Sang bupati wedana Mancanagera Timur yang juga menjabat Bupati Madiun mengimbau, ajakan perlawanan terhadap kekuasaan kolonial kepada semua golongan masyarakat bumiputra dan Timur Asing (Tionghoa) di mancanegara timur dan pesisir. Dia menikmati hubungan akrab dengan masyarakat Tionghoa di Mancanegara Timur dan pesisir utara, sebelum perlawanan pada November hingga Desember 1810 berkat kedudukannya sebagai kepala penguasa persewaan gerbang cukai jalan untuk sultan di wilayah Madiun.
BACA JUGA:
Raden Ronggo curiga pada ancaman yang ditimbulkan atas kepentingan perekonomian setempat, khususnya dalam perdagangan kayu, sebagai akibat dari kegiatan yang tidak pandang bulu para penebang kayu serta pengusaha Eropa. Dia menyatakan dirinya sendiri sebagai pengayom semua orang Jawa dan orang Tionghoa.
BACA JUGA:
Orang Jawa dan Tionghoa yang diperlakukan secara sewenang-wenang oleh pemerintahan Belanda diajak bekerja sama, agar dapat memerangi pemerintah Belanda yang telah merugikan kesejahteraan dan kemakmuran Jawa. Seruan sang bupati wedana secara khusus juga ditujukan kepada komunitas Tionghoa yang makmur di pantai utara, yang dukungannya diharapkan diperoleh untuk melakukan serangkaian serangan terhadap pasukan utama Belanda di antara daerah Rembang dan Surabaya.
(Fakhrizal Fakhri )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.