Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Mengenal 7 Pahlawan Revolusi yang Gugur Dalam Peristiwa G30SPKI

Edgar Ibrania Nicolas , Jurnalis-Selasa, 26 September 2023 |12:51 WIB
Mengenal 7 Pahlawan Revolusi yang Gugur Dalam Peristiwa G30SPKI
Mengenal 7 Pahlawan Revolusi yang Gugur saat G30SPKI/Foto: Okezone
A
A
A

 

JAKARTA – Mengenal 7 pahlawan revolusi yang gugur dalam peristiwa G30SPKI, akan dibahas lengkap dalam artikel ini.

Peristiwa G30SPKI adalah salah satu peristiwa paling tragis dalam sejarah Indonesia yang meninggalkan luka yang mendalam bagi masyarakat dan dunia militer Indonesia. Peristiwa ini juga memengaruhi dinamika politik Indonesia hingga saat ini.

Enam perwira tinggi dan satu perwira pertama harus menjadi korban penculikan dan pembunuhan dalam peristiwa pemberontakan ini. Karena itu, mereka diberi gelar Anumetra (berjasa kepada negara setelah meninggal dunia) sebagai pahlawan revolusi.

Berikut ini tujuh pahlawan revolusi yang gugur dalam peristiwa G30SPKI.

1. Jenderal Ahmad Yani

Ahmad Yani lahir di Jenar, Purworejo, Keresidenan Kedu pada tanggal 19 Juni 1922 dari keluarga Wongsoredjo. Dia mengawali karier militer sebagai anggota PETA, dan banyak berkontribusi dalam kemerdekaan Indonesia seperti Revolusi Nasional Indonesia, Pertempuran Ambarawa, Pemberontakan PKI 1948, Serangan Umum 1 Maret, Pemberontakan Darul Islam, Pemberontakan Permesta, Operasi Trikora, Konfrontasi Indonesia–Malaysia.

Jenderal Ahmad Yani, dibunuh dikediamannya di Jalan Latuhahary No. 6 di pinggiran Jakarta Menteng, Jakarta Pusat, karena Yani menampar salah satu massa PKI yang ingin menculiknya.

 BACA JUGA:

2. Letnan Jenderal R.Soeprapto

Suprapto yang lahir di Purwokerto, 20 Juni 1920, dia mengawali karier militer dengan bergabung menjadi TKR di purwokerto. Dia sempat menjadi ajudan Panglima Besar Sudirman, sampai setelah pemberontakan PRRI, Soeprapto diangkat menjadi Deputi Kepala Staf Angkatan Darat untuk wilayah Sumatera.

3. Letnan Jenderal Mas Tirtodarmo Haryono

M.T Haryono lahir di Surabaya, 20 Januari 1924, mengawali karier sebagai TKR, dan sering mendapat tugas menjadi Sekretaris Delegasi Militer Indonesia

Haryono dibunuh oleh prajurit PKI di kediamannya di Jalan Prambanan No 8. Setelah berusaha melindungi istri dan anak-anaknya, dia mencoba merebut senjata dari tangan penyerang tetapi gagal. Dia ditembak mati saat berusaha lari keluar.

4. Letnan Jenderal Siswondo Parman

Parman lahir pada 4 Agustus 1918 di Wonosobo, Jawa Tengah. Dia juga mengawali karier militer sebagai TKR, dan berhasil menduduki sejumlah jabatan di Polisi Militer Nasional. Sampai tanggal 28 Juni 1965 dia diangkat menjadi asisten pertama dengan tanggung jawab untuk intelijen untuk Kepala Staf Angkatan Darat Letnan Jenderal Ahmad Yani.

Parman dijemput dikediaman oleh prajurit PKI, dan dibawa ke basis gerakan di Lubang Buaya, untuk diintrogasi dan ditembak mati.

5. Mayor Jenderal Donald Isaac Pandjaitan

Pandjaitan lahir di Balige, Tapanuli, 19 Juni 1925, mengawali militer sebagai anggota Gyugun di Pekanbaru, Riau, hingga pada puncaknya menjabat sebagai Asisten IV Menteri / Panglima Angkatan Darat. Beliau banyak berkontribusi dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia, seperti menjadi Pimpinan Perbekalan Perjuangan Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) saat Agresi Belanda II.

Pandjaitan gugur, setelah ditembak di kepala saat sedang berdoa dirumahnya oleh pasukan PKI.

6. Mayor Jenderal Sutoyo Siswomiharjo

 

Sutoyo lahir di Kebumen, Keresidenan Kedu pada 28 Agustus 1922. Sutoyo mengawali militer setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia sebagai TKR, dan karena pengalaman hukumnya, dia diangkat menjadi inspektur kehakiman/jaksa militer utama.

Sutoyo diculik dari kediamannya di Jalan Sumenep, Menteng, Jakarta Pusat, lalu dibawa ke markas lubang buaya, dan dibunuh seperti rekan-rekannya.

7. Kapten Czi. Pierre Andries Tendean

 

Pierre lahir pada tanggal 21 Februari 1939 di Jakarta, dan memulai karier militer sebagai prajurit taruna pada 1959. Pierre banyak berkontribusi dalam operasi penumpasan PRRI dan operasi Dwikora. Pada 1965, Pierre diangkat menjadi ajudan Jendral Besar A.H Nasution.

Pierre gugur, karena dia dikira adalah Jendral A.H Nasution, dia diculik dan dibunuh di markas pasukan cakrabirawa, Lubang Buaya.

(Fahmi Firdaus )

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement