JAKARTA - Jelang Sidang Umum MPR Maret 1988, beredar kabar bahwa Jenderal TNI LB Moerdani ingin mendampingi Presiden Soeharto sebagai Wakil Presiden (Wapres).
Panglima ABRI itu pun menyusun berbagai rencana. Salah satu strategi dari ahli intelijen ini adalah menjadikan Fraksi ABRI di MPR sebagai lokomotif pencalonan dirinya, demikian dinukil dari buku Mayjen TNI (Purn) Kivlan Zen, Konflik dan Integrasi TNI AD.
Saat itu, Pak Harto pun mengendus ambisi dari Benny. Alhasil, Pak Harto melakukan pergantian Panglima ABRI dari Jenderal Benny Moerdani kepada Jenderal Try Sutrisno pada 24 Februari 1988, sebelum Sidang Umum MPR digelar.
Pergantian ini menyebabkan ambisi Benny pupus dan Presiden Soeharto pun Sudharmono menjadi Wapres.
Di sisi lain, Benny tidak setuju pada Sudharmono dan tersirat keinginannya menjadi Wapres. Seperti diketahui, jabatan Pangkopkamtib dan Kepala BAIS tidak diserahterimakan oleh Jenderal Benny kepada Jenderal Try Sutrisno pada 1988.
Jenderal Try Sutrisno tidak berani mengambilalihnya. Sehingga, di samping sebagai Menhankam, Jenderal Benny Moerdani masih sering berkantor di Markas BAIS, Tebet, Jakarta dan kegiatan intel Try Sutrisno di bawah kendalinya.