Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Kisah Ngatijan: Prajurit Pasukan Elite Sakti Selamatkan Temannya dari Pembantaian

Sucipto , Jurnalis-Selasa, 21 Februari 2023 |07:04 WIB
Kisah Ngatijan: Prajurit Pasukan Elite Sakti Selamatkan Temannya dari Pembantaian
Ilustrasi Prajurit PGT di penjara Pulau Wundi (Foto: TNI AU)
A
A
A

NGAJITAN, prajurit Pasukan Gerak Tjepat (PGT) sekarang bernama Komando Pasukan Gerak Cepat (Kopasgat) TNI AU mungkin tidak dikenal banyak orang.

Namun berkat kesaktian Ngatijan, teman-temannya berhasil dilindungi dari pembataian saat di dalam penjara.

Dikutip dari buku 'Heroisme PGT Dalam Operasi Serigala: Pengibaran Bendera Merah Putih Pertama di Teminabuan' yang diterbitkan Subdisjarah Dinas Penerangan Angkatan Udara (Dispenau), diceritakan, Ngatijan merupakan salah satu prajurit Korps Baret Jingga yang diterjunkan dalam Operasi Serigala.

Operasi militer berskala besar yang digelar Angkatan Udara Mandala (AULA) di bawah kepemimpinan Panglima AULA Komodor Udara Leo Wattimena yang juga merangkap Wakil Panglima II Komando Mandala (KOLA) ini antara lain, melakukan infiltrasi atau penyusupan ke pertahanan Belanda sebagai pasukan pendahulu sebelum pasukan lainnya masuk ke Papua melalui daerah Sorong dan Teminabuan.

Operasi militer terpaksa diambil lantaran Belanda tidak mau menyerahkan Papua kepada Indonesia. Sikap Belanda tersebut melanggar perjanjian Konferensi Meja Bundar (KMB) yang telah disepakati.

Panglima Komando Mandala (KOLA) Presiden Soeharto yang kala itu berpangkat Mayjen TNI, meminta Leo Wattimena menyiapkan pasukan yang memiliki kemampuan khusus untuk menjalankan operasi infiltrasi dengan cara diterjunkan. Saat itulah, Leo Wattimena menunjuk Komandan III PGT di PAU Margahayu Letnan Udara (LU) I Lambertus Manuhua untuk memimpin pasukan.

Selanjutnya, pada 17 Mei 1962 tepat pukul 04.00 dini hari, sebanyak 119 pasukan Baret Jingga ini diterbangkan dengan menggunakan tiga pesawat Dakota C-47 dari Pangkalan Udara Laha, Ambon.

Mereka rencananya diterjunkan di daerah Klamono, Sorong . Sayangnya, hanya satu pesawat yang berhasil melakukan penerjunan pasukan PGT sebanyak 39 orang dengan Komandan Kompi LU I Lambertus Manuhua dan Danton Sersan Muda Udara (SMU) Soepangat.

Sedangkan dua pesawat lainnya gagal menerjunkan PGT karena cuaca buruk dan terpaksa kembali ke pangkalan udara Laha, Ambon. Penerjunan baru bisa dilakukan dua hari kemudian yakni, pada 19 Mei di daerah Teminabuan.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement