KAPTEN Andi Azis melakukan pemberontakan pada 5 April 1950. Andi Azis menolak datangnya Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat (APRIS) dan berniat mempertahankan Negara Indonesia Timur.
Pada Rabu 5 April 1950, Letkol. Mokoginta dipaksa datang ke asrama Kapten Andi Azis dan ternyata ia ditangkap. Sementara itu Kompi Polisi Militer di Makassar sudah dilucuti oleh bekas-bekas KNIL bersama KL. Menjelang tengah hari, seluruh Makassar dikuasai oleh Andi Azis dan kapten ini lalu mengirimkan ultimatum kepada Pemerintah RIS, supaya tidak mendaratkan pasukan TNI di Sulawesi Selatan.
Demikian dilansir dari buku “Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya” yang ditulis G. Dwipayana dan Ramadhan KH, diterbitkan PT Citra Kharisma Bunda Jakarta, tahun 1982, seperti dikutip dari hmsoeharto.id.
Kapten Andi Azis memperkuat pasukannya dengan persenjataan berat dan sebuah pembom untuk membuktikan kesungguhannya.
Pemerintah di Jakarta pada mulanya berusaha menyelesaikan “Peristiwa Andi Azis” itu dengan menginsafkan Andi Azis dan memanggilnya ke Jakarta. Tetapi sekalipun kemudian Andi Azis berjanji akan memenuhi panggilan itu, ternyata ia datang terlambat, melewati batas waktu yang sudah diumumkan.
Akibatnya ia dinyatakan sebagai pemberontak. Tindakan Kapten Andi Azis itu dianggap oleh Kementerian Pertahanan dan Pemerintah RIS sebagai tindakan yang melanggar hukum dan disiplin tentara, serta menghina sumpah tentara.
Presiden Soekarno mengumumkan lewat radio tentang pemberontakan Andi Azis itu. Lalu Menteri Pertahanan membentuk sebuah pasukan ekspedisi untuk menumpas pemberontakan Andi Azis itu pada tanggal 7 April 1950.
BACA JUGA:
Pasukan ekspedisi itu dipimpin oleh Kolonel A.E. Kawilarang yang belum lama memimpin Divisi di Sumatera Utara, dengan kekuatan satu divisi yang terdiri atas Brigade XVIII/Divisi I Jawa Timur yang dipimpin oleh Letkol. Suprapto Sukowati dan Letkol. Warrouw, Brigade I, yaitu Brigade Mataram/Divisi III Jawa Tengah yang Soeharto pimpin, Batalyon I Brigade XIV/Siliwangi Jawa Barat yang dipimpin oleh Kapten Bohar Ardikusuma dan satu batalyon seberang dari Jawa Timur yang dipimpin oleh Mayor Andi Matalatta.
"Pada tanggal 8 April 1950 saya sebagai Komandan Brigade Mataram/Divisi III Diponegoro menerima perintah untuk mempersiapkan satu staf brigade mobil dan dua batalyon penggempur," ungkap Soeharto.
Semenjak Aksi Militer Belanda ke-2, Brigade X yang Soeharto pimpin itu bernama “Brigade Mataram” dengan panji yang berlukiskan seekor burung garuda berwarna kuning dan bertuliskan “Mataram”. Sebab itu, biasa pula orang awam menyebut brigade ini “Brigade Garuda Mataram”.
"Kedua batalyon penggempur yang saya tetapkan ialah Batalyon Kresno di bawah pimpinan Darjatmo dan Batalyon Seno di bawah pimpinan Mayor Sudjono. Pada waktu itu, sebenarnya Brigade Mataram sedang mengadakan konsolidasi ke dalam, seperti halnya juga dengan kesatuan-kesatuan lainnya. Waktu untuk persiapan hanya lima hari. Kemudian kami harus terus berangkat," jelas Soeharto.
Perlengkapan alat senjata yang dibawa berupa pistol dan jungle rifle bagi para perwira dan para pejabat komandan seksi ke atas; senapan sten dan bren untuk regu ringan, selanjutnya mortir ringan bagi regu tertentu. Yang paling berat hanyalah mitralyur penangkis serangan udara ukuran 12,7 mm.
Sementara itu meskipun terjadi pemberontakan separatis di Indonesia Timur, pada tanggal 8 April 1950 Dewan Perwakilan Sementara RIS memutuskan untuk memilih Negara Kesatuan RI, negara yang dicita-citakan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.
"Di tengah suasana seperti itu kami harus berangkat ke Sulawesi Selatan. Dan perubahan RIS menjadi RI kembali itu terjadi sewaktu saya masih berada di Makassar, yakni pada tanggal 17 Agustus 1950," jelas dia.
Tanggal 14 April 1950 bersiaplah Staf Brigade Mataram di halaman Markas untuk memberikan laporan, bahwa semua telah siap untuk berangkat. Lalu meninggalkan Yogya, meninggalkan keluarga masing-masing dengan penuh haru dan menyongsong nasib yang masih dipertanyakan, demi membela kemerdekaan yang sudah kita dapatkan bersama.
Dalam perjalanan, mulai dari Bedono terus sampai Semarang, terlihat bendera Belanda tiga warna, sebagai tanda di tempat-tempat itu masih terdapat KL dan KNIL yang sedang menunggu status lebih lanjut. Begitu suasana di tengah perjalanan. Insiden tidak terjadi. Kami pegang teguh disiplin.
Tanggal 17 April 1950 di Semarang Letkol. Sentot Iskandardinata, Kepala Staf pasukan ekspedisi itu, menyampaikan perintah operasi kepada Soeharto, yakni Brigade Mataram harus mendarat di Bontain.
"Kemudian saya harus menguasai kota. Markas Brigade tetap di Bontain. Kemudian saya harus mengirimkan satu batalyon ke Makassar. Begitu perintah pertama," tuturnya.
Keesokan harinya Kolonel Kawilarang disertai Kolonel Gatot Soebroto yang Soeharto dampingi memeriksa Batalyon Kresno dan Batalyon Seno. Ternyata kedua batalyon itu yang paling dulu siap di antara semua yang akan dikirimkan.
Setelah selesai persiapan, pada tanggal 19 April 1950 barang-barang anggota Brigade Mataram yang ikut serta dalam ekspedisi sudah ada di atas kapal “Waiwerang”. Keesokan harinya, tanggal 20 April seluruh staf dan anggota brigade telah naik ke atas kapal “Waiwerang” itu, siap melaksanakan operasi.
Tanggal 21 April, pukul 18.00 sore berangkatlah kami menuju sasaran, dengan kode operasi “Macan” dan sasaran kami disebut “Kelapa”.
Pada tanggal 24 April, sedikit lewat setengah dua belas malam, dalam briefing di kapal korvet “Hang Tuah”, waktu berada di tempat rendezvous di pulau De Bril, Kolonel Kawilarang mengadakan perubahan rencana operasi.
"ltu disebabkan oleh karena Andi Azis sudah menyerah kepada Pemerintah di Jakarta dan Batalyon Worang telah berhasil mendarat di Jeneponto, serta kemudian menguasai Makassar. Maka lalu brigade kami mendarat langsung di Makassar," ujarnya.
Saya ditetapkan menjadi Komandan Sektor Makassar yang meliputi kota Makassar dan daerah pantai Jeneponto sampai Gunung Lompobattang, ke utara lurus sampai timur Pancana, membelok, ke barat hingga selatan Pancana. Kota Makassar ditetapkan berada di bawah Komando Militer Kota (KMK).
"Pasukan-pasukan saya mendarat dengan selamat pada tanggal 26 April 1950. Rakyat menyambut kedatangan kami dengan hangat. Patut saja begitu, karena sebelumnya mereka mendapat tekanan hebat dan mengalami tindakan kejam dari orang-orang KNIL/KL itu," kata dia.
Sementara itu Kolonel Kawilarang sudah diangkat menjadi Panglima T & T VII/Indonesia Timur menggantikan Letkol. A.J. Mokoginta. Pasukan-pasukan bekas KNIL dan KL itu masih saja tidak senang dengan kedatangan pasukan, sekalipun Andi Azis sudah menyerah. Maka terjadi beberapa insiden yang mengakibatkan korban jiwa.
(Qur'anul Hidayat)