Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Kisah Chairil Anwar Berdebat soal Pekerjaan dengan Orangtua Pacarnya

Erha Aprili Ramadhoni , Jurnalis-Rabu, 26 Juli 2023 |05:19 WIB
Kisah Chairil Anwar Berdebat soal Pekerjaan dengan Orangtua Pacarnya
Chairil Anwar. (Dolf Verspoor)
A
A
A

JAKARTA - Penyair Chairil Anwar pernah terlibat pembicaraan mengenai pekerjaan dengan ayah dari kekasihnya saat itu. Saat itu, penyair legendaris tersebut jatuh hati dengan Sumirat atau Mirat, gadis asal Paron, Ngawi (dulu eks Karsidenan Madiun), Jawa Timur.

Kisah mereka bermula dari pertemuan di Pantai Cilincing, Jakarta pada 1943, tempat tamasya saat itu. Chairil dan Mirat kemudian berpacaran.

Layaknya sepasang kekasih umumnya, keduanya keduanya kerap menonton film berdua.

Chairil merupakan seorang penyair dan Mirat gemar melukis di sanggar S Sudjojono, Affandi dan Basuki Abdullah, yakni para perupa kawan dekat Chairil Anwar.

Chairil kerap bertandang ke rumah Mirat yang berada di Kebon Sirih, Jakarta.

Saat Mirat pulang kampung ke Paron, Jawa Timur, Chairil Anwar menyusul. Ia sempat tinggal beberapa hari di sana.

Pada suatu malam, saat seluruh keluarga besar Mirat berkumpul, ayah Mirat bertanya ke Chairil.

“Masih akan berapa lama lagi kau di sini Nak?” mengutip buku Aku, Berdasarkan Perjalanan Hidup dan Karya Penyair Chairil Anwar (1987).

“Saya masih senang di sini”

“Apa kau tidak bersekolah lagi?”

“Ada sekolah apa rupanya di jaman edan seperti sekarang ini?”

“Atau bekerja, barangkali?”

“Bekerja? Ya, tiap hari, tiap detik saya bekerja”

“Di mana?”

“Di mana-mana!”

“Yang tetap?”

Ditanya soal pekerjaan tetap, Chairil Anwar diam sejenak. Ia lalu menjawab gambaran kerja yang rutin masuk di pagi hari dan pulang siang hari, baginya pekerjaan yang tidak perlu dilakukan.

“Ah, kerja yang itu tak usahlah!,” kata Chairil

“Kenapa tak usahlah? Semua orang bekerja semacam itu!”

Chairil Anwar beralasan semua orang bekerja semacam itu. Kakeknya, bapaknya, dan bahkan ayah Mirat juga disebutnya bekerja semacam itu.

Karenanya, Chairil berpendapat dirinya tak perlu melakukan hal yang sama.

“Kenapa tidak perlu? Memangnya apa, siapa anakda ini?,” tanya ayah Mirat kembali.

“Karena sekali berarti, sesudah itu mati. Karena gambaran hidup seorang seniman adalah hidup yang melepas bebas!.

Chairil Anwar menoleh kepada Mirat yang duduk terpisah dari orangtua dan kakak-kakaknya. Kepala gadis tambatan hatinya itu tertunduk.

Chairil pun melanjutkan ucapannya yang langsung ditujukan kepada Mirat.

Chairil mengatakan dirinya dan Mirat adalah anak dari sebuah zaman yang beda. Setiap seniman, kata Chairil sesungguhnya ditakdirkan harus seorang perintis jalan.

“Kita tidak boleh lagi cuma jadi alat musik penghidupan seperti orang-orang tua kita. Kita pemain dari lagu penghidupan,” tegas Chairil.

Wajah orang tua dan saudara Mirat sontak tegang. Ucapan Chairil yang menyerupai orasi kebudayaan itu tak bisa diterima.

Kakak Mirat yang menjadi jaksa di Jakarta dikabari melalui sepucuk surat yang seketika itu naik pitam.

Ayah Mirat bersiteguh akan merestui hubungan Chairil dengan putrinya, asal penyair itu memiliki pekerjaan tetap.

Chairil yang tak punya uang sepeserpun kembali ke Jakarta dengan uang saku dari ayah Mirat.

Koper berisi buku-buku dan berkas tulisan ditinggalnya. Chairil tidak pernah kembali lagi ke Paron, Jawa Timur.

Cinta Chairil Anwar kepada Mirat begitu dalam. Saking membekasnya, untuk mengenang kisah asmaranya dengan Mirat, pada tahun 1949 Chairil membuat puisi berjudul: Mirat Muda, Chairil Muda dengan tambahan judul Di pegunungan 1943.

Meski begitu, dalam perjalanan hidupnya, Chairil Anwar yang berjiwa bebas merdeka juga pernah jatuh hati dengan Karinah Moorjono, Dien Tamaela, Gadis Rasjid, Sri Ayati, Tuti Artic dan Ida Nasution.

Namun ia menikah dengan Hapsah Wiriaredja pada 6 September 1946 dan dikarunia seorang putri bernama Evawani.

Chairil yang pernah mengungkapkan dalam puisinya, ingin hidup seribu tahun lagi dan kalau berumur panjang akan menjadi menteri pendidikan dan kebudayaan, akhirnya takluk oleh penyakit paru-paru yang diderita.

Pada 28 April 1949, di usia yang masih 27 tahun itu, Chairil Anwar wafat. Penyair legendaris Indonesia itu dimakamkan di Pemakaman Umum Karet, Jakarta.

(Erha Aprili Ramadhoni)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement