Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Cerita Teks Proklamasi Nyaris Hilang dan Berjasanya Mesin Tik Kriegsmarine

Awaludin , Jurnalis-Sabtu, 19 Agustus 2023 |05:01 WIB
 Cerita Teks Proklamasi Nyaris Hilang dan Berjasanya Mesin Tik Kriegsmarine
Illustrasi (foto: dok Okezone)
A
A
A

TERNYATA, teks proklamasi yang ditulis tangan Soekarno nyaris hilang. Hal itu berawal saat teks proklamasi usai diabadikan menggunakan ketikan oleh perwira Jepang, Laksamana Tadashi Maeda, di rumahnya beralamat di Jalan Miyako-Doori No.1 (kini Jalan Imam Bonjol No.1, Jakarta Pusat).

Ternyata dalam tercetusnya teks Proklamasi 17 Agustus 1945, tak hanya Laksamana Maeda saja yang mempunyai jasa. Akan tetapi, Jerman lewat Kriegsmarine (Angkatan Laut) mereka juga mempunyai andil yang besar.

Saat itu, Laksamana Maeda ingin memperkuat teks Proklamasi 17 Agustus 1945 resmi lewat ketikan. Tetapi di rumahnya yang kini jadi Museum Perumusan Naskah Proklamasi, tak terdapat mesin ketik dengan huruf latin, hanya ada mesin ketik dengan huruf kanji. Hal ini pun jadi kendala tersendiri, sampai tiba inisiatif Myoshi, salah satu ajudan Maeda, untuk meminjam mesin tik dengan huruf latin milik kantor perwakilan Kriegsmarine, sahabat mereka di Perang Dunia II.

Berangkatlah Myoshi dengan jip untuk meminjam mesin tik milik Korvettenkapitän Dr. Hermann Kendeler. Fakta ini diperkuat dengan betapa miripnya hasil ketikan teks proklamasi dengan sejumlah dokumen U-Boot (kapal selam) Nazi Jerman yang pernah berdiam di Hindia-Belanda (sebutan Indonesia di masa itu).

“Iya, dulu Maeda tak punya mesin tik huruf latin. Jadi Myoshi pun pergi ke kantor AL Jerman untuk meminjam mesin tik dari sana,” ungkap kurator Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Jaka Perbawa.

Diketiklah teks proklamasi dari tulisan tangan Soekarno oleh Mohamad Ibnoe Sajoeti Melik dengan ditemani Boerhanoeddin Mohammad Diah. Beberapa kata di teks tulisan tangan sempat disunting, di mana kata ‘tempoh’ diubah jadi ‘tempo’, lantas ‘wakil-wakil bangsa Indonesia’ menjadi ‘atas nama bangsa Indonesia’ dan penulisan ‘17-8-05’ diubah jadi ‘hari 17 boelan 8 tahoen 05’.

Ada satu peristiwa yang di kemudian hari jadi momen yang sangat berharga, di mana setelah teks ketikan selesai, teks tulisan tangan Soekarno nyaris terbuang.

“Selesai mengetik, Sajoeti Melik meremas-remas tulisan tangan Soekarno karena merasa sudah tidak diperlukan lagi. Tapi BM Diah memungut itu dan kemudian, memperbanyaknya lewat beberapa temannya yang punya percetakan,” tambah Jaka.

“Hasilnya diperbanyak dan disebar agar rakyat tahu. Sementara teks aslinya sempat disimpan beliau (BM Diah) dan baru dikembalikan ke pemerintah di zaman Soeharto 48 tahun kemudian,” sambungnya.

Saat ini, koleksi mesin ketik di Museum Perumusan Naskah Proklamasi sudah bukan mesin tik yang dipakai pada saat itu. Kajian tentang merek maupun tipenya belum terungkap.

“Iya, yang di sini hanya (mesin tik) replika. Kami pun belum tahu mesin tik seperti apa yang dipakai ketika itu. Sementara mesin ketik ini ya yang memang dipakai di era 1940-an,” pungkasnya.

(Awaludin)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement