JAKARTA – Meski memiliki peran penting di kalangan istana Kerajaan Majapahit, reputasi Mahapatih Gajah Mada rusak menyusul pecahnya Perang Bubat yang menewaskan rombongan Kerajaan Sunda yang datang ke Trowulan. Gajah Mada dianggap sebagai biang keladi pertumpahan darah itu dan semua yang dia cita-citakan dan upayakan menjadi berantakan.
Sebagaimana diketahui, Perang Bubat bermula saat Raja Hayam Wuruk jatuh cinta pada putri Raja Sunda Dyah Pitaloka Citraresmi. Pinangan Hayam Wuruk kepada Dyah Pitaloka diterima Raja Sunda, yang bersama rombongan dan sejumlah pasukannya datang ke Trowulan, ibu kota Majapahit.
Namun, kisah cinta Hayam Wuruk dan Dyah Pitaloka ini menggoda Gajah Mada, yang bercita-cita menaklukkan seluruh Nusantara. Sang Majapahit ingin pernikahan Hayam Wuruk sebagai bagian tunduknya Sunda ke Majapahit secara politik, karena kala itu hanya Sunda yang belum tunduk ke Majapahit.
Hal ini menimbulkan perselisihan antara rombongan Kerajaan Sunda yang tiba di Trowulan dengan pasukan yang dipimpin Gajah mada sehingga perang akhirnya pecah di Alun-Alun Bubat. Seluruh rombongan Kerajaan Sunda terbunuh dalam kejadian itu, bahkan Putri Dyah Pitaloka Citraresmi melakukan bunuh diri setelah melihat ayahnya dan rombongan pengiringnya tewas.