JAKARTA - G30S PKI pada 1965 silam merupakan salah satu sejarah kelam bangsa Indonesia. Saat itu orang-orang komunis melakukan pembantaian terhadap sejumlah perwira tinggi TNI AD.
Tak hanya itu, pemberotakan PKI juga pernah dilakukan jauh sebelumnya dengan membantai para kiai dan santri pada 1948. Mereka melakukan makar untuk mewujudkan negara komunis Indonesia dengan mengganti ideologi Pancasila.
Aksi pembantaian ulama ini banyak orang yang menjadi korban, termasuk para ulama dari Nahdlatul Ulama (NU). Namun, sejumlah kiai berhasil melakukan perlawanan terhadap PKI. Salah satunya adalah Kiai Imam Khalil yang akrab disapa Kiai Imam Sarang. Kiai Imam terkenal dengan karomah penjalinnya.
Diceritakan dalam buku Manaqib KH Imam Khalil Kyai Sufi Membumi, sebelum meletusnya peristiwa pembantaian ulama, Kiai Imam Sarang selalu mengumandangkan adzan subuh selama tiga hari berturut-turut di Pesantren Sarang Kabupaten Rembang, Jateng.
Sehingga hal itu membuat gempar orang-orang yang mendengarnya lantaran mendengar suara adzan dari ulama karismatik itu. Sebab, masyarakat percaya bahwa ketika adzan subuh terdengar suara Kiai Imam Khalil pasti akan terjadi sesuatu yang mengerikan, di antaranya bencana, musibah, atau hal lainnya.
Pada waktu itu ada salah satu santri yang pulang ke rumahnya. Ia lalu menanyakan perihal adzan Subuh kiainya kepada sang ayah, “Pak ape ono opo iki kok Mbah Imam adzan subuh mben isuk sampek tigang dinten?” (Pak mau ada apa ini? Kok Kiai Imam adzan subuh tiap pagi hari sampai tiga hari), demikian dilansir dari NUOnline, Selasa (20/6/2023).
“Iki ape ono parigawe cong” (Ini mau ada peristiwa besar nak) jawab wali santri tersebut.
Tak berselang lama, kurang dari sebulan datanglah PKI ke wilayah Sarang. Satu minggu sebelum kejadian itu, tepat pada Jumat, Kiai Imam Khalil memesan bambu runcing dalam jumlah besar.
Lalu bambu-bambu tersebut diserahkan Kiai Imam Khalil kepada santri-santrinya. Dengan memberanikan diri, ada salah seorang santri menanyakan perihal bambu tersebut.
"Niki kangge nopo mbah (ini untuk apa Mbah?)," kata dia.
“Iki kanggo jogo-jogo (ini untuk jaga-jaga)," timpal Kiai Imam Khalil.
Kemudian tersebarlah kabar pemberontakan PKI. Sehingga barulah diketahui maksud Kiai Imam Khalil membagikan bambu-bambu tersebut. Masyarakat, kemudian banyak yang sowan untuk meminta bambu kepada Kiai Imam Khalil.
Namun, rupanya bambu-bambu itu tidak cukup dan sudah habis dibagi-bagikan ke santrinya. Akhirnya, Kiai Imam Khalil memanggil semua pengurus pondok. Beliau mengutus mereka untuk mencari sodo aren (lidi pohon aren) sebagai ganti bambu-bambu yang telah habis.
Setelah mencari kesana-kemari hingga ke selatan Kota Tuban, para pengurus yang mendapatkan mandat tugas dari Kiai Imam Khalil tak kunjung mendapatkan sodo aren yang dimaksud. Mereka hanya mendapatkan penjalin (rotan) di jalanan yang mereka lalui.
Kiai Imam Khalil pun lantas berkata, “Yowis penjalin wae” (Ya sudah pakai rotan saja)
Selanjutnya Kiai Imam Khalil membeli rotan dalam jumlah sangat besar untuk dibagi-bagikan kepada para santri dan masyarakat sekitar yang meminta. (H Mahfudz Kragan, halaman 129).
Kiai Imam Khalil kemudian membuat celupan rotan di kulah (kolam) pondok lor agar rotan yang dicelupkan memiliki khasiat yang mampu mengusir para pemberontak PKI.
Bibir Kiai Imam Khalil nampak bergerak-gerak pertanda sedang membaca wirid atau doa khusus.
Tak butuh waktu lama, beliau kemudian meludah di air kulah pondok. Seketika itu beliau berseru memberikan perintah kepada santrinya yang bernama Hamzawi, “Ayo penjaline jukuki, PKI arep berontak (ayo ambil rotannya, karena PKI mau memberontak).
“Celupno jeding, celupno jeding (celupkan ke kulah celupkan ke kulah)," seru Kiai Imam Khalil tegas.
Mendengar perintah sang kiai, para santri pun berbondong-bondong mencelupkan rotannya ke dalam kulah pondok yang telah diberi nama oleh beliau. Semula celup penjalin ini dikhususkan untuk santri-santri Pesantren Sarang saja, namun karena kabar celup penjalin itu menyebar, akhirnya masyarakat Sarang dan sekitarnya datang berduyun-duyun untuk ikut mencelupkan rotan mereka ke dalam kulah pondok. (K. Dahlan, 129).
Rotan yang telah dicelupkan ini memang terkenal memiliki kekuatan atau kejadukan yang dahsyat. Bagaimana tidak, hanya dengan satu sabetan rotan saja, musuh langsung terkapar seketika.
Selain penjalin, warga juga mencelupkan berbagai barang seperti baju agar kebal, kayu, dan lainnya.
Melihat perbuatan warga, Kiai Imam Kholil lantas melarang warga untuk mencelupkan sajam dan benda-benda tajam lainnya. Beliau juga memberikan amalan khusus bagi mereka yang memberikan sowan ke ndalem Kiai Imam Kholil.
Beliau memberikan instruksi kepada orang-orang yang sedang mencelupkan penjalin mereka: "podo simpen kalimah singlin!" (Simpanlah penjalin ini yang diibaratkan seperti kalimat tahlil).
Penjalin yang dicelupkan ke kulah pondok memiliki keistimewaan, banyak para pemberontak yang lumpuh seketika usai dipecut dengan penjalin tersebut, padahal di antara para pemberontak itu kuat-kuat, dan banyak yang memiliki ilmu kejadukan dan terkenal sakti.
Tepat 30 September, PKI bergerilya menyerang wilayah Sarang. Akan tetapi, anehnya mereka tidak mampu menembus area Pesantren Sarang, sehingga penyerangan hanya terjadi di desa-desa terpencil selatan pesantren.
Karomah Kiai Imam Khalil yang membuat celupan penjalin sakti mandraguna, Allah SWT menyelamatkan masyarakat Sarang dari kezoliman PKI. Mereka dapat dengan mudah dilumpuhkan hanya dengan satu sabetan rotan saja.
Kabar celup penjalin yang memiliki kesaktian luar biasa ini kian hari kian santer tersebar dari desa ke desa, bahkan sampai ke kota-kota besar. Sebab minimnya senjata atau alat pertahanan yang dimiliki masyarakat untuk menumpas pemberontakan PKI yang tersebar di berbagai penjuru membuat mereka kebingungan.
Adanya kabar celup penjalin di Sarang oleh seorang kiai kharismatik bagaikan angin segar. Kala itu, banyak masyarakat dari berbagai penjuru datang bersama-sama menuju Pesantren Sarang guna memiliki rotan sakti yang bisa mereka jadikan alat pertahanan diri dari serangan PKI.
Mereka datang dari kota-kota besar seperti dari Magelang, Temanggung, Semarang, Kendal, Pekalongan, Cirebon, Yogyakarta, Kudus, Pati, Jepara Purwodadi, Demak, Blora, Bojonegoro, Tuban, Lamongan, Kediri, Lasem, Rembang dan kota-kota lain di sekitar Jawa Tengah- Jawa Timur.
Kedatangan mereka membuat jalan menuju Pesantren Sarang dipenuhi kendaraan. Dari mulai motor, mobil, bus, bahkan truk terparkir berjejer-jejer di sepanjang jalan.
Keadaan yang demikian dapat mendongkrak perekonomian masyarakat Sarang. Banyak dari mereka memanfaatkan momen tersebut dengan berjualan rotan di depan pondok lor. Sebab, orang-orang yang datang ke Sarang belum memiliki rotan sama sekali, mereka datang dengan tangan kosong, sehingga hal itu memaksa mereka untuk membeli rotan dari masyarakat Sarang.
Sebelum pencelupan rotan itu dilaksanakan, biasanya ada sambutan perwakilan pondok yang disampaikan oleh salah satu santri senior, di mana di antaranya adalah Kang Ahmadi.
Ia memberi sambutan terlalu panjang kala itu sehingga membuat orang-orang yang tengah memadati area pondok menunggu lama. Saat Kang Ahmadi Sarang Meduro masih menyampaikan sambutannya, Kiai Imam Khalil tiba-tiba datang lalu memberi teguran padanya, “Ojok dowo-dowo, ojok dowo-dowo, mundaki pedot” (Jangan panjang-panjang (sambutannya), jangan panjang-panjang nanti putus).
Dalam tegurannya, Kiai Imam Khalil memberikan nasehat bahwa jangan sampai membuat orang-orang yang datang berkumpul di area pondok menunggu lama, sebab hal itu malah menambah masyaqqoh (kepayahan) di atas masyaqqoh yang lain, lebih-lebih mereka yang datang dari jauh.
Celup penjalin yang disediakan Kiai Imam Khalil tidak bermahar alias gratis. Beliau tidak berkenan menerima mahar dari celup penjalinnya apalagi meminta. Sehingga banyak dari mereka yang meninggalkan uang sebagai mahar, sampai-sampai banyak uang berceceran di sekitar tempat kulah celupan tersebut.
Kiai Imam Khalil berpendapat bahwa rotan-rotan yang dicelupkan ini bukanlah alat untuk membunuh. Akan tetapi, untuk berjaga-jaga apabila ada musuh yang menyerang secara tiba-tiba sebagaimana di atas. Daf’ussho’il atau menahan serangan penyamun hukumnya boleh meski sampai membunuhnya.
Pendapat ini nampaknya mengecualikan ketika orang-orang PKI mengancam dan menyerang nyawa orang lain terlebih dahulu, sehingga ia bisa dihukumi as-shoil atau penyamun yang bisa diserang balik meski dapat membunuh nyawanya. Tentu hal tersebut harus urut dari tahap melarikan diri sampai membunuh. Dan hal itu menjadi bukti bahwa syariat mengutus umat manusia untuk menjaga diri seperti yang diajarkan Kiai Imam Khalil.
Ibu Lasmini, Karangmangu menceritakan bahwa anggota PKI yang ditaklukkan kemudian dikumpulkan di sebuah tempat yang sekarang menjadi Madrasah Putri Ghozaliyyah (MPG).
Mereka direhabilitasi di sana. Para kiai dan tokoh masyarakat mendidik orang-orang PKI agar segera bertaubat dan kembali kepada Allah. Mereka di sana diperlakukan dengan baik, diberi makan, dan minum serta dididik dengan benar sampai benar-benar sadar dan bertaubat. Sebagaimana pendekatan Kiai Ahmad Syuaib. (Halaman 129).
Sebab tidak sedikit dari mereka yang masih menunaikan sholat dan membaca syahadat. Mereka hanya terprovokasi oleh ajakan pimpinan mereka yang menjanjikan harta duniawi secara merata dengan cara membabi buta dan instan kepada mereka.
(Fakhrizal Fakhri )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.