Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Kerajaan Majapahit Bergejolak Usai Raja Raden Wijaya Mangkat

Avirista Midaada , Jurnalis-Jum'at, 13 Oktober 2023 |11:40 WIB
 Kerajaan Majapahit Bergejolak Usai Raja Raden Wijaya Mangkat
Raja Majapahit, Raden Wijaya (foto: dok wikipedia)
A
A
A

PERGOLAKAN internal terjadi sepeninggal Raden Wijaya, pendiri dan raja pertama Kerajaan Majapahit. Persoalannya saat itu Raden Wijaya hanya memiliki satu anak laki-laki dari Dyah Petak, yang dianggap sebagai selir.

Raden Wijaya sendiri wafat pada 1231 saka atau 1309 Masehi dengan meninggalkan lima orang istri dan tiga orang anak, terdiri dari satu anak laki-laki yakni Jayanagara, dan dua anak perempuan Tribhuwana Tunggadewi dan Dyah Wiyah Rajadewi.

Alhasil ketika Raden Wijaya mangkat, tahta kerajaan jatuh pada Jayanagara yang merupakan anak laki-laki dari Raden Wijaya. Petaka awal pun muncul karena kecemburuan pejabat Kerajaan Majapahit lainnya yang tak memberikan tahta kepadanya.

Ketidakpuasan para pendukung Wangsa Rajasa terutama teman-teman seperjuangan Kertarajasa Jayawardhana atau Raden Wijaya pun muncul. Sebagaimana dikisahkan pada buku "Arya Wiraraja dan Lamajang Tigang Juru : Menafsir Ulang Sejarah Majapahit Timur" dari Mansur Hidayat", sejumlah pejabat Majapahit mengajukan protes dan ketidakpuasan pengangkatan Jayanagara sebagai raja selanjutnya Majapahit.

Mahapatih Nambi yang merupakan seorang teman setia Raden Wijaya yang bersama-sama melewati pahit manisnya mendirikan Kerajaan Majapahit tak menyukai pengangkatan ini. Sikap mahapatih ini juga didukung oleh teman-teman seperjuangannya yang merupakan para pejabat istana Majapahit.

Para pejabat Majapahit di masa Raden Wijaya seperti Pamandana, Mahesa Pawagal, Panji Anengah, Panji Samara, Panji Wiranagari, Jaran Bangkal, Jangkung, Teguh, dan Emban. Belum lagi ada tujuh dharmaputra atau pangalasan wineh suka yang merupakan pegawai tinggi yang sangat diistimewakan di masa Raja Raden Wijaya, juga merasa kurang menyukai pengangkatan ini.

Pergantian tahta di Majapahit ini merupakan puncak gunung es dari pergulatan politik antar wangsa pada waktu itu. Kuatnya kedudukan Sri Parameswari Dyah Dewi Tribhuwaneswari yang merupakan putri sulung Raja Kertanegara maupun keturunannya untuk menjadi Rani Majapahit, atau mewakili putranya yang merupakan hasil pernikahan dengan raja Kertarajasa Jayawardhana.

Legitimasi kuat begitu terlihat di awal masa pemerintahan Raden Wijaya, tak heran jika akhirnya kian memperkuat legitimasinya dengan menikahi empat putri raja Kertanegara, raja terakhir Kerajaan Singasari. Raden Wijaya berusaha memperkuat kekuatan politiknya dan menahbiskan Wangsa Rajasa, mengalahkan Wangsa Sinelir.

Konon pertentangan antara dua wangsa ini telah berlangsung lama dan terkadang diwarnai insiden berdarah, sehingga kedua belah pihak saling memperkuat kedudukannya masing-masing. Pertentangan politik antar wangsa ini membuat pergantian tahta Majapahit memanas dan diwarnai peperangan yang memakan korban jiwa.

Hal ini dikarenakan ibu Jayanagara yakni Sri Parameswari Dyah Dewi Tribhuwaneswari juga merupakan bekas istri Nararya Ardharaja, yang merupakan saingan berat Raden Wijaya maupun trah Wangsa Rajasa. Sebab itulah pelantikan Jayanagara sebagai raja Majapahit mendapat pertentangan dari berbagai pihak, meski berstatus putra dari Raden Wijaya.

(Awaludin)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement