JAKARTA- Sosok DN Aidit tidak bisa lepas dari peristiwa G30S PKI. DN Aidit adalah pemimpin PKI sekaligus dalang dari tragedi G30S PKI yang memakan korban enam jenderal dan satu perwira TNI.
DN Aidit menjadi orang yang paling dicari usai peristiwa subuh berdarah tersebut. Untuk menemukan DN Aidit, TNI AD melakukan operasi intelejen yang dipimpin oleh Kolonel Yasir Hadibroto yang sedang menduduki jabatan sebagai Komandan Brigade Infantri IV Kostrad.
Setelah melakukan operasi intelijen akhirnya tiga minggu kemudian tim intelijen Brigif berhasil melacak posisi DN Aidit. Pada 21 November 1965 diketahui bahwa tempat persembunyian Aidit yang pada mulanya di Kletjo berpindah hingga ke Kampung Sambeng.
DN Aidit ditangkap pada 22 November 1965 di sebuah kampung yang terletak tidak jauh dari stasiun Balapan Solo tepatnya di Desa Sambeng, Mangkubumen,Banjarsari. Warga kampung Sambeng tidak ada yang mengetahui bahwa kampungnya menjadi tempat persembunyian seorang pemimpin PKI.
DN Aidit ditemukan di rumah warga yang bernama Kasim di Kampung Sambeng. Sebelum bersembunyi di rumah Kasim, Aidit sempat bersembunyi di beberapa tempat. Namun sayangnya di rumah Kasim ia di jemput paksa oleh pasukan tentara Kolonel Yasir Hadibroto.
Setelah berhasil tertangkap, DN Aidit diinterogasi dan dibawa ke Markas Batalyon 444 Boyolali. Sesuai perintah Soeharto, Kolonel Yasir memerintahkan anak buahnya untuk mencari sumur tua. Setelah menemukan sumur tua yang diminta oleh Soeharto, Aidit dibawa oleh sejumlah pasukan tembak ke tempat itu.
Namun, sebelum Aidit dieksekusi mati pada 23 November 1965, Yasir mempersilahkan Aidit untuk mengatakan kata-kata terakhirnya. Kesempatan tersebut Aidit gunakan untuk menyampaikan pidato yang membuat tentara marah ketika mendengarnya.
Emosi dari para prajurit TNI AD tidak bisa dikendalikan lagi hingga akhirnya senjata mereka menyalak dan menembak mati DN Aidit. Tidak lama kemudian, Aidit terjungkal masuk ke sumur.
(Fahmi Firdaus )