JAKARTA – Salah satu pejuang yang mempunyai peranan penting dalam merebut kemerdekaan Indonesia ialah The Sin Nio (baca: Teh Sin Nyo). Dia adalah seorang pejuang wanita asal Wonosobo, Jawa Tengah, yang dijuluki 'Mulan Indonesia'.
Perempuan peranakan Tionghoa ini mengubah namanya menjadi Mochamad Moeksin demi bisa ikut bergerilya menggunakan parang atau bambu runcing melawan tentara Belanda.
Namun, di usia senja, The Sin Nio terlunta-lunta dalam memperoleh pengakuan atas masa lalunya sebagai pejuang kemerdekaan Indonesia. Sin Nio sempat menjadi gelandangan di Jakarta tanpa tempat tinggal yang jelas, sebelum akhirnya menempati gubuk liar di bantaran rel kereta. Komnas Perempuan mewacanakan Sin Nio menjadi seorang pahlawan nasional.
Sementara itu, keturunannya Sin No, Rosalia Sulistiawati mengatakan, neneknya sangat mencintai negara ini dan status pahlawan atau pejuang kemerdekaan Indonesia "sudah tidak penting lagi".
Pertengahan 1983, dia begitu riang bisa menginjakkan kaki di Jakarta untuk pertama kalinya. Bocah tujuh tahun itu akhirnya bisa menyaksikan hiruk pikuk orang dan kendaraan berlalu lalang menggilas aspal hitam yang mulus.
Rosalia saat itu datang berempat bersama kakaknya, Caecilia Rosy Susilowati, adiknya, dan ayahnya, Tjoa Bing Liang/Christophorus Suyono. Yang disebut terakhir adalah anak tertua The Sin Nio.
Langkah mereka berhenti di sebuah gubuk liar yang bangunannya didominasi papan kayu. Tempat tinggal yang Rosalia sebut "bedeng" itu berada pinggiran rel kereta, di kawasan Stasiun Juanda, Jakarta Pusat.
Dari balik pintu, perempuan tua yang rambutnya sudah keperakan, menyambut dengan senyum. Rosalia untuk pertama kalinya dalam hidupnya bertemu dengan neneknya, The Sin Nio.
Perasaan Rosalia saat itu campur aduk. Ada takut, heran dan aneh. Sampai ketika perempuan tua kurus yang ia panggil "Oma Sin Nio" mendekap erat - perasaan Rosalia menjadi lebih tenang.
"Ya, senang karena saya boleh dibilang tidak pernah bertemu," kenang Rosalia yang tahun ini berusia 49 tahun,” dilansir BBC Indonesia, Jumat (18/8/2023).
Sin Nio tinggal di bedeng berukuran 2x3 meter "seperti kontrakan, tapi tidak selayaknya rumah". Di ruangan itu terdapat tempat tidur sekaligus dapur. Bagian atas ruangan ini juga ditempati oleh orang lain yang ketika berbisik bisa terdengar sampai bawah.
Menginap beberapa malam di bedeng ini Rosalia tidak pernah bisa tidur nyenyak, karena setiap kali kereta api lewat seluruh bangunan bergetar seperti mau runtuh.
Jika ingin mandi cuci kakus, semua penghuni gubuk liar di sepanjang bantaran rel kereta ini harus keluar menuju kamar mandi umum.
Rosalia mengatakan, masih punya ingatan samar tentang Sin Nio: Wajah penuh kerutan, rambut pendek, bertubuh kecil, dan berkulit hitam.
"Untuk ukuran orang Tionghoa, Oma (berkulit) hitam. Mungkin karena memperjuangkan pensiunan itu, Oma jadi lebih banyak di jalan, kepanasan," kata Rosalia.
Sementara itu, Rosy, kakak Rosalia, masih ingat betul dengan keseharian Sin Nio yang lebih sering menggunakan kain sarung. "Tapi kalau lagi keluar dari rumah, baru pakai celana panjang," katanya, sambil menambahkan.
"Kita waktu kecil nggak terlalu banyak keinginan tahunya itu. Kalau kami dulu, boleh dibilang rasa penasaran, tapi nggak berani bertanya. Paling yang saya ingat, cuma tanya kok tinggalnya di tempat begini?" kata cucu tertua Sin Nio itu.
Sejak 1973 - tahun Rosalia lahir dan Rosy masih berusia satu tahun - Sin Nio memutuskan pergi ke Jakarta, meninggalkan keluarganya di Wonosobo, Jawa Tengah.
Bertahun-tahun, ia berjibaku dengan birokrasi untuk memperoleh status veteran perang sekaligus uang tunjangan.
Jauh sebelum itu, pada era revolusi, kampung halaman Sin Nio di Wonosobo tidak luput dari target serangan Belanda.
"Oma ini awalnya ikut membantu di bagian logistik, membantu menyediakan makan untuk prajurit-prajurit. Jadi coba berbaur dengan orang-orang pribumi untuk membantu perbekalannya," kata Rosalia.
Tapi, nampaknya Sin Nio tidak puas hanya mengambil peran di dapur, sementara pejuang lainnya menyabung nyawa melawan Belanda.
"Yang saya dengar, setelah ikut angkat senjata itu, Oma menjadi laki-laki. Penampilan selayaknya prajurit laki-laki."
"Rambutnya pendek. Namanya jadi sudah bukan jadi Oma Sin lagi, tapi jadi Mochamad Moeksin," kata Rosalia yang mendengar cerita dari ayahnya.
Sin Nio saat itu menjadi satu-satunya tentara perempuan di Kompi 1 Batalion 4 Resimen 18.
Rosy mengaku teringat tokoh Mulan dalam film ketika mengenang sosok mendiang neneknya."Jadi ingat nenek. Nenek dulu seperti itu," katanya.
Dikatakan Rosy, tindakan neneknya yang "terjun langsung ke kawasan laki-laki" untuk bertempur bukanlah hal umum bagi perempuan dalam tradisi Tionghoa.
"Hal sesuatu yang dibilang tabu kalau perempuan itu ya. Saya melihat perempuan (Tionghoa) lebih kayak Jawa lah, tradisinya. Mungkin nenek agak berbeda sedikit," kata Rosy.
(Fahmi Firdaus )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.