Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Sikap Kesultanan Demak untuk Penduduk Tionghoa Semarang, Tak Paksa Peluk Islam

Nanda Aria , Jurnalis-Kamis, 26 Oktober 2023 |07:14 WIB
Sikap Kesultanan Demak untuk Penduduk Tionghoa Semarang, Tak Paksa Peluk Islam
Raden Patah/Foto: Ist
A
A
A

 

JAKARTA - Kesultanan Demak dan Raden Patah dikisahkan pernah menyerang Semarang pada tahun 1477. Penyerbuan Kesultanan ini sebagai upaya memperluas daerah kekuasaan dan menyebarluaskan pengaruh agama Islam di utara pesisir Jawa.

Saat itu hampir seluruh Kota Semarang diduduki pasukan Raden Patah dengan nama lengkap Senapati Jimbun. Namun, ada satu lokasi yang sengaja tidak diduduki oleh pasukan Demak yakni kelenteng Sam Po Kong.

 BACA JUGA:

Bahkan, Jimbun atau Raden Patah tidak mengambil tindakan kejam terhadap orang-orang Tionghoa yang beda keyakinan dengannya yang memeluk Islam. Di sisi lain Senapati Jimbun alias Raden Patah merupakan keturunan Tionghoa.

Dikutip dari buku "Runtuhnya Kerajaan Hindu Jawa dan Timbulnya Negara - Negara Islam di Nusantara" tulisan Slamet Muljana, Raden Patah tidak melakukan tindakan penganiayaan terhadap mereka yang berbeda agama dan belum memeluk agama Islam. Bahkan, tak ada paksaan apapun untuk memeluk agama Islam dari Raden Patah.

 BACA JUGA:

Mereka semuanya akhirnya dimanfaatkan oleh Raden Patah di beberapa bidang, termasuk bidang pembuatan kapal yang terkenal mahir. Orang-orang Tionghoa di Semarang terkenal sangat mahir melakukan pembuatan kapal.

Kepandaian mereka diperlukan oleh Jimbun untuk memperbesar armada perkapalan di Kota Semarang, yang letaknya sangat strategis. Dengan kapal-kapal buatan orang-orang Tionghoa di Semarang itu, Jimbun akan menguasai lalu lintas kapal di lautan Jawa.

Raden Patah membiarkan kelompok- kelompok itu hidup. Namun, ia juga mengupayakan agar mereka bisa memeluk agama Islam. Jimbun atau Raden Patah menghendaki simpati para penduduk di wilayah Demak dan Semarang untuk memperluas kekuasaannya di kemudian hari. Sikap itu memang sikap yang bijaksana dari seorang pemimpin yang sedang berumur 22 tahun.

Penyerbuan Demak ke Kota Semarang oleh Demak pada tahun 1477 menurut Slamet Muljana, memang tidak pernah diberitakan dalam Babad Tanah Jawi dan Serat Kanda. Babad Tanah Jawi hanya menceritakan bahwa pada tahun 1477, Prabu Brawijaya memanggil Patih Gajah Mada dan menanyakan apakah Demak akan memberontak.

Tidak dijelaskan, dalam hubungannya apa pertanyaan itu dikemukakan, patih Gajah Mada memberikan keterangan tentang pembukaan hutan Bintara di wilayah Demak oleh pendatang baru. Untuk memperoleh keterangan yang lebih jelas, Raden Kusen dipanggil. Raden Kusen menceritakan bahwa pendatang baru yang membuka hutan Bintara adalah saudaranya bernama Raden Patah.

Raden Kusen diutus ke Demak untuk membawa Raden Patah ke Majapahit. Perintah ini dilaksanakan oleh Raden Patah ke Majapahit. Perintah ini dilaksanakan oleh Raden Kusen, sampai di Sripenganti, Raden Patah bertemu dengan sang Prabu Brawijaya.

Di Babad Tanah Jawi itu dikisahkan bagaimana Prabu Brawijaya mengaca dan melihat bahwa rupanya mirip dengan Raden Patah. Raden Patah diaku sebagai putranya dan diberi pengukuhan atas daerah baru bernama Bintara, ia pun diangkat menjadi adipati Bintara.

(Nanda Aria)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement