Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Benarkah Soeharto Dua Kali Ingin Mundur dari TNI AD Sebelum Menjabat Presiden 32 Tahun?

Edgar Ibrania Nicolas , Jurnalis-Kamis, 02 November 2023 |16:36 WIB
Benarkah Soeharto Dua Kali Ingin Mundur dari TNI AD Sebelum Menjabat Presiden 32 Tahun?
Soeharto/Foto: Istimewa
A
A
A

 

JAKARTA – Sebelum menjadi Presiden Indonesia ke-2, Soeharto dikenal menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) dan Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban yang menumpas Gerakan 30 September 1965.

Tapi siapa sangka, sebelumnya Soeharto sempat memiliki niatan untuk mundur dari dunia TNI dua kali. Berikut pembahasannya.

 BACA JUGA:

Pada akhir tahun 1950-an karir kemiliteran Soeharto nyaris berakhir dengan pangkat kolonel dengan jabatan sebagai Panglima Komando Daerah Militer (Kodam) Diponegoro/Jawa Tengah.

Niatan pengunduran ini terbesit setelah Markas Besar TNI AD (Mabesad), menurunkan Inspektur Jenderal TNI AD ke Kodam IV/Diponegoro, yang akan menyelidiki kasus penyelewengan yang dilakukan Kolonel Soeharto sebagai Pangdam.

 BACA JUGA:

Mayjen Pranoto Reksosamodra dalam memoarnya berjudul "Catatan Jenderal Pranoto Reksosamodra", menuliskan bahwa Soeharto berniat mundur setelah hasil penyeledikan menerangkan bahwa Soeharto terlibat kasus penyelewangan.

Diketahui bahwa Soeharto melakukan penyelewengan berupa barter liar, monopoli cengkeh dari asosiasi pabrik-pabrik rokok kretek Jawa Tengah (PPRK), lalu penjualan besi tua yang disponsori oleh orang-orang Tionghoa bernama Liem Sio Liong, Oei Tek Young, dan Bob Hasan. Karena terbongkarnya kasus ini, timbul niat "The Smiling General" mengundurkan diri dari Dinas Angkatan Darat.

Setelah kasus terbongkar, Soeharto dipindah tugaskan menjadi tenaga pengajar di Seskoad, Bandung, Jawa Barat. Dan setelah beberapa waktu, namanya kembali mencuat sebagai Panglima Komando Mandala Pembebasan Irian Barat serta kenaikan pangkat menjadi Mayor Jendral.

Walaupun karirnya mulai mencuat, tetapi Presiden Soekarno tidak percaya sepenuhnya dengan kemampuan Soeharto, karena itu Soekarno lebih memilih Mayjen Ahmad Yani sebagai Panglima Angkatan Darat menggantikan Jenderal A.H. Nasution sekitar tahun 1964, walaupun Mayjen Ahmad Yani adalah junior dari Soeharto sendiri.

Dan setelah itu pun, Soeharto harus kembali kalah dengan juniornya Marsekal Madya Omar Dani yang dipilih oleh Bung Karno sebagai Panglima Komando Laga Siaga (Kolaga).

 BACA JUGA:

Menurut Jusuf Wanandi dalam memoarnya, Soeharto memutuskan akan berhenti dari tentara karena kecewa tidak diangkat menjadi Panglima Komando Mandala Siaga (Kolaga) dalam rangka Operasi Dwikora ganyang Malaysia. Jabatan tersebut diberikan Soekarno kepada Laksamana Madya Udara Omar Dani, Panglima Angkatan Udara yang jauh lebih junior dari dirinya.

"Dia menulis surat pengunduran dirinya dari Angkatan Darat pada bulan Mei (1965), tapi diintersep oleh Letnan Kolonel Sudjono Hoemardani hingga tidak sampai ke tangan Nasution," tulis Wanandi.

 BACA JUGA:

Walaupun dua kali gagal mundur dari militer, tetapi tahun 1965 akhirnya membawa masa berkah bagi Soeharto, di mana semakin gencarnya PKI dan harmonisnya hubungan PKI-Soekarno, serta meletusnya Gerakan 30 S/PKI yang mengakibatkan tewasnya jenderal petinggi Angkatan Darat, termasuk A. Yani.

Dengan kekacauan yang terjadi itu, sudah cukup membuat jalan Soeharto menuju puncak kekuasaan, hal ini dengan dikeluarkan Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) yang juga sebagai penanda peralihan kekuasaan dari Soekarno ke Orde Baru yang dipimpin Soeharto.

(Nanda Aria)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement