Share

5 Tokoh Penerima Nobel Perdamaian dari Asia Tenggara, 2 Orang Asal Timor Leste

Tim Litbang MPI, MNC Portal · Selasa 13 September 2022 05:01 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 12 18 2665677 5-tokoh-penerima-nobel-perdamaian-dari-asia-tenggara-2-orang-asal-timor-leste-As2zTydTcI.jpeg Jose Ramos Horta (Foto: Reuters)

PENGHARGAAN Nobel atau Nobel Prize merupakan penghargaan bergengsi yang diberikan kepada mereka yang telah memberikan kontribusi luar biasa pada masyarakat. Penghargaan yang diinisiasi oleh Alfred Nobel ini dikelola oleh Royal Swedish Academy, Karolinska Institutet, the Swedish Academy, dan Norwegian Nobel Comitte.

Setiap tahunnya, Penghargaan Nobel memberikan penghargaan dalam beberapa bidang keilmuan, antara lain fisika, kimia, kedokteran, sastra, ekonomi, termasuk juga perdamaian.

Nobel Perdamaian adalah kategori terakhir yang disebutkan Alfred Nobel dalam wasiatnya. Norwegian Nobel Comitte menjadi pihak yang bertanggung jawab dalam hasil keputusan kategori perdamaian. Tidak hanya wilayah Eropa saja, Penghargaan Nobel diberikan dalam skala global. Bahkan, ada beberapa tokoh dari Asia Tenggara yang berhasil memenangkan penghargaan tersebut.

Berikut 5 tokoh penerima Nobel Perdamaian dari Asia Tenggara.

1. Le Duc Tho (Vietnam)

Konflik antara Vietnam dan AS menemui titik temu dengan penandatanganan Perjanjian Damai Paris pada tahun 1973. Le Duc Tho yang menjadi delegasi Vietnam Utara berhasil bernegosiasi dengan penasihat keamanan nasional AS Kissinger untuk perjanjian gencatan senjata.

Tanpa ragu, Norwegian Nobel Comitte menetapkan Le Duc Tho dan Kissinger sebagai penerima Penghargaan Nobel Perdamaian tahun 1973. Namun, pria kelahiran 14 Oktober 1911 ini kemudian menolak hadiah tersebut dengan alasan pihak Amerika telah melanggar perjanjian tersebut.

2. Aung San Suu Kyi (Myanmar)

Aung San Suu Kyi menerima Penghargaan Nobel di bidang Perdamaian tahun 1991. Dia memulai perjuangan tanpa kekerasan untuk menuntut pelaksanaan demokrasi dan hak asasi manusia di Myanmar. Dia menentang penggunaan kekerasan dan meminta para pemimpin militer untuk menyerahkan kekuasaan kepada pemerintah sipil.

Karena berbagai protes yang dilayangkannya, wanita kelahiran 19 Juni 1945 ini ditempatkan dalam tahanan rumah pada 1989. Pihak militer sudah menawarkan pembebasan dengan syarat dia setuju untuk meninggalkan Myanmar.

Namun begitu, Aung San Suu Kyi menolak untuk meninggalkan Myanmar sampai negara itu dikembalikan ke pemerintahan sipil. Saat menerima Penghargaan Nobel, Aung San Suu Kyi masih menjadi tahanan rumah, sehingga sang anaklah yang menggantikannya untuk menerima penghargaan itu.

3. José Ramos-Horta (Timor Leste)

Aktivis politik Timor Leste José Ramos-Horta menerima Hadiah Nobel Perdamaian tahun 1996 atas upayanya membawa perdamaian dan kemerdekaan ke Timor Timur. Dalam upaya pembebasan Timor-Timur dari Indonesia, Ramos-Horta melakukan upaya diplomasi dengan mencari dukungan dari berbagai negara, khususnya di PBB.

Usahanya dalam berdiplomasi dan membuat perjanjian perdamaian membuat José Ramos-Horta dianugerahi Penghargaan Nobel Perdamaian di tahun 1996.

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut bersama Lifebuoy x MNC Peduli Tengah Berlangsung!

4. Carlos Filipe Ximenes Belo (Timor Leste)

Aktivis Timor Timur lainnya yang menerima hadiah Nobel adalah Carlos Filipe Ximenes Belo. Dia menerima penghargaan Nobel tahun 1996 dalam kategori Perdamaian bersama José Ramos-Horta. Dia merupakan seorang kepala gereja Katolik di Timor Timur yang menjadi aktivis dalam upaya kemerdekaan Timor Timur.

Pada 1994, Belo menulis surat terbuka yang berisi usulan kepada pemerintah Indonesia untuk mengizinkan Timor Timur mengadakan referendum demokratis tentang penentuan nasib sendiri. Referendum inilah yang membuka jalan bagi Timor Timur untuk mencapai kemerdekaan pada tahun 2002. Usahanya ini yang kemudin membawa Belo mendapatkan penghargaan Nobel Perdamaian di tahun 1996.

5. Maria Ressa (Filipina)

Pada 2021 lalu, Maria Ressa menerima penghargaan Nobel untuk kategori Perdamaian atas perjuangannya dalam kebebasan pers. Dia merupakan CEO dan salah satu pendiri dari situs berita online, Rappler. Sebelumnya, Ressa juga pernah menjadi reporter investigasi untuk CNN selama hampir dua dekade.

Dilansir dari Sindonews, The Guardian menyebut Ressa sebagai “jurnalis pemberani”. Sebagai seorang jurnalis, wanita kelahiran 2 Oktober 1963 ini telah mengungkap berbagai kejahatan dalam masa kekuasaan Presiden Rodrigo Duterte, seperti penyalahgunaan kekuasaan dan penggunaan kekerasan. (Mirsya Anandari Utami-Litbang MPI)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini