JAKARTA- Profil Idjon Djanbi, Komandan Kopassus pertama eks Tentara Belanda akan dibahas lengkap dalam artikel ini
Pasukan elite TNI Angkatan Darat ini didirikan oleh seorang bule Belanda, yaitu Mochammad Idjon Djanbi.
Dikutip dari buku Kopassus untuk Indonesia karya Ivan Santosa dan E.A. Natanegara, Rabu, (25/10/2023), nama asli Idjon adalah Roger Barendrecht “Rokus” Visser. Ia lahir pada 13 Mei 1914 di Boskoop, Sud Holland, sebagai anak dari seorang petani bunga tulip.
Sebagai seorang anak laki-laki, Idjon bercita-cita untuk menjadi seorang ahli Agraria. Untuk mewujudkan cita-citanya tersebut, Idjon mengambil kursus Agraria di Liverpool, Inggris, untuk memperdalam ilmunya.
Pada bulan September 1939, saat Idjon berada di Inggris, Perang Dunia II pecah. Ijon terpaksa kembali ke tanah airnya, Belanda.
Idjon yang saat itu berusia 25 tahun, dipanggil oleh tentara pada bulan Mei 1940 untuk membela tanah airnya melawan invasi Jerman.
Di sana ia membelot ke Inggris dan bergabung dengan Angkatan Darat Belanda. Ia menjalani tugas pertamanya sebagai sopir Ratu Wilhelmina, dan kemudian bertugas secara sukarela di Pasukan Sekutu.
Idjon kemudian mengundurkan diri dari tugas ini pada tahun 1941 dan bergabung dengan unit tempur Angkatan Darat Belanda yang disebut Brigade Princess Irene.
Pada tanggal 22 Maret 1942, Idjon secara sukarela pergi ke sebuah lokasi rahasia di Achnacarry, Skotlandia, untuk menjalani pelatihan Komando yang oleh Perdana Menteri Inggris Winston Churchill disebut sebagai 'Pasukan Siluman Sekutu', dan Idjon berhasil lulus.
Kemampuannya sebagai pasukan elit Komando menghasilkan catatan yang terhormat di medan perang. Salah satunya adalah ketika ia ikut mengemudikan serangan udara untuk merebut jembatan strategis dari Belanda Utara ke perbatasan Jerman dalam Operasi Market Garden.
Selama Perang Dunia II antara tahun 1944 dan 1946, pasukan Sekutu yang dipimpin Amerika Serikat mendirikan pangkalan di kota Hollandia yang saat ini bernama Jayapura.
Termasuk di dalamnya markas Jenderal MacArthur di Ifar Gunung. Pada tahun 1947, Idjon pindah ke Bandung, Jawa Barat. Hal ini dikarenakan sekolah para-para tempat ia dilatih pindah ke Batu Jajar yang sekarang menjadi Pusdiklatpassus.
Ia kemudian memilih untuk keluar dari militer dan menetap di Lembang, Bandung. Pada suatu hari di tahun 1951, seorang perwira muda dari Markas Besar Angkatan Darat, Letnan Dua Aloysius Sugianto, datang ke rumah Idjon.
Pada pertemuan ini, Idjon diminta untuk melatih pasukan komando di pendidikan Combat Intelligent Course (CIC) II di Bogor, yang sekarang menjadi bagian dari Pusat Pendidikan Intel di bawah Badan Intelijen Strategis (Bais) TNI.
Pada kesempatan lain, nama Idjon kembali muncul ketika Kolonel AE Kawilarang, yang saat itu menjabat sebagai Panglima Tentara dan Teritorium III/Siliwangi, kini menjadi Kodam III/Siliwangi, mengutarakan niatnya untuk membentuk satuan pasukan khusus yang dianggapnya sangat dibutuhkan.
Kawilarang kemudian menelepon ajudannya, Sugianto, yang kemudian menghubungi Idjon kembali. Selanjutnya, pada tanggal 1 April 1952, melalui Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Menteri Pertahanan RI, Idjon diangkat menjadi Mayor Infanteri Angkatan Darat dengan NRP 17665 dengan tugas mendidik kader perwira dan bintara calon pasukan khusus di Batujajar.
Sejak 16 April 1952, unit pasukan khusus diorganisir di bawah komando Idjon dengan nama Komando Teritorial Angkatan Darat III/Siliwangi atau Kesko III. Setahun kemudian, unit ini ditempatkan di bawah Markas Besar Angkatan Darat.
Pada tanggal 14 Januari 1953, Kesko III berganti nama menjadi Kesatuan Komando Angkatan Darat (KKAD). Pada tahun 1956, ketika KKAD berganti nama menjadi RPKAD, latihan penerjunan pertama dilakukan di Pangkalan Udara Margahayu, Bandung.
Dalam perjalanannya, Markas Besar Angkatan Darat memberi Idjon posisi baru yang jauh dari pelatihan komando, yaitu koordinator staf pendidikan Inspektorat Pendidikan dan Pelatihan (Kobangdiklat).
Namun, ia memilih mengundurkan diri dan diberhentikan pada tahun 1957. Pada tahun 1968, bertepatan dengan ulang tahun ke-16 Puspassus AD, pangkatnya dinaikkan menjadi Letnan Kolonel.
Idjon meninggal dunia pada tanggal 1 April 1977 di Rumah Sakit Panti Rapih. Atas kontribusinya yang luar biasa terhadap pasukan elit Angkatan Darat, namanya dijuluki sebagai 'Bapak Kopassus'.
(Fahmi Firdaus )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.