Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Profil Ida Dewi Agung Jambe, Pahlawan dari Bali yang Perang Lawan Belanda hingga Titik Darah Penghabisan

Bertold Ananda , Jurnalis-Kamis, 09 November 2023 |11:29 WIB
Profil Ida Dewi Agung Jambe, Pahlawan dari Bali yang Perang Lawan Belanda hingga Titik Darah Penghabisan
Ilustrasi Ida Dewi Agung Jambe ( Foto: Youtube)
A
A
A

JAKARTA- Mengulik profil Almarhum Ida Dewi Agung Jambe yang akan mendapatkan gelar pahlawan nasional pada 10 November mendatang. Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Mahfud MD mengatakan esiden Jokowi akan menganugerahkan gelar pahlawan nasional itu kepada enam orang pejuang yang telah memenuhi syarat.

Salah satunya adalah Ida Dewi Agung Jambe yang berasal dari Bali yang memiliki jasa untuk bangsa Indonesia.

"Syarat-syaratnya banyak lah, misalkan sudah wafat, sudah berjuang, tidak pernah berkhianat, itu syarat umum. Tapi syarat umum atau syarat khusus ditetapkan sepenuhnya oleh presiden. Jadi presiden yang menganugerahkan gelar pahlawan nasional itu," katanya.

Berikut profil Almarhum Ida Dewi Agung Jambe:

Dia merupakan pendiri Kerajaan Klungkung pada tahun 1686 dan merupakan penerus dinasti Kerajaan Gelgel. Dahulunya kerajaan Gelgel merupakan pusat kerajaan di Bali dan pernah mengalami masa keemasan pada masa kepemimpinan Dalem Watu Renggong.

Selain itu dia anak dari raja Kerajaan Gelgel sebelumnya, Dalem Di Made yang memindahkan puri kerajaan ke Klungkung. Proses ini menyebabkan pembagian permanen Pulau Bali menjadi beberapa kerajaan kecil pada abad ke-17 Masehi.

Saat perang puputan, Raja Klungkung, Ida Dewa Agung Jambe gugur bersama para pengikutnya saat bertempur melawan penjajah Belanda pada 28 April 1908.

Peristiwa itu dikenal sebagai Hari Puputan Klungkung dan menjadi hari ulang tahun (HUT) Kota Semarapura.

Puputan adalah perang habis-habisan, tetapi bukan bertujuan untuk menang, melainkan untuk menyambut kematian di hadapan musuh sampai habis tak bersisa. Perang ini biasanya diikuti oleh semua rakyat kerajaan tanpa terkecuali.

Sejarah mencatat bahwa di Bali terjadi lima kali perang puputan, salah satunya Puputan Klungkung. Pada masa pemerintahan Raja Klungkung, Ida I Dewa Agung Gede Jambe, terjadi peristiwa menggemparkan di Kerajaan Klungkung pada tanggal 28 April 1908.

Permaisuri dan putra mahkota gugur di medan laga. Mengetahui hal tersebut tidak membuat Dewa Agung Jambe takut, justru semakin bulat memutuskan berperang sampai titik darah penghabisan.

Dewa Agung Jambe keluar diiringi seluruh keluarga istana dan prajurit yang setia maju menghadapi Belanda dengan gagah berani. Karena persenjataan yang tidak imbang, mereka pun gugur dalam berondongan peluru Belanda.

(RIN)

(Rani Hardjanti)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement