Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Latar Belakang Timbulnya Perlawanan Rakyat Demak Terhadap Portugis

Rina Anggraeni , Jurnalis-Rabu, 02 November 2022 |15:21 WIB
Latar Belakang Timbulnya Perlawanan Rakyat Demak Terhadap Portugis
Ilustrasi (Foto: Historyofcirebo.id)
A
A
A

JAKARTA- Latar belakang timbulnya perlawanan rakyat Demak terhadap Portugis menarik untuk dibahas. Berawal dari bangsa Eropa pertama asal Portugis di bawah pimpinan de Alvin tiba pertama kali di Sunda Kelapa dengan armada empat buah kapal pada tahun 1513, sekitar dua tahun setelah menaklukkan kota Malaka.

Mereka datang untuk mencari peluang perdagangan rempah-rempah dengan dunia barat. Karena dari Malaka mereka mendengar kabar bahwa Sunda Kalapa merupakan pelabuhan lada yang utama di kawasan ini.

Mengetahui hal ini, Kesultanan Demak tidak mau tinggal diam dan melakukan penyerangan.

Pada masa kekuasaan Raden Patah, perlawanan rakyat Demak terhadap Portugis dipimpin oleh Pati Unus. Serangan yang dilakukan pada 1513 itu dilengkapi dengan kekuatan 100 kapal dan 5.000 pasukan dari Jawa, serta tambahan tentara dari Palembang, hingga jumlahnya menjadi 12.000 pasukan.

Latar belakang timbulnya perlawanan rakyat Demak terhadap Portugis untuk mengusir penjajahan tersebut. Meskipun sempat gagal namun bisa dilakukan berhasil. Awalnya, Kesultanan Demak juga melakukan perlawanan terhadap Portugis yang hendak mendirikan loji di Sunda Kelapa.

Akan tetapi, kekuatan yang sangat besar tersebut dapat dipatahkan oleh Portugis, sehingga Pati Unus terpaksa kembali ke Jawa dengan kekalahan. Setelah Raden Patah wafat pada 1518, takhta Kesultanan Demak jatuh ke tangan Pati Unus, yang kembali mempersiapkan armada untuk menggempur kedudukan Portugis di Malaka. Maka pada 1521, ia kembali melakukan perlawanan ke Malaka. Namun, Portugis ternyata menyambut pasukan Demak dengan pertahanan yang lebih baik.

Pada 1527, pasukan gabungan Demak, Cirebon, dan Banten diberangkatkan untuk membendung pengaruh Portugis di Sunda Kelapa. Akhirnya, pada 22 Juni 1527, Sunda Kelapa berhasil direbut oleh Fatahilllah, yang kemudian mengubah namanya menjadi Jayakarta.

Pada tanggal 21 Agustus 1522 ditandatangani perjanjian antara Portugis dan Kerajaan Sunda Pajajaran. Perjanjian diabadikan pada prasasti batu Padrao yang kini dapat dilihat di Museum Nasional.

"Dengan perjanjian tersebut Portugis berhak membangun pos dagang dan benteng di Sunda Kalapa. Pajajaran berharap Portugis dapat membantu menghadapi serangan kerajaan-kerajaan Islam seperti Demak dan Cirebon seiring dengan menguatnya pengaruh Islam di pulau Jawa yang mengancam keberadaan kerajaan Hindu Sunda Pajajara

Adapun, Dinasti Kerajaan Demak berakhir pada tahun 1546, yang hanya bertahan selama 68 tahun sejak berdirinya kerajaan Demak. Secara berturut-turut, hanya tiga Raja Demak yang berhasil membawa Demak pada masa Kejayaannya, yaitu Raden Patah sebagai raja pertama, Adipati Muhammad Yunus atau lebih dikenal dengan nama Pati Unus sebagai raja kedua, dan Sultan Trenggono sebagai Raja ketiga (1524-1546).

(RIN)

(Rani Hardjanti)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement