JAKARTA – Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Muhadjir Effendy, menekankan pentingnya literasi keagamaan lintas budaya di tengah tantangan dunia menghadapi ujaran kebencian yang semakin marak.
“Saat ini dunia dihadapkan tantangan besar dalam bentuk ujaran kebencian yang semakin merajalela dan semakin sulit dikendalikan,” kata Muhadjir selaku pembicara kunci dalam webinar internasional yang diadakan Maarif Institute dan Institut Leimena, dikutip Rabu (28/6/2023).
Dikatakan Muhadjir, ujaran kebencian tidak hanya mempengaruhi stabilitas sosial, tapi juga menimbulkan kerusakan moral, mental, serta jiwa secara sistematis dan berkelanjutan. Pada gilirannya juga menciptakan perpecahan dan konflik di berbagai belahan dunia.
Oleh karena itu, penguatan literasi digital dan penggunaan teknologi komunikasi dengan bertanggung jawab untuk memerangi fenomena sangat berbahaya berupa ujaran kebencian secara online sangat diperlukan.
“Literasi Keagamaan Lintas Budaya merupakan praktik sangat penting dalam mempromosikan pemahaman, toleransi, dan kerja sama antar budaya,”ujarnya.
“Melalui pemahaman lebih dalam tentang kepercayaan dan praktik keagamaan berbeda-beda, kita dapat membangun jembatan yang kokoh antar komunitas dan menciptakan dunia lebih harmonis,” tutup Muhadjir.
Sementara itu, Mantan Utusan Khusus Presiden RI untuk Timur Tengah dan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), Alwi Shihab, mengatakan pandangan agama yang berhaluan keras dan kaku telah menyebabkan derasnya arus pemikiran radikal yang mengarah bukan saja kepada intoleransi tapi juga terorisme.
“Pendekatan efektif untuk mencegah ujaran kebencian adalah memberikan edukasi melalui ajaran agama yang benar,” ujarnya..
Dia mengaku prihatin atas fakta dari hasil penelitian Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah tahun 2018 menunjukan sebanyak 57% guru memiliki opini intoleran terhadap pemeluk agama lain.
“Data ini cukup mencemaskan mengingat guru berada di posisi strategis dan sangat penting dalam pembentukan nilai, pandangan serta perilaku siswa dan mahasiswa yang akan menjadi pemimpin bangsa di masa depan,” ujar Alwi.
Oleh sebab itu, Institut Leimena telah menjalin kerja sama dengan lebih dari 17 institusi termasuk Maarif Institute, Majelis Pendidikan Dasar, Menengah, dan Pendidikan
Associate Professor di Teachers College, Columbia University, Dr. Amra Sabic-El-Rayess mengatakan, pentingnya mengurai jalur-jalur menuju radikalisasi dan menyadari bagaimana seorang individu bisa teradikalisasi.
Dia juga mengembangkan teori educational displacement yang mengungkapkan bahwa radikalisasi biasanya dipicu dalam ruang-ruang sosial khususnya sekolah. Kondisi itu disebabkan minimnya pertukaran cerita atau dialog.
“Pada akhirnya menumbuhkan rasa tidak terhubung, keterasingan. Mereka merasa tidak didengarkan atau tidak dilihat oleh para pendidik, tidak merasa bagian suatu komunitas sehingga mereka mencari sumber-sumber alternatif. Di sinilah peran dari tenaga radikalisasi,” kata Amra.
Amra berupaya mengembangkan respons yang tepat dalam mengatasi keterasingan. Dia berangkat dari pengalaman pribadinya sebagai seorang Muslim Bosnia yang melarikan diri dari Perang Bosnia. Kisahnya untuk bertahan hidup selama 1.200 hari di bawah gempuran militer Serbia, tanpa akses dunia luar termasuk listrik dan makanan, dituliskannya dalam buku berjudul “The Cat I Never Named: A True Story of Love, War, and Survival”.
“Cerita ini menjadi cara saya mendidik generasi muda. Bagaimana saya memiliki ketahanan. Bahkan ketika dihadapkan dengan kebencian, kami membalas dengan rasa kasih sayang dan membangun komunitas yang tidak membalas kebencian,” tutup Amra.
Direktur Eksekutif Institut Leimena, Matius Ho, menambahkan, hubungan antar agama sejak awal menjadi dasar pertimbangan penting untuk mendorong upaya bersama melawan ujaran kebencian. “Ibaratnya, ujaran kebencian itu seperti api yang harus secepatnya dipadamkan sebelum menjalar lebih jauh,” katanya.
Senada dengan itu, Direktur Program Maarif Institute, Moh Shofan, mengatakan literasi keagamaan yang rendah berpotensi menimbulkan kesalahpahaman. Di sisi lain, perlu dibangun ruang-ruang perjumpaan baik kultural maupun lintas agama untuk membangun saling pemahaman.
Sementara itu, Staf Ahli Mendikbudristek Bidang Hubungan Kelembagaan dan Masyarakat, Muhammad Adlin Sila, dan Peneliti, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Ahmad Najib Burhani, menyampaikan gagasan untuk membangun landasan kehidupan antar umat beragama, salah satunya menerapkan Profil Pelajar Pancasila dalam Kurikulum Merdeka.
(Fahmi Firdaus )