JAKARTA - Pemerintahan sementara Venezuela menyatakan tetap solid di belakang Presiden Nicolas Maduro, setelah penahanannya oleh Amerika Serikat memicu ketidakpastian politik, di negara Amerika Selatan kaya minyak itu dalam beberapa dekade terakhir.
Berdasarkan kutipan dari Reuters, Senin (5/1/2026). Seorang pejabat tinggi Venezuela mengatakan, bahwa institusi negara tetap berfungsi dan tidak akan terpecah, meskipun Maduro kini ditahan di pusat penahanan New York, dan dijadwalkan menghadapi sidang pengadilan atas tuduhan terkait narkotika.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang berada di Florida pada Minggu, mengatakan bahwa Washington telah memerintahkan penangkapan Maduro dari Venezuela pada Sabtu dan mengklaim AS akan mengambil alih kendali pemerintahan negara tersebut.
Namun di Caracas, para pejabat senior pemerintahan Maduro masih memegang kendali atas lembaga-lembaga utama negara. Mereka menyebut penahanan tersebut sebagai “penculikan” dan menuduh Washington melakukan intervensi langsung terhadap kedaulatan Venezuela.
"Di sini, persatuan kekuatan revolusioner lebih dari terjamin. Di sini hanya ada satu presiden, dan namanya Nicolas Maduro Moros. Jangan ada yang terpancing provokasi musuh," tegas Menteri Dalam Negeri, Diosdado Cabello dalam rekaman audio yang dirilis oleh Partai Sosialis Bersatu Venezuela (PSUV).