SEMARANG – Bunyi mesin pencuci darah terus terdengar di antara bilik-bilik unit hemodialisis RS Roemani Muhammadiyah Semarang, termasuk milik Saiful Anwar yang saat itu tengah menjalani cuci darah. Sudah 12 tahun pria itu menjalani cuci darah akibat penyakit gagal ginjal kronis yang dideritanya, bahkan membuatnya sempat depresi. Bagaimana tidak, seperti jatuh tertimpa tangga, ia sakit sekaligus dikeluarkan dari tempat bekerja.
“Jelas bingung, tidak tahu harus mendapatkan biaya dari mana. Padahal untuk sekali cuci darah baik pemeriksaan maupun tindakan butuh biaya cukup banyak,” ucap Saiful mengawali kisahnya, Kamis (22/09/2022).
Dia menceritakan, pada awalnya dia menjalani tindakan hemodialisis di RS Telogorejo Semarang karena di tempat tinggalnya belum ada rumah sakit yang melayani hemodialisis. Biaya pribadi yang harus Saiful keluarkan untuk sekali tindakan mencapai Rp1,5 juta.
BACA JUGA:Perawat Hemodialisis ini Akui Banyak Masyarakat yang Terbantu Berkat Program JKN
Berat, tentu saja. Namun, mau tak mau ia membutuhkan tindakan cuci darah tersebut untuk bertahan hidup. Berjuang dengan uang sendiri tentu sangat melelahkan baginya. Beruntungnya, pada tahun 2014 pemerintah menghadirkan Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang menjamin biaya cuci darah.