JAKARTA - Muhammadiyah di seluruh Indonesia terdiri dari anggota dan pemimpin dengan latar belakang yang beragam. Hal ini terlihat juga dalam pelayanan Muhammadiyah dalam bidang pendidikan.
Sekretaris Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Abdul Mu’ti memberikan permisalan soal murid sekolah Muhammadiyah tidak hanya berasal dari kalangan umat Islam. Banyak yang belajar di sekolah maupun di perguruan tinggi Muhammadiyah adalah mereka yang beragama non-Islam.
“Bahkan, di kawasan Indonesia timur, di mana umat Islam adalah minoritas. Justru mayoritas murid dan mahasiswa di sana adalah mereka yang beragama Kristen atau Katholik,” ungkap Abdul Mu'ti dalam program Special Dialogue Okezone bertemakan "Muhammadiyah Say No to Money Politic Jelang Muktamar".
Abdul Mu’ti baru saja mendapat informasi bahwa di Banyuwangi, Jawa Timur banyak sekolah Muhammadiyah yang muridnya multi-religion. Selain beragama Islam, Kristen, Katholik, ada juga yang beragama Hindu belajar di sekolah Muhammadiyah.
Keberagaman agama dalam pelayanan Muhammadiyah juga terlibat di dalam layanan rumah sakit Muhammadiyah.
"Kami maknai itu bukan jadi mereka sebagai orang yang harus menjadi anggota Muhammadiyah atau mereka harus beragama Islam, tetapi kita berusaha untuk menghadirkan Islam sebagai agama yang memberikan manfaat atau rahmat masyarakat bagi siapa saja. Karena hal itu, kami menyediakan layanan yang inklusif, terbuka, dan tidak hanya lintas agama, tetapi juga lintas suku,” jelasnya.
(Khafid Mardiyansyah)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.