JAKARTA- Kedua pelaku mutilasi di Sleman, yakni W dan RD telah diamankan polisi. Meskipun begitu, motif kedua pelaku masih menjadi misteri.
Sebelumnya, Direskrimum Polda DIY Kombes FX Endriadi menjelaskan, bahwa korban R dan kedua pelaku tergabung dalam sebuah komunitas yang memiliki aktivitas tak wajar. Mereka melakukan kegiatan kekerasan satu sama lain, yang akhirnya mengakibatkan korban meninggal dunia.
Namun polisi enggan membeberkan mengenai komunitas dan aktivitas kekerasan yang dilakukan oleh korban dan kedua pelaku secara lebih rinci.
Hal ini menyebabkan banyaknya dugaan yang muncul ditengah masyarakat. Banyak yang kemudian berspekulasi bahwa korban dan kedua pelaku terlibat dalam hubungan sejenis serta melakukan aktivitas terkait sadomasokisme sebelum korban meninggal dunia.
Dugaan-dugaan ini mengakibatkan banyaknya masyarakat yang tidak bersimpati dengan korban, sebab dianggap sebagai pelaku hubungan sesama jenis. Hal ini dapat dilihat melalui komentar warganet dibeberapa postingan mengenai kasus mutilasi tersebut.
Kriminolog Universitas Indonesia Adrianus Meliala, menuturkan bahwa hal ini wajar saja terjadi sebab pelaku aktivitas seksual seperti ini memang cenderung ditolak masyarakat.
“Wajar. Pelaku aktivitas seksual begini memang cenderung ditolak publik. Analoginya, "elu punya gawe, kok gue yang dibikin pusing"” ujar Adrianus Meliala, kepada Okezone, dikutip Selasa (25/7/2023).
Di sisi lain, Adrianus juga menjelaskan soal sadomasokisme yang merupakan kegiatan terkait hubungan seksual dimana mesti ada foreplay berupa menyakiti pasangan. Rasa sakit yang muncul konon bersifat pleasure increasing, yakni meningkatkan kesenangan.
Meskipun berkaitan dengan kekerasan, pelaku sadomasokisme tidak dapat dikatakan rentan melakukan kejahatan, sebab biasanya mereka telah membentuk sebuah komunitas yang tidak mudah dimasuki orang luar.
“Biasanya mereka sudah membentuk komunitas yang close-knit alias tidak gampang dimasuki orang luar. Atau mengajak orang luar. Jadi, kalau terjadi kejahatan, ya kemungkinan besar antar mereka sendiri” ujarnya.
Sementara terkait motif kedua pelaku pada kasus tersebut, Adrianus menyimpulkan jika sadomasokisme merupakan gaya bercinta yang dilakukan atas adanya ikatan hati dari kedua belah pihak.
Oleh karena itu, jika salah satu pihak merasa tersinggung, pola penyiksaan yang dilakukan dapat lebih mudah diteruskan menjadi sebuah pembunuhan.
“Sadomasokis itu kan gaya bercinta. Jangan lupa, keduanya pasti sudah ada ikatan hati,"ujar mantan anggota Kompolnas tersebut.
Nah ketika ada yang merasa sakit hati atau tersinggung atau terhina, maka pola menyiksa yang selama ini dilakukan sebagai bagian untuk mendapatkan kepuasan seksual bisa lebih mudah diteruskan menjadi pembunuhan” pungkasnya.
Sebelumnya, pihak keluarga R, korban mutilasi di Sleman, membantah tuduhan bahwa R adalah penyuka sesama jenis.
Paman korban, Madjid, mengatakan, korban R merupakan anak yang sangat cerdas dan juga taat agama. Bahkan korban mengikuti seluruh kegiatan keagamaan di sekolah baik SMA maupun di Universitas.
"Jadi tidak mungkin bahwa korban ini terjerumus ke dalam lingkaran pergaulan penyuka sesama jenis atau LGBT," ujad Madjid.
Oleh karena itu, pihak keluarga memilih membiarkan isu bahwa R adalah penyuka sesama jenis atau LGBT. Pihak keluarga juga berharap kedua pelaku mutilasi dihukum seberat-seberatnya.
“Kita juga sedang fokus ingin membawa jasad korban tersebut, dikarenakan terbenturnya biaya,“ kata Madjid.
(Fahmi Firdaus )