PADA 14 Agustus 1642, Abel Tasman, seorang pelaut Belanda bertolak dari Batavia, saat ini Jakarta, Indonesia, dalam misi untuk menemukan sebuah benua besar di belahan Bumi bagian selatan. Meski pada saat itu sebagian besar dunia masih misterius bagi orang-orang dan pelaut Eropa, Tasman memiliki keyakinan kuat bahwa ada daratan luas di selatan Bumi, yang sebelumnya dinamai Terra Australis.
Tasman bertolak dengan dua kapal menuju ke barat, lalu ke selatan, lalu ke timur, sampai mereka berakhir di Pulau Selatan, Selandia Baru. Namun, pertemuan pertama Tasman dengan duku Maori di Selandia Baru berakhir dengan bentrokan, yang menyebabkan empat pelaut Eropa tewas.
Insiden itu mengakhiri perjalanan Tasman, yang kemudian menamai lokasi itu sebagai Teluk Moordenaers (Teluk Pembunuh) dan berlayar pulang beberapa hari kemudian. Dia bahkan tidak pernah menginjakkan kaki di daratan yang baru saja dia temukan.
Tasman memang tidak pernah menemukan benua baru yang dia impikan. Pada masa itu keberadaan Australia sudah dikenal oleh penjelajah Eropa, namun mereka meyakini lokasi itu bukanlah benua yang mereka cari, meski kemudian menamakannya sebagai Australia, dari Terra Australis.