JAKARTA - Pagi di tanggal 20 Januari 2020 menjadi sebuah peristiwa yang tidak pernah dibayangkan masyarakat Jamaika sebelumnya. Untuk pertama kalinya dalam 40 tahun terakhir, sebuah kapal pesiar bersandar di Port Royal yang bersejarah.
Sebuah dermaga apung baru diperluas untuk menyambut sekitar 2.000 pengunjung yang tersenyum saat menjejakkan kaki di pulau itu.
BACA JUGA:Survei LSN : Elektabilitas Partai Perindo Capai 4,1%
Sebagaiman dilansir dari BBC, Jumat (4/11/2022), Itu adalah peristiwa yang membanggakan bagi penduduk Kota Kingston. Peristiwa itu sebenarnya lama didambakan, tapi tak pernah terwujud karena konflik politik.
Kedatangan kapal pesiar itu juga menandai babak baru yang cerah untuk Port Royal, sebuah sejarah yang dikenal banyak orang Jamaika tetapi jarang dibicarakan di luar pantainya.
BACA JUGA:Kebakaran Hebat di Pasar Galala, 16 Ruko Ludes Dilalap Api
Port Royal sekarang menjadi kampung nelayan yang tenang di ujung lahan sepanjang 29 kilometer yang membentang dari Kingston. Namun pada akhir abad ke-17 reputasinya begitu buruk sehingga dianggap sebagai tempat paling kejam di muka bumi.
Dikendalikan Spanyol selama lebih dari 150 tahun karena lokasinya yang strategis, pada tahun 1655 Jamaika diserang pasukan Inggris. Secara tiba-tiba peralihan kepemilikan yang menguntungkan Inggris terjadi.
Namun karena tenaga kerja Inggris terbatas untuk melindungi pulau itu, gubernur jenderal saat itu, Edward D'Oyley, akhirnya merekrut bajak laut dan prajurit bayaran.
Situasi itu, ditambah dengan keuntungan dari perdagangan budak, gula dan kayu gelondongan, membuat Port Royal berubah menjadi tempat alkohol, uang, dan seks. Bahkan, seperempat dari seluruh bangunan di tempat ini adalah bar dan rumah bordil.
Kawasan ini dengan cepat berkembang menjadi lahan basah bergelimang uang. Kerakusan bajak laut dan pesta pora menjadi legenda tempat ini.
Ketenaran Port Royal akhirnya mengundang pelaut terkenal zaman itu untuk berlabuh, salah satunya Kapten Henry Morgan. Mereka menyerang dan menjarah pelabuhan Spanyol yang tidak dipertahankan dengan baik di wilayah itu.
Setelah menjarah, para pelaut dengan cepat menghabiskan keuntungan mereka lewat gaya hidup hedonistik yang absurd.
"Para bajak laut ini bebas melakukan yang mereka suka karena mereka dianggap membela kepentingan Jamaika. Pihak berwenang tidak punya pilihan selain membiarkan mereka," kata sejarawan lokal, Peter Gordon.
"Bayangkan sebuah kota penuh emas dengan orang-orang yang karakternya dipertanyakan dan bebas melakukan apa yang mereka inginkan. Jumlah rumah bordil, bar, dan gereja di tempat itu sama. Anda dapat bayangkan betapa keras suasana Port Royal kala itu," kata Gordon.
Namun, suatu pagi tanggal 7 Juni 1692, Port Royal dengan sendirinya berubah untuk selamanya. Sebanyak 2.000 orang tewas akibat gempa bumi besar yang menghancurkan sebagian besar kawasan itu.
Port Royal yang muncul setelah bencana itu tidak akan pernah sama dengan sebelumnya.
"Gempa bumi menghancurkan Port Royal dan daratannya, yang luasnya sekitar 52 hektare," kata Selvenious Walters, direktur teknis arkeologi di Yayasan Cagar Budaya Nasional Jamaika.
"Sekitar dua pertiganya hancur dan tenggelam di Pelabuhan Kingston. Gempa bumi menghancurkan bangunan. Banyak orang meninggal karena dinding yang runtuh. Jumlah yang tewas kira-kira lebih dari setengah populasi," ujar Walters.
Citra buruk Port Royal yang tidak diketahui orang-orang di luar Jamaika agak mengejutkan.
Namun belakangan, sisa-sisa air bawah tanah bekas kota bajak laut itulah yang membuat eks lokasi Port Royal menakjubkan. Berada hanya beberapa meter di bawah permukaan air di titik yang minim oksigen, reruntuhan Port Royal adalah kapsul waktu kehidupan kota pelabuhan kolonial abad ke-17.
"Ini diyakini sebagai salah satu situs warisan bawah air yang paling dilestarikan di belahan bumi ini," kata Walters.
"Dan mungkin reruntuhan ini satu-satunya di belahan dunia ini. Jadi bukan hanya demi Jamaika, tapi juga masyarakat dunia, kami sangat harus melindungi dan melestarikan warisan berharga ini," tuturnya
(Nanda Aria)