JAKARTA - Penyair Chairil Anwar pernah terlibat pembicaraan mengenai pekerjaan dengan ayah dari kekasihnya saat itu. Saat itu, penyair legendaris tersebut jatuh hati dengan Sumirat atau Mirat, gadis asal Paron, Ngawi (dulu eks Karsidenan Madiun), Jawa Timur.
Kisah mereka bermula dari pertemuan di Pantai Cilincing, Jakarta pada 1943, tempat tamasya saat itu. Chairil dan Mirat kemudian berpacaran.
Layaknya sepasang kekasih umumnya, keduanya keduanya kerap menonton film berdua.
Chairil merupakan seorang penyair dan Mirat gemar melukis di sanggar S Sudjojono, Affandi dan Basuki Abdullah, yakni para perupa kawan dekat Chairil Anwar.
Chairil kerap bertandang ke rumah Mirat yang berada di Kebon Sirih, Jakarta.
Saat Mirat pulang kampung ke Paron, Jawa Timur, Chairil Anwar menyusul. Ia sempat tinggal beberapa hari di sana.
Pada suatu malam, saat seluruh keluarga besar Mirat berkumpul, ayah Mirat bertanya ke Chairil.
“Masih akan berapa lama lagi kau di sini Nak?” mengutip buku Aku, Berdasarkan Perjalanan Hidup dan Karya Penyair Chairil Anwar (1987).
“Saya masih senang di sini”
“Apa kau tidak bersekolah lagi?”
“Ada sekolah apa rupanya di jaman edan seperti sekarang ini?”
“Atau bekerja, barangkali?”
“Bekerja? Ya, tiap hari, tiap detik saya bekerja”
“Di mana?”
“Di mana-mana!”
“Yang tetap?”
Ditanya soal pekerjaan tetap, Chairil Anwar diam sejenak. Ia lalu menjawab gambaran kerja yang rutin masuk di pagi hari dan pulang siang hari, baginya pekerjaan yang tidak perlu dilakukan.
“Ah, kerja yang itu tak usahlah!,” kata Chairil
“Kenapa tak usahlah? Semua orang bekerja semacam itu!”
Chairil Anwar beralasan semua orang bekerja semacam itu. Kakeknya, bapaknya, dan bahkan ayah Mirat juga disebutnya bekerja semacam itu.
Karenanya, Chairil berpendapat dirinya tak perlu melakukan hal yang sama.
“Kenapa tidak perlu? Memangnya apa, siapa anakda ini?,” tanya ayah Mirat kembali.
“Karena sekali berarti, sesudah itu mati. Karena gambaran hidup seorang seniman adalah hidup yang melepas bebas!.
Chairil Anwar menoleh kepada Mirat yang duduk terpisah dari orangtua dan kakak-kakaknya. Kepala gadis tambatan hatinya itu tertunduk.
Chairil pun melanjutkan ucapannya yang langsung ditujukan kepada Mirat.
Chairil mengatakan dirinya dan Mirat adalah anak dari sebuah zaman yang beda. Setiap seniman, kata Chairil sesungguhnya ditakdirkan harus seorang perintis jalan.
“Kita tidak boleh lagi cuma jadi alat musik penghidupan seperti orang-orang tua kita. Kita pemain dari lagu penghidupan,” tegas Chairil.
Wajah orang tua dan saudara Mirat sontak tegang. Ucapan Chairil yang menyerupai orasi kebudayaan itu tak bisa diterima.
Kakak Mirat yang menjadi jaksa di Jakarta dikabari melalui sepucuk surat yang seketika itu naik pitam.