Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Sepak Terjang Letjen TNI (Purn) Sutiyoso di Medan Tempur, Tumpas PGRS Tanpa Takut Kehilangan Nyawa

Susi Susanti , Jurnalis-Jum'at, 21 Juli 2023 |06:01 WIB
Sepak Terjang Letjen TNI (Purn) Sutiyoso di Medan Tempur, Tumpas PGRS Tanpa Takut Kehilangan Nyawa
Letjen TNI (Purn)) Sutiyoso (Foto: Okezone)
A
A
A

JAKARTA – Peran penting Letjen TNI (Purn) Sutiyoso dalam tugas kemiliteran sudah tak perlu dipertanyakan lagi.

Sutiyoso seolah tak takut kehilangan nyawa demi mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Berbagai tugas operasi telah dilakoninya sejak dia bergabung di Korps Baret Merah Kopassus.

Salah satunya yakni operasi penumpasan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Termasuk operasi klandestein di Timor Timur (Timtim). Hal ini terungkap dalam buku biografinya berjudul ‘Sutiyoso The Field General, Totalitas Prajurit Para Komando’.

Melalui buku itu terungkap jika Sutiyoso, lulusan Akademi Militer (Akmil) 1968 yang ketika itu baru berpangkat Letnan Dua (Letda) mendapat tugas BKO ke Yonif 323 Banjar Patronan. Sutiyoso langsung di terjunkan dalam operasi penumpasan pemberontak Pasukan Gerilya Rakyat Serawak (PGRS)/Pasukan Rakyat Kalimantan Utara (Paraku) di pedalaman belantara hutan Kalimantan sebagai Komandan Pleton (Danton) combat intelligence atau intelijen tempur.

PGRS/Paraku merupakan kelompok bersenjata yang pada awalnya dibina dan dilatih TNI saat konfrontasi dengan Malaysia pada masa kepemimpinan Presiden Soekarno. Namun, perubahan kepemimpinan nasional dan membaiknya hubungan Indonesia-Malaysia membuat konfrontasi kedua negara tersebut berakhir.

Namun tidak dengan PGRS/Paraku, kelompok yang berafiliasi dengan komunis ini masih tetap mengangkat senjata dan melakukan perlawanan. Hal ini membuat TNI terpaksa meredam perlawanan kelompok bersenjata ini dengan mengerahkan Kopassus.

Sutiyoso berkisah jika saat itu dirinya berangkat dengan kapal laut menuju Pontianak, Kalimantan Barat. Dari Pontianak, Sutiyoso melanjutkan perjalanan ke daerah pedalaman perbatasan Kalimantan Barat dan Serawak Malaysia.

Tidak hanya itu, mantan Gubernur DKI Jakarta ini juga harus menyusuri Sungai Kapuas. Sayangnya, tidak semua aliran sungai tersebut bisa dilalui dengan perahu badung-badung. Akibatnya, untuk mencapai daerah operasi, Sutiyoso dan pasukannya harus menempuh perjalanan darat dengan berjalanan kaki berkilo-kilometer. Dalam perjalanan menuju titik sasaran, Sutiyoso sempat menginap di rumah penduduk setempat yang merupakan suku Dayak. Di rumah adat Betang yang berukuran panjang ini terdiri dari petak-petak di mana setiap ruangan diisi masing-masing keluarga.

Di bagian depan dan bawah rumah terdapat kandang anjing, kambing, ayam dan hewan ternak lainnya. Di kandang hewan peliharaan ini, Sutiyoso bersama pasukannya tidur. Sutiyoso dan pasukannya tidak mau mengambil risiko dengan tidur di luar rumah lantara rawan penyergapan oleh pihak musuh. Tanpa rasa jijik sedikitpun, Sutiyoso dan anggotanya beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan ke daerah sasaran.

Setelah berjalan selama dua hari, dua malam menembus lebatnya hutan Kalimantan, Sutiyoso akhirnya tiba di daerah operasi. Setibanya di daerah operasi, pria kelahiran Semarang, Jawa Tengah 6 Desember 1944 ini pun dengan cermat membaca potensi ancaman. Selanjutnya, mantan Wadanjen Kopassus ini memutuskan untuk menerapkan strategi antigerilya. Hal itu dilakukan mengingat musuh yang dihadapi melakukan perlawanan secara gerilya dan sangat menguasai medan pertempuran.

Dikutip Sindonews, bersama pasukan yang dipimpinnya, Sutiyoso menggalang kedekatan dengan kepala desa, kepala suku, dan masyarakat setempat. Langkah ini diambil untuk mengambil hati dan memisahkan masyarakat Dayak dan Tionghoa dengan gerilyawan. Selain untuk mengetahui siapa saja musuh yang dihadapi juga untuk menghentikan pasokan logistik kepada gerilyawan.

Sutiyoso bersama pasukannya berhasil menggalang kedekatan dan berbaur dengan tokoh masyarakat, tokoh adat, dan masyarakat setempat. Melakukan aktivitas bersama, memberikan pelayanan kesehatan, dan tidur bersama warga perkampungan. Namun demikian, hal itu dilakukan dengan tingkat kewaspadaan yang tinggi.

Upaya mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) ini yang menerapkan taktik antigerilya membuahkan hasil. Mereka berhasil mengisolasi gerilyawan PGRS/Paraku dengan masyarakat. Selama 10 bulan operasi, tak ada sebutir peluru pun yang diletuskan Sutiyoso dan pasukannya. Tidak hanya itu, tidak ada satupun anggotanya yang gugur dalam operasi tersebut.

Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto juga mengapresiasi kiprah Sutiyoso sebagai prajurit Kopassus yang kenyang dengan pengalaman tempur di medan operasi.

Hal ini terlihat dalam buku biografinya berjudul ‘Kepemimpinan Militer: Catatan dari Pengalaman Letnan Jenderal TNI (Purn) Prabowo Subianto’.

Di buku itu, Prabowo menganggap Sutiyoso sebagai sosok yang kenyang dengan pegalaman operasi. Selain itu, Sutiyoso juga dikenal sebagai sosok yang patriotik dan cinta Tanah Air.

(Susi Susanti)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement