereng barat daya Gunung Kelud, sekitar 12 km kearah utara kota Blitar, tepatnya di Desa Panataran, Kecamatan Ngleggok, Kabupaten Blitar. Candi ini merupakan sekumpulan bangunan kuno yang berjajar dari barat-laut ke timur kemudian berlanjut ke tenggara menempati lahan seluas 12.946 m2.
Dalam kitab Desawarnana atau Nagarakertagama yang ditulis pada tahun 1365, Candi ini disebut sebagai bangunan suci "Palah" yang dikunjungi Raja Hayam Wuruk dalam perjalanan kerajaan bertamasya keliling Jawa Timur. Candi ini juga telah diusulkan dalam daftar situs Warisan Dunia UNESCO sejak 19 Oktober 1995.
2. Candi Mirigambar
Candi Mirigambar terletak di Desa Mirigambar, Kecamatan Sumbergempol, Tulungagung. Candi ini tersuruh dari batu bata, berbentuk reruntuhan dan masih terlihat rapih sampai sekarang. Relief yang tergambang di Candi ini mengisahkan tentang legenda Angling Dharma, sehingga sering disebut dengan Candi Angling Dharma.
Kitab Peninggalan Kerajaan Kediri
1. Kitab Smaradahana
Bukti dari kerajaan Kediri lainnya adalah kitab smaradhana karya Mpu Dharmaja. Kitab Smaradahana adalah sebuah karya sastra Jawa kuno dalam bentuk kakawin yang menyampaikan kisah terbakarnya Batara Kamajaya.
2. Kitab Bharatayudha
Kitab Bharatayuddha ditulis oleh Mpu Sedah dan Mpu Panuluh pada zaman kekuasaan Raja Jayabaya (1135-1159 M). Kitab ini selesai ditulis pada 1079 Saka atau tepatnya 6 November 1157 Masehi. Ceritanya merupakan penggalan dari Kitab Mahabharata yang mengisahkan tentang perang 18 hari antara Pandawa dan Kurawa di Padang Kuruksetra yang dikenal sebagai Perang Bharatayuddha.
3. Kitab Arjuna Wiwaha
Kitab ini menjadi kitab pertama yang berasal dari Jawa Timur. Karya sastra ini ditulis oleh Mpu Kanwa pada masa pemerintahan Prabu Airlangga, yang memerintah di Jawa Timur dari tahun 1019 - 1042 M. Sedangkan kakawin ini diperkirakan selesai digubah sekitar tahun 1030 dan disebut menggambarkan kehidupan Prabu Airlangga.
4. Kitab Lubdaka
Kitab Lubdaka ditulis oleh Mpu Tanakung pada zaman Raja Kameswara. Isinya tentang seorang pemburu bernama Lubdaka. Ia sudah banyak membunuh dan mengadakan pemujaan terhadap Dewa Syiwa sehingga rohnya yang semestinya masuk neraka menjadi masuk surga.
5. Kitab Kresnayana
Kitab Kresnayana dibuat pada masa pemerintahan Raja Jayaswara. Di masa itu, karya sastra memang mengalami kemajuan yang sangat pesat. Isi kitab Kresnayana karya Mpu Triguna mengenai riwayat hidup Kresna yaitu seorang anak dengan kekuatan super yang suka menolong.
(Fahmi Firdaus )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.