JAKARTA - Nobel merupakan penghargaan yang cukup bergengsi, namun tidak semua pemenang bersedia menerimanya. Dalam catatan sejarah, ada enam orang yang menolak Hadiah Nobel. Sebagian menolak karena dilarang pemerintah dan dua pemenang lainnya karena keinginan sendiri.
Berikut ini 6 tokoh yang menolak nobel dilansir beragam sumber, Jumat (4/11/2022).
(Baca juga: 5 Tokoh Penerima Nobel Perdamaian dari Asia Tenggara, 2 Orang Asal Timor Leste)
1 . Adolf Butenandt
Ilmuwan biokimia asal Jerman ini memperoleh penghargaan Nobel Kimia pada 1939 berkat penelitiannya tentang hormon seksual. Bersama Leopold Ruzicka, ilmuwan Swiss yang berbagi Nobel dengannya, ia berhasil membuat sintesis hormon testosteron dan kelak menjadi pijakan bagi ditemukannya pil kontrasepsi. Seperti biasa, rezim Hitler melarang siapapun menerima Nobel. Tak terkecuali Butenandt. Padahal secara prinsip, Butenandt sebenarnya menolak fasisme Nazi. Akhirnya panitia Nobel baru memberikan penghargaannya pada 1949 ketika Perang Dunia II telah berakhir.
2. Richard Kuhn
Richard Kuhn adalah jenius yang dikenal dekat dengan rezim Nazi Jerman dan tokoh yang sangat pro Hitler. Pada umur 21 tahun, ia sudah berhasil menggondol gelar doktor dalam biokimia. Lima tahun kemudian, ia jadi profesor. Lewat penelitian ekstensifnya tentang carotenoid dan vitamin, ia berhasil menemukan struktur kimia vitamin A, B2, B6 dan, yang terpenting, sanggup mensintesiskan ketiganya. Kuhn diganjar hadiah Nobel Kimia pada 1938. Tapi, rezim fasis Nazi memaksanya menolak penghargaan tersebut.
3. Boris Pasternak
Boris Leonidovich Pasternak menulis novel Doctor Zhivago dan ia pun diumumkan meraih Nobel Sastra. Novel itu memang dilarang beredar di negaranya sendiri gara-gara dianggap mengandung kritik terhadap sosialisme Uni Soviet. Pada 1957, Doctor Zhivago berhasil diselundupkan ke Italia dan diterbitkan di sana.
Setahun kemudian, edisi bahasa Inggrisnya terbit dan menjadi bestseller. Setelah Nobel Sastra untuk Pasternak diumumkan pada 1958, Pemerintah Soviet melarangnya pergi ke Stockholm. Pelarangan ini disertai ancamanjika Pasternak tetap nekat pergi, ia tidak boleh kembali lagi ke negaranya. Pasternak tak punya pilihan selain menuruti ultimatum rezim