JAKARTA - Jenderal Hoegeng dikenal sebagai sosok polisi jujur. Ia pun menjadi sosok teladan.
Melansir Antara, ternyata Hoegeng tidak memberikan izin anaknya untuk mendaftar Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri). Hal ini terungkap dalam buku yang berjudul "Dunia Hoegeng, 100 Tahun Keteladanan" yang ditulis wartawan senior bernama Farouk Arnaz.
Kisah ini berawal saat Aditya Soetanto Hoegeng yang merupakan anak kedua Hoegeng ingin masuk Akabri. Saat itu, Adit masih duduk di bangku sekolah menengah atas (SMA).
Sejak sekolah, Adit bercita-cita masuk Akabri agar bisa masuk ke milter. Untuk bisa mendaftar, salah satu syaratnya harus melampirkan surat izin dari orang tua.
Dengan penuh semangat dan percaya diri, Adit datang ke Markas Besar (Mabes) Polri untuk meminta surat izin orang tuanya, Jenderal Hoegeng.
Sesampainya di Mabes Polri, dia bukannya disuruh masuk, tapi diminta tunggu oleh ajudan Hoegeng. Tak lama, dia akhirnya diizinkan masuk.
Pada momen pertemuan tersebut, untuk pertama kalinya dia melihat sosok Hoegeng bukan sebagai seorang ayah yang biasanya ramah dan hangat kepada anak-anaknya.
Adit mengenang, saat itu Hoegeng hanya melihat ke arahanya dan bertanya keperluan apa menemuinya di kantor. Sontak saja hal itu membuatnya gugup karena melihat dua sosok yang berbeda dalam waktu bersamaan.
Di satu sisi, dia melihat Hoegeng sebagai ayah kandungnya. Di sisi lain, dia sedang berhadapan dengan seorang Kapolri dan memperlakukan dirinya seperti tamu-tamu lainnya.
Setelah menyampaikan niatan membutuhkan surat izin dari orang tua, Kapolri pada periode 1968-1971 hanya menjawab nanti saja kepada anaknya.
Pembicaraan mereka tak berlangsung lama. Bahkan, selepas itu Hoegeng sama sekali tidak menyapa atau mempersilakan anaknya duduk. Dia malah meneruskan pekerjaannya yang menumpuk di meja kerja.