JELANG Detik-detik Kemerdekaan Republik Indonesia 1945, banyak hal-hal terjadi. Salah satunya adanya permintaan Jepang kepada tiga tokoh senior Indonesia yakni seperti Soekarno, Mohammad Hatta, dan KRT Radjiman Wedyodiningrat ke Dalat, Vietnam untuk bertemu Panglima seluruh Angkatan Perang Jepang di Asia Tenggara, Marsekal Hisaichi Terauchi.
Kekalahan Jepang dari sekutu karena dijatuhkannya bom atom di dua kota yaitu Hiroshima dan Nagasaki membuka jalan Kemerdekaan Indonesia.
Dikutip dari beragam sumber, ketiga orang tersebut oleh Jepang dianggap sebagai tokoh yang cukup berpengaruh bagi rakyat Indonesia.
BACA JUGA:
Selain itu, mereka juga yang membentuk Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada 7 Agustus 1945. Ketiganya pun berangkat ke Dalat, Vietnam pada pada 8 Agustus 1945.
Mereka meninggalkan Jakarta pada pukul lima pagi melalui Bandara Kemayoran untuk memulai sebuah penerbangan yang harus dirahasiakan karena bisa saja pesawat yang mengangkut ketiga tokoh itu disergap dan ditembak jatuh oleh pesawat-pesawat sekutu.
Dan benar saja, pada 9 Agustus 1945 Amerika Serikat kembali melakukan penyerangan ke Kota Nagasaki, Jepang. Penyerangan dilakukan dengan menjatuhkan bom atom dari pesawat pengebom milik Amerika B-29 ke pelabuhan terbesar di Jepang itu.
Nagasaki merupakan kota terpenting pada saat Perang Dunia II. Bom atom diterjunkan Amerika Serikat dan menghancurkan Nagasaksi sebagai bentuk penyerangan. Dalam insiden tersebut tercatat 39.000 hingga 80.000 orang tewas.
BACA JUGA:
Selanjutnya, pesawat yang membawa mereka mendarat di Saigon, Vietnam pada 10 Agustus 1945. Sesampainya di Saigon, ketiga tokoh senior itu juga belum tahu mengapa dipanggil oleh Panglima Tertinggi Jepang di Asia Tenggara itu.
Sehari sesudahnya, pada 11 Agustus 1945 atau tepat 75 tahun silam, ketiganyaditerbangkan ke Dalat, Vietnam. Sesampai di sana, mereka menginap lagi semalam.
(Furqon Al Fauzi)