Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Mengenal Asal Usul Wangsa Isyana, Trah Penerus Raja Mataram di Jawa Timur

Avirista Midaada , Jurnalis-Jum'at, 12 Januari 2024 |06:59 WIB
Mengenal Asal Usul Wangsa Isyana, Trah Penerus Raja Mataram di Jawa Timur
Ilustrasi (Foto: Dok. Okezone)
A
A
A

WANGSA Isyana menjadi salah satu trah raja-raja besar di nusantara. Sosok yang paling disegani dan dikenal tentunya adalah Airlangga yang bertahta di Kerajaan Kahuripan, yang melanjutkan masa Kerajaan Mataram Kuno era Jawa Tengah, tapi dipindah ke Pulau Jawa bagian timur.

Asal kata Wangsa Isyana ini dapat dijumpai dalam Prasasti Pucangan, di masa pemerintahan Airlangga. Memang prasasti berbahasa sansekerta ini dikeluarkan oleh Raja Airlangga, pada tahun 963 Saka atau sama dengan 1041 M. Bagian yang berbahasa Sanskerta itu mulai dengan penghormatan kepada Brahma, Wişnu, dan Siwa, yang disusul dengan penghormatan kepada raja Airlangga.

Selanjutnya dimuat silsilah Raja Airlangga, mulai dari raja Sri Isänatungga atau Pu Sindok. Sri Isänatungga mempunyai anak perempuan, bernama Sri Isānatunggawijaya, yang menikah dengan Sri Lokapāla, dan mempunyai anak bernama Sri Makutawangsawarddhana, yang di dalam bait ke-9 sengaja disebut keturunan wangsa Isyana.

Dikutip dari "Sejarah Nasional Indonesia II : Zaman Kuno" dapat dilihat dari silsilah tersebut pendiri wangsa ini yakni Pu Sindok atau Mpu Sindok, yang bergelar Sri Sri Isānawikramma Dharmmotunggadewa. Mengingat kedudukannya di dalam masa pemerintahan Rakai Layang Dyah Tlodhong dan Rakai Sumba Dyah Wawa, yaitu berturut-turut sebagai rakryān mapatih i halu dan rakryan mapatih i hino, yang biasanya hanya dapat dijabat oleh kaum kerabat raja yang dekat, padahal ia masih anggota wangsa Sailendra.

Akan tetapi, karena kerajaan Mataram di Jawa Tengah mengalami kehancuran karena letusan Gunung Merapi yang maha dahsyat, sehingga dalam anggapan para pujangga hal itu dianggap sebagai pralaya atau kehancuran dunia pada akhir masa Kaliyuga, sesuai dengan landasan kosmogonis kerajaan-kerajaan kuno haruslah dibangun kerajaan baru dengan wangsa yang baru pula.

Oleh karena itu, Pu Sindok, yang membangun kembali kerajaan di Jawa Timur, dianggap sebagai cikal bakal wangsa baru, yaitu wangsa Isyana. Kerajaan baru itu konon masih memiliki nama Mataram, sebagaimana dari peninggalan Prasasti Paradah tahun 865 Saka atau 943 M dan Prasasti Añjukladang tahun 859 Šaka atau sama dengan 937 M.

Ibu kotanya yang pertama adalah Tamwlang. Nama ini terdapat pada akhir Prasasti Turyyān tahun 851 Saka atau sama dengan 929 M. Letak Tamwlang sendiri hingga kini hanya ditemui di dalam Prasasti Turyyan itu saja, mungkin di dekat Jombang sekarang, di sana masih ada Desa Tambelang.

Pu Sindok sekurang-kurangnya memerintah sejak tahun 929 M sampai dengan 948 M. Dari masa pemerintahannya didapatkan sekitar 20 prasasti yang sebagian besar tertulis di atas batu. Tapi peneliti Belanda C.C. Berg menyebut semua prasasti atas nama raja Mpu Sindok itu adalah prasasti palsu, yang dibuat oleh para pujangga raja Dharmmawangsa Airlangga.

Sebab, raja ini memerlukan pengesahan (legitimasi) dengan menciptakan leluhur (wangsakara). Untuk itu para pujangga memilih nama seorang pejabat tinggi dalam zaman Mataram sewaktu masih berpusat di Jawa Tengah, yaitu Mpu Sindok. Silsilah raja Dharmmawangsa Airlangga kemudian diumumkan di dalam Prasasti Pucangan.

(Khafid Mardiyansyah)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement