Kemudian pilar kedua, sebut Syafrudin, adalah green, yakni 70 persen kawasan TMII adalah kawasan hijau yang ramah lingkungan. Bahkan, menurutnya tidak semua kendaraan berbahan bakar fosil dapat masuk ke TMII.
“Jadi disini konsepnya adalah kendaraan listrik. Jadi kalau anak-anak mau bersepeda atau orang tua mau naik shuttle listrik kita juga sediakan di dalam,” ungkapnya.
Selanjutnya, tutur Syafrudin, pilar ketiga adalah smart. Salah satu contohnya, seluruh transaksi pembayaran di TMII telah menggunakan transaksi nontunai.
“Jadi di TMII ini kita sediakan semua transaksi pembayaran itu menggunakan sistem pembayaran yang cashless untuk memudahkan masyarakat untuk bertransaksi,” jelasnya.
Adapun pilar keempat, sebut Syafrudin, adalah local culture, yakni TMII membawa misi pelestarian budaya Indonesia.
“Atraksi-atraksi yang kita sediakan di TMII adalah atraksi budaya Indonesia. Jadi, kalau masyarakat berkunjung ke TMII itu, secara reguler (setiap) pukul 15.00 WIB kita (tampilkan) atraksi-atraksi budaya. Ada tari dari Papua, Sumatra, Kalimantan, semuanya kita tampilkan,” ungkapnya.