KERAJAAN Kediri identik dengan Jayabaya, raja termasyur dan terbesar di kerajaan tersebut. Jayabaya mampu mengantarkan kerajaan yang warisan Airlangga ini ke masa kejayaan.
Mengutip buku “Tafsir Sejarah Negarakretagama” tulisan Prof. Slamet Muljana, ada satu kebijakan Jayabaya yakni menjadikan satu wilayah sebagai tanah perdikan.
Hal ini tercermin usai peperangan yang melibatkan antara Kerajaan Panjalu dengan Janggala. Kedua kerajaan ini sebelumnya memang dianugerahkan Airlangga keturunan Dharmawangsa Teguh, dari Kerajaan Mataram untuk kedua anaknya.
Dua kerajaan sang anak seiring berjalannya waktu justru saling berebut kekuasaan hingga terjadi peperangan. Tak terkecuali ketika memasuki masa Jayabaya bertakhta di Daha, ibu kota kerajaan.
BACA JUGA:
Saat itu, sang raja sebagaimana diuraikan pada Prasasti Ngantang bertarikh 7 September 1135, mengisahkan kecintaan rakyatnya ke Jayabaya. Pprasasti itu menggambarkan pertalian dengan anugerah tanah perdikan Ngantang kepada penduduk Desa Ngantang.
Desa ini kini konon masuk wilayah di Kabupaten Malang. Di sinilah warga desa tak diwajibkan membayar pajak di masa Kerajaan Panjalu atau Kediri dikuasai Jayabaya.
Dikisahkan pada prasasti itu, warga Desa Ngantang selalu menunjukkan cinta bakti dan kesetiaannya kepada Sri Maharaja Jayabaya, dalam berbagai bahaya selama terpisahnya Janggala dari Panjalu.
Yang segera perlu mendapat perhatian ialah motto di atas prasasti yang berbunyi Panjalu Jayati yang berarti Panjalu menang. Ungkapan itu tidak dapat ditafsirkan lain, kecuali kemenangan Panjalu atas Janggala.
BACA JUGA:
Karena pada waktu itu, dua kerajaan itu saling bersaing dan berusaha saling menghancurkan. Berkat kesetiaannya kepada sang prabu penduduk Ngantang mendapat hadiah tanah perdikan dengan hak-hak istimewa.
Sastrawan sekaligus sejarawan Prof. Sutjipto Wirjosuparto mengaitkan Prasasti Ngantang dengan karya sastra Bharatayudha dalam karyanya Kakawin Bharatayudha.
Prof. Sutjipto Wirjosuparto mengatakan bahwa anugerah tanah perdikan Ngantang itu bertalian dengan kemenangan Jayabaya dalam peperangan melawan kakaknya, yang Kakawin Bhartayudha disebut Hemabhupati.
Menurutnya, Prasasti Ngantang terkait perang yang diadakan oleh Jayabaya dan Hemabhupati atau kakak Raja Jayabaya. Pada tafsiran gelar atau sebutan Hemabhupati. Gelar itu mengandung unsur Hema berarti mas.
Pada bahasa Jawa, masih ada beberapa gelar atau sebutan yang mengandung unsur mas, seperti kakang mas, adimas dan ratu mas, dan sebagainya. Di antara sebutan yang masih ada itu, Prof. Sutjipto Wirjosuparto memilih kakang mas.
Demikianlah tafsiran sebutan Hemabhupati itu kakak Jayabaya. Karena Jayabaya berhasil mengalahkan kakaknya maka ia berhasil merebut kekuasaan dan menjadi raja di Panjalu. Perang melawan saudara tua adalah dosa.
Demi menghindarkan akibat buruk dari dosa, perlu diadakan ruwatan. Demikianlah Kakawin Bharatayudha itu menurut anggapan adalah sastra ruwat.
(Qur'anul Hidayat)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.