KALIBARU, merupakan salah satu wilayah kelurahan yang terletak di Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara. Menjadi salah satu wilayah vital, karena berperan sebagai pengendali banjir dan perbaikan Sungai Ciliwung dan Cisadane. Wilayah Kalibaru rupanya memiliki sejarah yang tercatat penting sejak zaman Belanda.
Pada abad ke-18 di masa Kolonialisme Belanda, kala itu jalur sungai Ciliwung hingga Kalibaru merupakan sebuah kanal yang dibangun untuk dijadikan sebuah jalur pengangkutan hasil panen dari Bogor sampai ke Batavia.
Selain itu pada masa lalu, wilayah Kalibaru juga sempat dijadikan sebagai sebuah kawasan yang memiliki koneksi dengan aktivitas para nelayan di Pelabuhan Tanjung Priok.
Pelabuhan ini mulai ramai sejak tahun 1960, dimana wilayah Kalibaru dijadikan sebagai pelabuhan ikan yang merupakan pindahan dari pelabuhan ikan Kali Kresek Lahoa yang ditutup pada tahun 1967.
Kemudian di tahun 1969, akhirnya pelabuhan Kalibaru ditetapkan sebagai pelabuhan khusus untuk bersandarnya kapal motor nelayan untuk membantu Pelabuhan Sunda Kelapa. Keputusan tersebut dibuat langsung oleh Ali Sadikin yang kala itu menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta.
Beberapa kegiatan khusus yang biasa dilakukan di Pelabuhan Kalibaru meliputi, pendaratan kapal, pelelangan, bongkar muat ikan, dan pemasaran ikan. Saat ini daerah Kalibaru telah di bagi menjadi 2 wilayah, yaitu Kalibaru Timur dan Kalibaru Barat.
Salah satu hal yang membuat Pelabuhan Kalibaru terkenal adalah penggunaan pukat harimau atau (trawl), pelabuhan tersebut memiliki aktivitas yang cukup ramai karena berdekatan dengan Pelabuhan Kayu dan pengembangan Pelabuhan Tanjung Priok.
Namun, pada tahun 1977 terdapat sebuah pembaharuan terhadap SK Gubernur DKI No.268/1977, dibuat sebuah larangan penggunaan pukat harimau oleh perahu nelayan.
Aktivitas nelayan di Pelabuhan Kalibaru setidaknya telah berlangsung selama 11 tahun, hingga pada tahun 1988 seluruh aktivitas pelabuhan ditutup, dan dipindahkan ke Pelabuhan Muara Angke.
Sejak saat itu, Pelabuhan Kalibaru dilakukan pengembangan dengan tersedianya prasarana khusus untuk bongkar muat kayu di Jakarta, dan keberadaanya ditangani langsung oleh manajemen Ditjen Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan RI.
Berdasarkan sejarah dari penamaan Kalibaru, nama tersebut tercetus berdasarkan penamaan pelabuhan ikan yang dahulu pernah beroperasi di wilayah tersebut.
Hingga kini, walaupun aktivitas Pelabuhan Kalibaru sudah tidak seramai dulu, namun wilayah ini masih memegang peran vital jika berkaitan dengan aktivitas nelayan di wilayah Pelabuhan Tanjung Priok. Demikian sejarah singkat dan asal usul dari wilayah Kalibaru.
(Awaludin)